
Selang beberapa detik, aku mendapat kekehan kecil dari Kak Raefal. "Jangan canggung lagi, engga ada buruknya 'kan kalau ngomong?"
"Jadi, gimana Kak?" tanyaku mendesak.
"Gimana gue tahu keberadaan lo 'kan?" Dia menjeda ucapannya "Gue itu cenayang jadi apapun itu, pasti gue bakal tahu."
"Kak serius!" Entah mendapat dorongan darimana aku mulai menyahuti obrolan itu tanpa rasa takut ataupun cemas.
"Jangan terlalu serius, gue belum punya pekerjaan buat ngasih makan lo sama anak-anak kita nanti!" balasnya yang malah melantur.
Aku diam, tidak ada niat untuk menanggapi lelucon Kak Raefal.
"Cie yang udah berani ngomong panjang," ledek Kak Raefal seraya fokus menyetir.
Aku tersenyum kecil, tidak menyangka jika sosoknya sama sekali tidak menyeramkan apalagi sedingin yang dibayangkan.
"Kita ke rumah gue dulu, soalnya kalau langsung ke rumah lo masih jauh, nanti lo masuk angin."
"Langsung pulang aja Kak!" pintaku.
Berkunjung ke rumah Kak Raefal yang notabenenya laki-laki membuat aku merasa canggung, takut akan respon keluarga mengenai kehadiranku sekaligus malu jika ditelisik ulang mengenai penampilanku.
"Kenapa? Takut sama orang tua gue? Jangan takut mereka engga gigit kok udah jinak!" candanya yang membuatku menggeleng. "Jangan khawatir, ada gue dan orang tua gue engga ada di rumah, cuma ada pembantu," jelasnya.
Mobil yang aku tumpangi berhenti di halaman rumah yang lumayan besar seperti bangunan yang berada di sebelah maupun di depannya.
Aku memasuki kediaman Kak Raefal yang nampak asri dengan halaman luas dihiasi oleh beragam bunga dan juga rumput hijau.
"Ayo masuk!" ajaknya.
Aku hanya mengekor di belakang Kak Raefal persis seperti ekor hingga aku masuk ke dalam kamar yang aku yakini milik Kak Raefal.
"Lo duduk dulu disini, gue ambillin baju buat lo," pamit Kak Raefal keluar dari kamar.
Aku meneliti setiap sudut kamar Kak Raefal yang terlihat berantakan. Banyak kertas, bungkus makanan ringan, selimut yang tidak beraturan, seprai yang tidak ada ditempatnya, bantal yang berada di kolong ranjang serta baju kotor di atas kursi.
"Nih lo ke kamar mandi aja!"
Terlalu asik mengamati hingga tidak sadar akan kehadiran Kak Raefal bersama sepasang baju.
"Makasih Kak!"
Tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam kamar mandi Kak Raefal lalu memakai baju yang di berikan.
Dari yang aku lihat melalaui cermin, aku yakini jika baju yang sedang aku kenakan bukan milik Kak Raefal, tidak mungkin bukan lelaki itu memiliki dress.
Aku menyembulkan kepala di sela pintu, menatap sosok Kak Raefal yang tengah fokus bersama gawainya.
"Kak!"
Mendengar itu kepala Kak Raefal menoleh lalu dia menautkan alis tebalnya seperti orang yang tengah berfikir keras.
"Sha ngapain? Kok engga keluar?"
"Malu Kak," cicitku.
Dia menaikan satu alisnya. "Bukannya tadi gue udah kasih baju."
"Anu." Menjeda kalimat serta menyusun kata seraya menunduk ke bawah karena malu. "Bajunya terlalu ketat Kak!"
"Maaf, soalnya itu baju adik gue. Gue kira muat soalnya liat badan lo yang kecil," paparnya yang menurutku terlalu jujur.
"Nih pake!" Dia mendekat seraya memberiku sebuah baju yang tadi Kak Raefal ambil dari lemari.
Aku tertawa ketika melihat penampilanku sendiri, kemeja dengan lengan kedodoran beserta celana olahraga yang kebesaran.
"Kak!" panggilku menyembunyikan tubuhku di balik pintu seperti tadi.
"Udah? Ayo keluar!"
"Hm. Kak,"
"Kenapa lagi? Ayo!"
Setelah berhasil mengumpulkan keberanian aku keluar, malu sekali rasanya.
Suara tawa menarik perhatian, aku menjadi kian keki karena Kak Raefal malah lebih asik dengan urusan humornya.
"Udahlah siapa juga yang peduli penampilan lo!" Komentarnya yang membuatku cemberut.
Kak Raefal berjalan mendekat sebelum berjongkok di depan kaki sembari menggulung celana diikuti kemeja yang tidak mau kalah untuk diperbaiki.
"Gini aja engga bisa. Udah, ayo turun!" ajaknya menarik paksa tanganku.
Kita sudah berada di lantai bawah. Tepatnya di dapur, aku mesti menebak rencana Kak Raefal membawaku kesini.
"Gue lapar jadi lo masak dulu. pembantu gue lagi pulang kampung, soalnya anaknya nikahan." ungkapnya seperti membaca pikiranku.
"Kakak ingin aku masak? " tanyaku memastikan. "Bukannya tadi Kak bilang ada pembantu?"
"Gue lupa. Iya lo harus masak. Sekaligus upah karena udah gue tolongin."
Aku mulai membuka kulkas lalu melihat bahan masakan yang lengkap disana, aku mengambil beberapa sayur dan juga bumbu untuk dimasak.
Kali ini aku akan memasak sup, perkedel kentang dan juga ayam goreng.
Aku mulai memasak ini itu, jika kalian bertanya keberadaan Kak Raefal, jawabanya sekarang dia menunggu semua masakan siap di pinggir meja pantri dan duduk di sana sembari memainkan permainan yang berada didalam gawainya itu.
"Kak, tolong goreng ayamnya! Nanti bakal cepat selesai!" pintaku namun dia hanya menaikan satu alis.
"Gue? Masak ayam? Engga gue 'kan laki!" tolaknya.
Aku hanya mendengus sebal " Terus kalau Kakak laki-laki emang kenapa? Banyak kok laki-laki tapi jadi Chef, masakannya pun enak!" balasku setengah kesal.
"Iya tapi 'kan gue maunya jadi CEO, Pilot, polisi, atau tentara, bukan tukang masak!"
"Terserah Kakak! Tapi jangan salahin kalau jadinya lama!" acamku.
"Loh kok gitu? Iya iya gue goreng ayam!" kata terpaksa terlontar dari mulut Kak Raefal seraya berjalan menuju ke arahku.
"Ini!" Aku menyerahkan ayam yang tadi sudah dibumbui.
"Ini gimana masaknya?" Kak Raefal melihat ayam itu dengan tatapan aneh.
"Kalau minyaknya udah panas nanti Kakak masukin aja terus tunggu sampai ayamnya matang!" jelasku, yang hanya dia balas anggukan, entah benar mengerti atau sok mengerti.
"Kya!!! Isha!" teriak Kak Raefal heboh.
Aku ingin tertawa melihat Kak Raefal sekarang, dia mengangkat spatula ke atas bersamaan kaki kirinya, jika diperhatikan lebih lama dia sekilas mirip belalang.
"Dasar adik kelas kurang asem, malah ketawa, ini gimana ini! Astaga!" panik Kak Raefal karena minyaknya tidak bisa tenang serta wajan yang mengepulkan asap.
"Kalau mau goreng ayam emang gini, meletuk-letuk minyaknya, biar engga meletuk ditutup," terangku layaknya seorang Ibu yang sedang mengajarkan anak gadisnya memasak. Sedang Kak Raefal hanya mengangguk.
"Supaya meminimalisir letukan, apinya dikecilin biar engga gosong dan wajannya engga mengepul gini!" lanjutku mengecilkan api.
Habis dengan drama menggoreng ayam, kini kami duduk berhadapan sembari memakan masakan yang akhirnya sembilan puluh delapan persen aku rampungkan sendiri.
"Gimana? Enak masakannya?" tanyaku.
"Biasa aja," balasnya datar, sedatar tembok.
"Biasa aja kok doyan," gerutuku pelan.
"Gue denger ya. Wajarlah gue doyan 'kan gue juga laper dan cuma ada ini doang ya udah, kepaksa deh gue makan," balasnya enteng.
"Yaudah, kalau emang engga doyan, Kakak pesan makanan aja."
Dengan sengaja aku menarik piring Kak Raefal membuat lelaki itu menatap tajam.
"Enak aja! Denger ya. Gue engga suka buang-buang makanan, kasihan di luar sana banyak yang membutuhkan." Dia kembali mendapat makanannya.
"Ketika realita tak semanis ekspetasi. Engga ada gitu bujuk-bujukan?" batinku.
"Kenapa kok malah bengong? Engga makan? Ayo makan abis ini kita pulang!"
Aku mengambil masakanku lalu memasukannya ke mulut dan tebak apa yang lidahku rasakan, makanan itu tidak sama persis dengan ucapan Kak Raefal bahkan menurutku sangat bertolak belakang dengan yang tadi dikatakan.
Dia memang bermulut tajam.
Purbalingga, 14 januari 2020/ 16 Agustus 2022.