Call Me Isha

Call Me Isha
16. Mengadu



‍Beberapa kali aku menguap bosan, pelajaran bahasa menjadi hal yang sama sekali tidak menarik perhatian.


"Panggilan!"


Seluruh siswa menjadi tegang sekaligus menanti suara yang akan dikeluarkan dari speakers.


"Panggilan ditunjukan kepada Orlin kelas sebelas MIPA dua untuk segera ke ruang BK, terimakasih!"


Orang yang dipanggil segera berdiri untuk meminta izin kepada guru yang tengah mengajar.


Panggilan itu menggugah sedikit rasa penasaran yang ada dalam jiwa bahkan, hati menjadi tak menentu kini.


"Panggilan ditunjukan kepada Anoora kelas sebelas MIPA satu serta, Acelin Kelas sebelas MIPA dua untuk sekarang juga ke ruang BK!"


Perasaan tak mengenakan itu terasa kian besar dalam benak saat kedua orang itu dipanggil juga.


Beberapa jam kedepan hati makin karuan hingga tiba di jam istirahat dan aku menemukan pintu yang ditendang paksa dari luar


"O-Orlin?"


Aku beringsut mundur hingga menabrak dinding saat melihat Orlin bersama kedua sahabatnya mendekat ke bangku milikku dengan raut wajah siap menerkam.


Jemari panjang Orlin tergenggam untuk meraih kerah bajuku lalu menariknya hingga aku terlempar di bawah papan tulis.


"Lo itu babu gue!" tekan Orlin yang kini sudah berjongkok dan menarik rambut miliku.


"Le-lepas Lin," pintaku yang kini sudah menangis.


Melalui ekor mata, aku dapat melihat bila Anoora ikut berjongkok di sampingku sembari membuka tutup cat air.


Pipiku terasa perih karena selepas Orlin melepas rambutku, Acel mengambil alih wajahku dengan menekan pipi menggunakan kukunya yang panjang.


"Enak ngadu?" tawa Orlin terlihat menyeramkan.


Aku berusaha kabur dari ketiga orang itu namun selalu berakhir percuma bahkan kini tubuhku dikunci oleh Acel sementara Anoora mewarnai wajahku dengan cat air.


"Hukuman karena orang bawahan kayak lo berani buka mulut!"


"Kenapa kalian lakukan ini?" tangisku.


"Lihat ini!" bentak Orlin lalu memperlihatkan sebuah vidio tentang aksi pembullyannya dalam gawai tersebut.


Kembali, Orlin menarik rambut yang aku kepang itu tanpa perasaan. "Denger! Dengan laporan itu, lo menawarkan diri menjadi bahan bulanan gue selamanya!"


Aku menutup mata, rasa sakit yang menyerang punggung bukanlah hal remeh, belum lagi sepatu Orlin yang kini menginjak dadaku.


"Bu-bukan aku yang ngelaporin kalian."


"Lo kira kita percaya?" Acel yang berdiri di sebelah Orlin membuka suara.


"Orlin!"


Kaki Orlin tidak lagi berulah karena kedatangan Arga yang langsung menarik perempuan itu hingga berhadapan.


"Kendalikan emosi! Cupu urusan belakangan lo bisa urus nanti sekarang---"


"Kendalikan emosi? Lo bisa lihat 'kan kalau dia udah bikin nama gue jelek di depan guru maupun orang tua gue!" menjeda sebentar. "Gue engga perduli atas semua pendapat orang lain, tapi engga buat orang tua gue."


Orlin melirikku dengan amarah besar. "Lalu, hanya karena orang rendahan itu, aku hampir kehilangan segalanya Arga!"


"Orli-----"


Orlin memberikan isyarat pada Arga untuk diam, membuat lelaki itu menurut seketika.


"Ini urusan gue, jadi biar gue yang urus dengan."


"Panggilan! Kepada Orlin dan Acelin kelas sebelas MIPA dua serta, Anoora kelas sebelas MIPA satu untuk segera ke ruang BK, terimakasih!" suara panggilan itu kembali berbunyi.


Orlin menendangku, begitupun Acel dan Anoora dengan tatapan sinisnya "Lo bakal abis nanti!"


Setelah bel pulang, aku bergegas pulang dengan langkah lebar. Takut berhadapan dengan Orlin karena firasat mengatakan hal yang buruk.


Mataku membulat, kaget kala melihat Orlin beserta kedua sahabatnya berdiri di depan gerbang seraya bersedekap dada dan bertolak pinggang.


Aku menelan ludah saat ketiga siswa itu terlihat seperti harimau yang kelaparan dan menemukan mangsa.


Membalikan badan, itulah saran yang ada dipikiran saat bahanya ada di depan mata.


"Lo engga bisa kabur!"


Tangan panjang Orlin berhasil mencegah kepergian diriku, mata kami juga bersitatap untuk beberpa detik.


Aku hendak kabur namun, tanganku dicekal Acel dan Anoora, aku meronta akan tetapi, tenaga yang aku mliki tidak ada apa-apanya bila dibanding kedua orang yang tengah menarikku itu yang merupakan atlet taekwondo.


Saat aku menolak memasuki mobil, Orlin menutup hidungku dengan saput tangan putih yang aku yakin telah diberi sesuatu hingga membuat kesadaran hilang seperti sekarang.