Call Me Isha

Call Me Isha
45. Mimpi yang Menjelma menjadi Ilusi



etelah berbasa-basi cukup lama, Arga menempatkan diri di depan piano dan menekan tutnya sesuai lagu yang akan kita bawakan.


Tiba saatnya kita saling bicara.


Tentang perasaan yang kian menyiksa.


Tentang rindu yang menggebu, tentang cinta yang tak terluka.


Aku mengambil nafas, perlahan naik ke atas panggung menyusul Arga dengan lagu yang ku bawakan.


Sudah terlalu lama kita berdiam. Tenggelam dalam gelisah, yang tak tereda.


Memenuhi,


Mimpi-mimpi malam kita.


Berdiri tepat di samping Arga sembari melihat ke bawah, dimana terlihat semua orang terlarut dalam lagu.


Duhai cintaku.


Sayangku lepaskanlah.


Mata kami saling bertautan, seolah meresapi lirik yang kami bawakan.


Perasaanmu,


Rindu mu, seluruh cintamu.


Arga berdiri lalu mendekat ke arahku  dengan senyum, membuat seluruh orang khususnya kaum hawa berteriak heboh.


Dan kini hanya ada aku dan dirimu, sesaat di keabadian.


Arga menggenggam tangan ini, membuat kaum hawa kembali menjerit histeris, nampak tak terima lalu tangan kami berayun pelan sesuai irama, menikmati musik yang dimainkan oleh Kak Rafif dan teman-temannya.


"Lagu ini gue persembahkan kepada orang yang sekarang tangannya gue genggam," kata Arga sembari menatap kedua manikku. "Orang yang selalu membuat jantung ini terasa berdansa, yang membuat duniaku jungkir balik karenanya."


"Untukmu!"


Aku melepas tangan Arga lalu menjauh darinya, mengabaikan degupan jantung yang tak bisa aku kontrol saat ini.


jika sewaktu bisa kita hentikan.


Arga kembali mendekat ke arahku kemudian membalikan raga ini untuk kembali ditatapnya, menyebabkan kegaduhan di bawah sana kembali terjadi.


Dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan.


Aku memberanikan diri untuk menatapnya.


Meleburkan semua batas antara kau dan aku, kita


Duhai cintaku sayangku lepaskanlah.


Perasaanmu, rindumu, tulus cintamu.


Dan kini hanya ada aku dan dirimu sesaat di keabadian.


Arga mengambil sebuket bunga yang telah disiapkan sebelumnya lalu menyerahkannya pada diri ini, membuat yang lain menjerit kecewa.


"Di pergantian tahun ini, maukah kamu, Aisha menjadi milikku?"


"Eh ini cuma aktingkan? Please bilang ini cuma akting, sumpah gue engga terima!"


"Baper!"


"Dasar Cinderella semalam!"


"Cupu kok lama-lama ngelunjak ya!"


"Maruk banget jadi cewek!"


Teriakan itu cukup menganggu telinga namun aku abaikan demi kelancaran pertunjukan yang sudah ditata sedemikian rupa.


"Yes, I'am will," balasku.


"Katakan! Jangan pikirkan rasa malu, kalian jangan pikirkan jawaban mereka, tapi bayangkan jika kalian bisa bersatu dengan orang yang kalian inginkan dipergantian tahun ini."


"Bayangkan semua mimpi yang kalian impikan menjadi kenyatakan,"


"Di detik terakhir ini, lari ke hadapan pasangan kalian atau gebatan kalian lalu katakan 'Aku mencintaimu',"


Kalimat Arga membuat semua orang menggerombol dan nampak berpasang-pasangan.


"Tiga!"


"Dua!"


Ucap seseorang, menghitung mundur pergantian tahun baru yang tinggal menghitung detik.


"Satu!"


Klik!


Seketika lampu mati dan seluruh ruangan nampak gelap, aku bisa menebak jika mereka sedang menyatakan rasa yang dipendam ataupun memadu kasih untuk yang sedang pacaran.


Aku tersentak saat pergelangan tangan ini digenggaman oleh seseorang namun, kembali tenang karena menebak jika itu kekasihku.


Dapat aku rasakan nafas yang menerpa wajahku, bisa otak bayangkan jika kami sangat dekat.


"I love you,"  lirih kami bersamaan namun detik itu pula aku terdiam merasakan sesuatu yang lain, membuat aku membeku seketika.


Senyumku luntur seketika kala pendengaran ini menangkap suara orang lain.


"Dimana Arga? Dan siapa orang yang di depanku?" batin berkata.


Kepala ini rasanya pening dan seluruh raga rasanya lemas tak berdaya.


"Maaf," Lirih orang itu lalu segera melepas genggaman tangan dan pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih terguncang.


Klik!


Lampu kembali menyala, pandanganku sekatika menyisir ke seluruh tempat tanpa kecuali, tetapi aku tak jua menemukan tanda-tanda ada orang di sekitar, membuat kepala bingung dibuatnya.


Menganggap ilusipun nampaknya tidak berlaku karena, sentuhan tadi rasanya masih membekas.


"Isha! Lo ngapain disitu! Turun!" kode Kak Rafif membuatku tersadar dari lamunan dan segera turun dari panggung.


"Performance yang bagus! Gue engga nyangka bakal jadi sweet gini," ucap Kak Rafif.


"Iya, akting Kakak bagus, dan lihat tuh mereka jadi lengket banget." Rara melirik orang yang masih bergelayut manja dengan pasangan masing-masing. Sungguh romantis.


"Omong-omong, Arga mana?" tanya Kak Rafif, membuatku menoleh ke arahnya dan mengedikkan bahu menandakan ketidaktahuan.


"Pasti nyamperin Yolan! Dia yang bikin baper, dia juga ikut baper." Kalimat Kak Rafif membuat hati sedikit mencelos.


"Isha!" panggil Kak Raefal mendekat ke arahku. "Yuk kita pulang, nanti lo dimarahin sama Bokap,"


🍁


           Aku mengetik sesuatu di kolom pencarian media sosial guna mendapat sesuatu yang sejak semalam mengganggu isi kepala.


"Dapat!" gumamku saat menemukan media sosial orang yang aku cari.


Aku tersenyum kecut kala melihat foto yang terapampang di depan mata.


"Jadi aku ini apa?" tanyaku lirih.


Dipostingan, Yollan sedang memeluk seseorang yang hanya terlihat punggungnya namun, bisa aku simpulkan jika itu Arga, karena aku masih ingat jelas pakean yang dia kenakan malam itu belum lagi dengan caption yang terlampir itu semakin  membuat air mata ini luntur begitu saja.


Aku menjatuhkan tubuh ke atas ranjang dan memeluk bantal di sana, menyembunyikan isak tangis ku.


Mencintai Arga perkara mudah, dicintai Arga ialah sebuah mimpi yang menjelma sebagai ilusi lalu, kenyataan itu seperti sebuah tamparan.


"Cinderella semalam," gumamku.