Call Me Isha

Call Me Isha
49. (Bukan) Cinderella



"Arga!"


Bergegas mengejar langkah Arga yang aku lakukan, saat di halaman Sekolah tidak sengaja melihat siluet tubuhnya terjangkau.


"Arga tunggu!"


Dengan nafas yang masih memburu, aku merentangkan kedua tangan di hadapan Arga yang menatapku tidak tertarik.


"Arga, a-aku minta maaf, kita balikan ya?"


Decakkan terdengar. "Udah? Sekarang minggir!"


Tubuh kecilku dihempas begitu saja namun, aku tak akan menyerah meski harus menjadi tontonan gratis bagi beberapa murid.


Aku mencekal tangan Arga guna menghentikan langkahnya. "Ga aku nyesel."


Melalui ekor mata, Arga melirik tanganku yang menyentuhnya lalu tanpa kata di menyentak keras.


Wajah angkuh Arga terasa mendekat hingga membuat aku mundur teratur hingga tersudut pada tiang penyangga.


Aku mendongak untuk melihat wajah Arga yang sangat dekat denganku.


"Maaf,"


"Muka lo tebel banget ya sampai masih berani ngejar gue."


"Arga?" Mataku sudah berkaca.


"Tetep diam diposisi lo dan jangan mencoba melewati batasan kalau lo masih ingin hidup aman!" ancamnya.


Dada ini naik turun karena tangis tanpa suara yang aku keluarkan.


"Seperti kisah Cinderella yang berubah di jam dua belas, seperti itu juga kisah lo berakhir."


Jari telunjuk Arga menyentuh beberapa kali keningku. "Ingat itu Cupu!"


Sesenggukan masih terasa meski lelaki itu sudah menghilang, masuk ke dalam gedung kelas sebelas.


           Dari sekian banyak pelajaran, olahraga adalah pelajaran yang paling tidak aku sukai selain Fisika. Belum lagi saat mengingat akan kondisi hatiku.


"Woy kalau engga niat olahraga jangan berdiri kayak patung lo!"


Teriakkan itu membuyarkan lamunanku dan memilih menyingkir ke pinggir lapangan.


"Awas!"


Seiring dengan teriakan itu, sebuah bola tanpa aku duga menghantam kepala hingga membuat tubuh oleng dan terjatuh.


Meski pandanganku sedikit buram karena kacamataku terjatuh, dapat aku dengar gelak tawa yang mengudara.


Memanfaatkan kejadian barusan, aku menuju ruang kesehatan untuk menghindari kontak dengan Arga.


"Lo udah sadar?"


Suara seorang perempuan menyapa, aku yang tadinya sedang berbaring nyaman seketika terbangun.


"A-aku engga pingsan, cuma sedikit pusing."


Kepalaku menunduk saat tahu orang yang kini berdiri di samping tubuh, bagaimana aku tidak gerogi saat mantan dari Arga yang kini menanyai kondisi.


"Ini! Gue buatin teh, siapa tahu setelah itu lo baikkan."


"Minum aja, engga usaha tegang gitu. Gue juga engga bakal gigit," candanya, mencoba mencairkan suasana.


Untuk menghormati kebaikannya, tanpa berprasangka tehnya telah diracun aku meminum dengan sedikit gugup.


"Omong-omong lo Isha anak MIPA dua 'kan?"


"Iya."


Gadis cantik itu mengulurkan tangan seraya tersenyum. "Kenalin, gue Yollan. Anak MIPA satu!"


"Isha!" balasku seadanya lalu kembali menyesap teh yang berada di genggaman.


"Lo tahu, gue salah satu orang yang suka saat lo nanyi. Benar-benar indah," pujinya dengan mata berbinar.


Sedikit tidak menyangka, aku tertawa kecil. "Makasih sebelumnya."


"Gue pamit ke kelas ya Sha, kalau butuh apapun lo bisa panggil PMR yang stay disini. Soalnya Bu Sahfa lagi cuti."


Kepergian Yollan sangat membuat dada lega. Mengingat gadis itu, aku rasa memang sangat cocok bila Arga berhubungan lebih dengan Yollan.


Gadis cantik itu memiliki segudang prestasi yang tidak kalah dibanding Arga, memiliki peran penting dalam organisasi sekolah bahkan untuk tampang saja keduanya tidaklah jomplang.


            Mengunjungi gedung ekstrakurikuler menjadi bumerang untuk diri ini. Tak jauh dari tempatku berdiri, kedua sosok yang sangat aku kenal tengah berpelukan, memanfaatkan suasana yang sepi.


Entah setan apa yang tengah merasuki, dengan langkah pasti aku mendekat lalu menarik mundur gadis yang Arga peluk.


Berbeda dengan Arga yang menatapku tajam, gadis di sampingku justru terlihat kaget.


"Gue pamit duluan ya Ga!"


Aku melirik Yollan sekilas saat gadis itu tanpa banyak tingkah pergi meninggalkanku dan Arga yang tengah bertatapan sengit.


Menghembus nafas, aku tahu ini bukan waktunya untuk meninggikan ego dan melepaskan Arga dengan mudah.


"Aku tahu kamu marah, aku minta maaf. Tapi apa pantas kamu bersikap seperti tadi?"


Arga menertawakan kalimatku. "Lo siapa negur gue?!"


"Aku pacar kamu!"


"Siapa yang sudi punya pacar kayak lo anjing!" decihnya.


Arga yang nampak kehabisan kesabaran melewatiku begitu saja, membuat pertahananku runtuh seketika.


"Isha!"


Suara itu menyebabkan tubuhku membalik dan menemukan sosok lelaki yang selalu ada saat aku senang apalagi susah.


Sekitarku mengalami pergerakan lambat saat, aku berlari ke arahnya sebelum memeluk erat sembari menumpahkan air mata.


"Dia lagi?" tebaknya.


Aku tidak menjawab apapun, lebih memilih menangis dalam dadanya yang hangat.


"Engga usah cengeng, kita pulang ya?"


"A-aku ekstra Kak."


"Biar nanti gue yang izinin lo ke Rafif."