Call Me Isha

Call Me Isha
64. Fitting Baju Pernikahan



              Takdir seolah berkompromi, menjebak diriku dengan sosok masa lalu yang kini telah menggandeng tangan orang lain.


"Kalian disini juga?"


Fokusku dalam memilih gaun pengantin buyar, memilih mengompakkan diri dengan Kak Arik guna melihat sosok di belakang punggung.


"Gue juga mau married," balas kekasihku dengan tawa kecil.


"Ikutan ya!" canda Kak Raefal.


"Khem!" deheman Glenda menjadi pusat perhatian kami.


"Senang bertemu kalian lagi, tapi kami masih banyak kebutuhan buat pernikahan yang harus diurus. Kami permisi dulu."


Selain mengangguk mempersilahkan, tak ada lagi yang aku ataupun Kak Arik lakukan.


Kepergian mereka menjadi pilihan terbaik, meski sudah sepakat berdamai serta mengikhlaskan segalanya. Bukan berarti, terjebak seperti tadi baik untuk hati.


"Kak ak------"


Niat hati hendak meminta pendapat, justru aku mendapati tatapan tajam Kak Arik yang dia tunjukan untuk Kak Raefal beserta tunangan.


Menghembuskan nafas, jemariku menyentuh lengannya yang kekar hingga menyebabkan tubuh itu bergerak reflek menghindar karena kaget.


"Sorry Flo, aku melamun."


Mengangguk. "Memang apa yang Kakak pikirkan?"


Dia mengusap salah satu pipiku lembut. "Pernikahan kita, aku takut semuanya belum selesai sebelum waktu."


Meski tahu alasan itu penuh kedustaan, aku tetap menerbitkan senyum. Tidak ingin menambah masalah menjelang hari pernikahan.


🎤


"Berarti pernikahan kamu sama Nak Raefal cuma selisih sehari, dia hari sabtu, kamu minggu."


Suara Papa dia ruang keluarga menarik atensi ketiga wanita yang tadinya fokus kepada berita dilayar kaca.


"Iya Pa," balasku seadanya.


"Dulu, Mama kira kisah kalian bakal sampai pelaminan."


Topik sensitif kembali diangkat, aku tidak bisa menyalahkan karena, seharusnya selama ini aku sudah berdamai.


"Mungkin kita bukan jodoh Ma."


"Pa, aku penasaran. Kenapa Papa bisa akrab sama Kak Raefal, padahal dulu Papa engga suka."


Pertanyaan itu bukan dariku, Orlinlah yang membuka mulut.


"Sekitar dua tahun lalu, engga sengaja ketemu. Kamu ingat waktu Papa sama Zimra jemput kalian ke bandara cuma berdua?"


Kening Orlin terlipat beberapa detik sebelum menjentikan jemari. "Waktu Flo ada konser di New York?"


"Iya, waktu di tengah jalan mobilnya mogok, padahal tinggal sedikit lagi sampai di bandara." Menjeda sebentar. "Terus Nak Raefal yang kelihatan juga baru pulang dari kunjungan kerja katanya engga sengaja lihat dan milih bantu Papa, dari sanalah kita mulai akrab."


"Kenapa Papa engga pernah cerita?" tanyaku yang justru membuat orang tua serta Orlin menaikkan alis kompak.


"Bukannya udah engga perduli sama apapun tentang Kak Raefal?" ejek Orlin.


Aku merengut, memilih memasukkan keripik singkong dengan rasa pedas ke dalam mulut.


"Jadi kenapa Papa engga pernah cerita?" tagih Orlin.


Papa mengedikkan bahu. "Buat apa? Lagian kalau ceritapun Kakaknya Zimra pasti engga suka, karena sekarang kamu tanya baru Papa kasih tahu."


"Takut ada yang gagal move on ya Pa," ledek Orlin lagi yang justru mendapat semburan tawa dari kedua orang tuaku.


Lemparan bantalku mengenai wajah cantik sang profokator.


"Lihat Pa, calon pengantin sensi banget," adu Orlin seperti anak kecil.


"Udah-udah, kalian ini," lerai Mama lalu menatapku serius. "Kamu beneran mau nikah Flo?"


Menghela nafas tanpa menatap balik. "Pernikahan itu udah didepan mata Ma, aku bukan artis kurang terkenal sampai bikin huru-hara cuma buat diliput media."


"Mama tahu, cuma. Rasanya dihati Mama ada yang ganjel." Suara wanita yang melahirkanku nampak menyendu.


"Anak kita udah besar Ma, dia pasti tahu konsekuensi yang dia ambil. Kita percayakan saja."


Mendengar kalimat Papa justru membuat mataku berembun, dan lebih memilih naik ke atas untuk menenangkan diri.


»»————-✾————-««


Sρҽƈιαʅ PσV.


Bყ: Rαҽϝαʅ Mαԋαρɾαɳα Fαɾҽʂƚα.


          Kediaman yang menjadi saksi tumbuh kembangku dihias sedemikian rupa, taburan mawar putih tersusun rapih hingga menampilkan kesan sakral untuk hari yang tak kalah mendebarkan bagi hati.


Keramaian karena acara akad yang akan di gelar besok pagi justru menjadikan diri ini terasa kosong, jiwa kadang bertanya hal yang tidak aku tahu jawabnya.


"Apa yang aku lakukan untuk diriku?"


Mungkin pertanyaan itu masih lumrah, akan tetapi jika itu menyangkut sosok yang pertama kali membuat jantung bergerak heboh kian menyergap batin.


"Apakah merelakan dia menjadi jalan terbaik?"


Dia. Sosok gadis yang semula berkacamata culun telah berubah ekstrim bahkan, aku sampai tidak mempercayai kala melihat debut pacar pertamaku.


Mungkin tidak ada yang tahu, sejak awal karier, konser serta vidio musik aku selalu menyertai dirinya meski, dukunganku tidak senyata calon suami Flo.


Kadang, aku menjadi sosok egois yang ingin mengikatnya, akan tetapi diri ini sadar bila gadis kesayanganku itu bukan lagi milikku bahkan, brengseknya aku juga memiliki tanggung jawab lain yang besok aku nikahi.


Ini kali terakhir aku mengizinkan otak mengenang setiap kenangan gadis itu, setelah besok pagi aku tidak ingin mengingatnya karena, kenyataan bila daku milik wanita lain tidak bisa terabaikan.


Drt!


Drt!


Drt!


Tanpa pikir panjang aku mengangkat panggilan yang kurasa cukup penting karena, selama ini sosoknya tidak akan menghubungi jika hanya berbasa-basi.


"Raefal,"


Suara tercekat di seberang sana membuat aku sedikit panik, bahkan aku sampai berdiri.


"Kenapa?"


"Maaf."


"Untuk apa? Kamu kenapa?" tanyaku menuntut.


"Aku masih mencintai sahabatmu, dia cinta pertamaku dan tidak akan pernah aku lupakan."


"Kamu bicara apa?!" suaraku meninggi, cukup paham namun tidak bisa diterima.


"Maaf Raefal, kamu juga masih mencintai dia 'kan? Jadi untuk apa kita lakukan pernikahan bila hati masih terpaut dengan yang lain?" tangisan Glenda membuat aku tersenyum getir.


"Besok hari pernikahan kita, dan baru sekarang kamu bilang ini? Kamu kira ini permainan?!"


"Kamu sadar berapa banyak hati yang kamu patahkan karena keputusan sepihak ini?!"


"Aku tahu kalau ini egois, tapi aku engga mau menikah dengan orang yang belum selesai dengan  masa lalunya, begitupula aku yang belum sepenuhnya berdamai dengan dia."


"Maaf, aku harap kepergianku menjadikan kamu bahagia. Menikahlah dengan dia karena cinta, bukan seperti aku, yang diberi kepastian karena paksaan."


"Kamu gila! Glenda! Glenda!" teriakku saat sambung telepon diputus sepihak.


Tanpa buang waktu, menyambar kunci mobil dan berlari keluar kamar yang langsung dicegat oleh Ibu.


"Calon pengantin engga boleh keluar-keluar, bukannya udah Ibu bilang?"


Bimbang menerpa tubuh, ingin memberi tahu akan tetapi tidak tega saat mengambil binar bahagia dari wajahnya.


"Sebentar Bu, ini penting," kilahku lembut.


"Memang apa? Kalau ada yang kurang mending minta Ayah atau sepupu kamu."


Dalam diam aku berfikir, meski sekarang lidah tidak berkata benar akan tetapi, hari esok akan ada yang menampar kenyataan itu.


"Sekarang masuk, ayo! Jangan sampai sakit saat malam pertama kamu," ledek Ibu yang kian membuatku gamang.


"Bu!" Panggilku dengan suara tercekat, meminta otak menyusun kata yang tepat.


"Kenapa? Ada masalah?" Wajah ibu mulai terlihat cemas.


"Glenda nelpon aku, dia bilang engga  bisa nikah sama aku."


"Kamu bohong 'kan? Pasti ini akal-akalan kamu biar bisa balik sama mantan kamu itu! Iya 'kan?!" bentak beliau yang menarik atensi orang sekeliling.


"Apa yang kamu bilang Fal?" tanya Ayah memastikan sembari mengusap bahu bergetar istrinya.


"Glenda, dia belum siap nikah.


"Engga mungkin! Tinggal beberapa jam lagi kalian menikah!"


"Itu kenyataannya Yah, dia yang bilang ke aku tadi."


Keruwetan mulai terasa, seluruh keluarga besar mulai berdialog bagaikan tawon sedangkan aku, calon pengantin hanya bisa termenung meratapi nasib yang sama sekali tidak terlintas dalam benak.


________


Minggu, 11 Juli 2021.


_______