Call Me Isha

Call Me Isha
24. Suapin Arga



Tiga piring pasta tersaji di depan mata. Kini, aku berserta kedua kakak beradik yang sudah lama tidak saling sapa duduk sembari berbincang ringan di salah satu tempat makan yang ada di Bandara.


Kedua netraku bergantian menatap orang yang ada di depanku. "Jadi, Balqis itu adik kandung Kakak?"


Meski sudah dijelaskan, aku tetap tidak percaya apalagi saat melihat keduanya sama sekali tak memiliki kesamaan pada wajah, sedikit menyayangkan juga karena mereka terlihat cocok sebagai sepasang kekasih.


Gadis cantik dengan rambut sebahu itu mengangguk mantap. "Kakak pasti mikirnya tadi aku pacarnya Kak Raefal kan?"


Aku meringis karena sempat berfikir keduanya memiliki hubungan seperti yang disebut.


Balqis tertawa dengan anggunnya. "It's okey. Kakak tenang aja, kita engga ada hubungan lain kok. Jadi, Kak Isha engga perlu cemburu."


"A-apa?" gagapku.


Balqis tertawa kencang bahkan sampai memegangi perutnya. "Dasar friendzone!"


"Gila ini anak," cibir Kak Raefal sembari memakan makanannya.


"Orang kenyataannya gitu, kasihan Kak Isha digantung." Balqis menatapku dengan senyum menggoda.


"Aku sekarang duduk bukan digantung," ucapku jujur.


Balqis terdiam beberapa detik sebelum kembali menyemburkan tawa. "Kak Isha polos banget."


"Makan Balqis!" titah Kak Raefal yang sepertinya sudah jengah.


"Bukan mau suudzon, tapi orang bilang itu friendzone." Sembari menggulung pasta, Balqis masih sempat bernyanyi.


"Anak ini," gumam Kak Raefal yang dapat aku dengar dengan jelas.


Aku kembali menatap Balqis. "Kamu habis liburan kemana?"


Senyum cerah Balqis memudar seketika. "Aku engga liburan."


Aku menjadi tidak enak saat suara lirih Balqis mengalun, sebelum dia melanjutkan kalimatnya, Kak Raefal terlebih dahulu menginstruksi


"Ayo cepat, setelah ini kita pulang!"


"Mama di rumah Kak?" tanya Balqis dengan wajah berseri kembali.


"Iya, sekarang habisin makanannya ya." Tangan Kak Raefal membelai rambut Balqis.


Dua jam berlalu, mulai dari aku yang ikut ke rumah Kak Raefal untuk mengantarkan Balqis hingga kini, aku duduk diam dalam mobil yang membawaku pulang.


"Isha, gue mohon jangan tanya sesuatu yang engga seharusnya lo tahu," ujar Kak Raefal yang berada di sebelahku seraya mengemudi.


"Bertanya apa Kak? Apa aku salah bicara tadi?" tanyaku tak tahu.


"Lo engga lihat tadi? Gue mohon jangan ungkit masalah Balqis yang ke luar negri."


"Kalau Kak engga suka aku minta maaf,"


"Sudahlah lupakan," putusnya.


Aku turun dari mobil tanpa berucap satu katapun, begitu pula Kak Raefal yang begitu aku turun dia segera menjalankan mobil dengan cepat.


"Sore Isha, habis jalan?"


Aku tersentak kaget saat sosok yang ada di belakang tubuh berucap sembari menepuk pelan pundakku.


Membalikkan badan guna berhadapan. "Sore, ngapain kamu disini?"


"Tadinya mau ngajak kamu main, tapi kayaknya kamu capek karena habis jalan sama dia."


"Maaf, nunggu aku dari jam berapa?" tanyaku tidak enak.


"Belum lama, baru sekitar tiga jam,"


Aku terkejut. "Maaf, aku engga tahu kamu nungguin aku."


"Engga apa, yang penting sekarang ketemu."


"Mau masuk?" tawarku.


"Tentu."


Berjalan beriringan dengan Arga yang membisu hingga kami tiba di ruang tamu.


"Kamu tunggu disini sebentar,"


Tanpa meminta jawaban aku pergi ke dapur lalu, kembali dengan membawa nampan yang terdiri dari minuman serta cemilan.


"Kamu udah makan?" tanyanya.


"Udah."


Dapat aku lihat bila Arga sedikit kecewa. "Okey."


Kruyuk!


Aku melirik perut Arga yang berbunyi lalu disusul tawa Arga yang menggelora.


"Maaf, gue belum makan ini."


Rasa bersalah semakin dominan. "Astaga,"


"Niatnya mau makan bareng, tapi karena kamu udah makan," Menjeda sembari mengedikkan bahu. "Its ok!"


"Kenapa engga bilang, mau makan?" tawarku yang kembali berdiri untuk membawa makanan.


"Engga perlu Sha, engga enak juga sama Tante. Kita ke depan komplek aja. Biasanya banyak pedagang disana."


Aku mengangguk untuk menurutinya, sangat tidak enak karena membuat anak orang kelaparan.


"Kenapa kamu nunggu aku yang engga pasti kapan baliknya, kalau kamu sakit gimana?" tanyaku cerewet sembari berjalan di sebelah Arga. .


Bukannya merenung, lelaki tampan itu justru memamerkan senyum yang bisa membuat pipi memanas.


"Kenapa senyum? Suka kalau sakit?"


"Engga apa kalau gue sakit demi dapet perhatian lo."


"Arga, ini bukan waktunya bercanda," ingatku.


"Aku engga bercanda, aku suka kamu perhatian begini." Dia mengacak rambutku gemas, runtuh sudah pertahananku untuk terlihat biasa saat bersama Arga.


Setelah beberapa waktu, Arga menjatuhkan pilihannya kepada warung tenda pecel lele.


Arga menarik tanganku sekaligus mendududukan diri ini tepat di sebelahnya.


"Ini mas pesananya. Silakan di nikmati," ujar pemilik warung itu seraya meletakan makanan yang tadi Arga pesan.


Cukup lama makanan itu berada di depan Arga namun belum juga disentuh, membuat aku terusik untuk menegur.


"Ga! Itu! Kenapa dianggurin?"


"Kamu engga peka? Aku mau kamu suapi. Kamu juga yang bikin aku kelaperan."


Aku melongo tak percaya dengan sikap manja Arga. "Apa? Kenapa jadi aku harus suapi kamu?"


Arga menggelengkan kepala seperti anak kecil. "Engga mau tahu! Pokoknya tanggung jawab!"


"Apa?" Sedikit kesal karena aku juga lelah dan belum bergantian pakean.


"Kamu yang bikin aku keroncongan, sekarang tanggung jawab dengan suapi aku!"


Lelah dirasa, menyebabkan aku enggan untuk mendebat dan memilih menurut kepada yang Arga minta.


Semua lancar hingga pada suapan kelima, mulut Arga tidak dibuka hingga membuat aku mendengus kesal.


"Arga, ayo!"


Dia mentapaku lalu mengambil alih sendok itu. "Kamu juga makan! Lihat, mereka ngira aku perbudak kamu."


Aku melirik orang sekeliling yang memang sedari tadi memperhatikan.


Aku merengut malu. "Kamu juga, udah gede masih minta disuapin."


"Itu namanya romantis."


"Bukan romantis tapi bikin hati meringis," batinku.


"Mau makan sendiri?" tanyaku.


Dia menggeleng. "Satu suap buat aku dari kamu dan satu suap dari aku untuk kamu."


"Aaaaa---" Dia membujukku membuka mulut, aku yang tidak enak hati hanya membuka mulut dan mengunyahnya, lalu mengambil satu suap dan menghantarkan ke mulut Arga hingga makanan habis.


Aku sungguh malu sekarang, pasalnya mata seluruh pengunjung terfokus melihat ke arah kami, tentu aku sangat risih.