Call Me Isha

Call Me Isha
18. Antagonis?



Perlahan, aku membuka kelopak mata namun tidak lama aku terkejut melihat sosok Kak Raefal dan Orlin yang entah bagaimna kejadiannya sudah tersungkur di atas permukaan tanah sedangkan kedua sahabatnya itu terdiam mematung.


"Kak Raefal!" panggilku lirih.


Orang yang aku sebut namanya sontak berdiri guna melepas semua tali yang melilit anggota tubuh bagian tengah.


Selesai dengan urusan tali, kaki ini tidak bisa menahan bobot hingga menyebabkan diriku terduduk di atas tanah dengan nafas lega.


Netra mata milikku dengan Kak Raefal saling beradu pandang saat lelaki itu ikut berjongkok sembari mengelelus pipiku lembut.


"Are you oke? "


Mengangguk kepala yang aku lakukan sebelum memeluk lelaki itu erat. "Makasih udah datang buat aku Kak."


Telapak tangan Kak Raefal memundurkan tubuhku yang tadi memeluknya. "Udah, sekarang kita pulang. Kasihan orang tua lo di rumah khawatir."


Aku pasrah saat Kak Raefal menaruh lengah tanganku untuk dirangkul akan tetapi, belum satu menit berlalu aku kembali jatuh karena dorongan yang berasal dari Acel.


"Stop! Kalian udah keterlaluan!" bentak Kak Raefal.


Acel menatap lelaki bertampang badboy itu dengan tajam. "Kakak punya hati? Orlin tadi sampai jatuh hanya karena Kakak selamatin babu!"


"Tutup mulut lo!" tunjuk Kak Raefal. "Lo mau punya temen pembunuh?!"


"Tapi apa di hati Kakak engga ada rasa bersalah sama sekali karena sakiti Orlin? Dia adalah orang yang paling mencintai Kakak!"


"Ribuan kali Orlin berjuang buat dapatin Kakak tapi respon dingin yang selalu dia dapat!" Menjeda sebentar. "Seharusnya Kakak bersyukur, orang seperti Kakak yang ada di hati Orlin!"


Kak Raefal berdecih."Udah puas bicaranya?"


"Sekarang tanya sama temen lo. Memangnya gue minta dia suka sama gue? Pernah gue suruh dia berjuang buat gue?" Menjeda sembari melirik sekilas Orlin yang masih terduduk lesu. "Engga kan? Gue engga pernah minta semua itu."


Meski ungkapan itu bukan dikhususkan untuk Acel namun, gadis itu sudah menangis hebat. "Laki-laki brengsek!"


"Acel stop!" teriak Orlin.


Dibantu Anoora, Orlin menegakkan kaki untuk dilajukan ke tempat dimana Acel serta Kak Raefal tadi berseteru.


Berbeda dari sebelumnya, penampilan Orlin terlihat sangat menyedihkan dengan air mata yang terjun bebas.


"Rasa cinta yang ada dalam dada, engga pernah Kakak tahu." Orlin berucap sembari terisak hebat. "Demi rasa itu aku sampai rela menjadi tokoh antagonis bahkan, aku sampai mengesampingkan harga diriku sebagai perempuan dengan mengejar Kakak tanpa lelah."


Tidak ada yang berkata, bahkan Kak Raefal sendiri hanya diam serta memperhatikan setiap gerak tangan yang Orlin ciptakan untuk menghapus cairan mata.


"Tapi, yang aku dapat hanya rasa pengabaian. Apa kakak kira perasaan yang aku miliki hanya omong kosong?"


Tangan Orlin bergerak untuk meremas bajunya. "Rasanya sangat sakit ketika untuk kesekian kali Kakak menolakku, menganggap rasaku sampah dan,"


Tawa kecil lolos meski air mata tetap membasahi pipi. "Salah, kalau aku memiliki rasa lebih itu?"


"Atau, aku engga pantas untuk Kakak?" tanyanya lagi. "Seluruh perasaan sakit, kecewa dan patah itu aku telan sendiri namun, boleh aku mengatakan sesuatu?"


Aku tidak tahu hal yang tengah dipikiran Kak Raefal namun, setelah Orlin selesai lelaki itu lebih memilih membantu diri ini berdiri untuk keluar dari hutan.


Pikiranku bercabang, dan yang paling dominan adalah memikirkan Orlin, sebagai perempuan tentu aku tahu perasaan yang sedang dia rasakan.


"Isha!" teriak Kak Raefal mengagetkan.


"I-iya Kak?"


"Dari tadi gue ngomong sama lo. Tapi lo malah bengong," gerutu Kak Raefal sembari fokus menyetir.


"Maaf kak, aku sedang banyak pikiran."


Dapatku dengar bila Kak Raefal menghembuskan nafas berat. "Engga usah dengerin ucapan Orlin tadi, itu cuma omong kosong."


Kepala ini sontak menoleh merasa tidak terima. "Kakak engga lihat kehancuran yang terpatri di mata Orlin? Perasaan dia bukan lelucon."


"Gue engga mau bahas itu lagi!" putusnya sepihak.


"Mau bersih-bersih dulu atau langsung pulang?" tanya Kak Raefal, kontan bila dia mengalihkan topik pembicaraan.


"Bersih-bersih dulu Kak, takut Mama sama Papa tahu kalau aku habis dibully."


"Jadi, mereka engga tahu hal itu?"


"Engga," balasku seraya tersenyum kaku serta memandang lurus ke depan. "Karena, tidak semua yang ada dalam hidup bisa kita ceritakan, cukup mengerti, memahami lalu jadikan pelajaran."


"Tapi---" ucapnya yang sengaja aku potong.


"Aku hanya ingin melihat senyum mereka, bukan perasaan khawatir saat melepas diriku berperang melawan dunia."


Aku mengetok pintu rumah, tak lama sosok yang diri rindukan muncul dengan wajah terkejut lalu menarik tubuh ke dalam dekapan hangatnya.


Rasanya senang sekali, kala bisa merasakan pelukan hangat ibu.


"Pa! Isha! Sudah pulang!!" teriak Mama dengan senang, tak lama muncullah sosok lelaki yang nampak tak mau kalah senang ketika melihatku di hadapan.


"Kenapa baru pulang? Dia siapa?" tanya Papa menunjuk Kak Raefal dengan jari telunjuk.


"Ini Kak Raefal, dia Kakak kelas aku." Memberi jarak beberapa detik. "Dia juga yang mengantar aku. Tadi pulang lebih lama karena karena ada tugas dadakan, terus saat sampai ke parkiran ban sepeda bocor, lalu aku melihat Kak Raefal di parkiran juga, jadi aku ikut dia daripada tambah terlambat, dan maaf sudah membuat Mama dan Papa khawatir," dustaku.


"Lain kali dikerjain di rumah saja, Nak Raefal mau mampir dulu?" tanya Mama ramah.


Papa menyenggol lengan Mama dengan muka tidak suka, bukanya Papa tak suka dengan Kak Raefal atau tak tahu terima kasih namun, Papa memang keberatan bila aku dekat dengan lelaki.


"Tidak usah Tante sudah malam, saya permisi dulu, takut dicariin Mama," balas Kak Raefal sopan.


"Baiklah, hati-hati di jalan!"