Call Me Isha

Call Me Isha
27. Bukan siapa-siapa



Sesuai janji, kini aku duduk di bangku kelas seorang diri sembari menunggu kedatangan Kak Raefal.


Kepalaku menoleh ke kanan saat seseorang duduk tanpa izin di samping.


"Engga ke kantin?" tanya kami bebarengan yang kemudian menyemburkan tawa.


"Kok bisa bareng ya?" ucapku sembariĀ  mencoba menghentikan tawa.


"Itu yang namanya jodoh Sha."


"Bisa aja."


Selepas puas, Arga memperhatikan sekeliling seperti sedang mencari sesuatu sebelum menatapku penuh tanya.


"Tumben Raefal engga nongol."


"Mungkin lagi dijalan, tadi bilangnya mau makan bareng."


"Mungkin. Eh! Kamu udah bisa gunain HP itu?" tanyanya.


"Belum, terasa asing dan takut rusak yang ada."


"Mau aku ajarin?"


Aku berfikir sejenak. "Oke!"


"Mana handphone kamu?" pintanya sembari mengadahkan tangan.


"Ini!"


Setelah ponsel itu berada di tangan Arga, lelaki itu semakin mengikis jarak diantara kami.


"Tombol sebelah kanan yang kecil buat nyalain handphone. Yang atasnya buat volume," tunjuk Arga.


Aku diam memperhatikan tahapan penggunaan ponsel pintar itu, sesekali aku disuruh mencoba untuk melatih jari agar tidak kaku. Itu yang dikatakan Arga.


Duniaku kini hanya berporos pada Arga bahkan, karena terlalu menikmati, aku sampai melupakan sosok yang harusnya datang menghampiri.


"Ini kamera, kamu bisa berfoto disini."


Arga mengarahkan ponselnya sedikit tinggi agar wajah kami terpampang nyata layaknya sebuah cermin. Teknologi memang sangat canggih saat ini.


"Ini ada filter yang suka Orlin atau perempuan gunakan, cobalah!"


Aku mencoba dan sedetik itu tertawa melihatnya, wajahku berubah total menjadi tua dengan kacamata bulat melingkupi area pengelihatan.


Aku sangat menikmati, sejujurnya dalam lubuk hati aku sangat senang karena sosok Arga yang selama ini aku kenal terlihat kembali setelah sekian lama.


"Kita vidio call yuk!" ajak Arga.


Suara dering terdengar, dengan ragu aku menekan tombol hijau lalu, tampaklah sosok Arga yang seolah terkurung dalam ponsel.


Aku memamerkan ponselku pada Arga dengan antusias. "Wajah kamu disini!"


Orang yang aku ajak bicara tertawa sampai memegang perutnya. "Kamu ini! Sekarang kalau kamu rindu seseorang kamu engga perlu jauh-jauh ketemu, lewat panggilan ini saja kamu bisa puas saling memandang."


"Teknologi memang sangat maju," takjubku.


Diponselku tidak lagi terlihat sosok Arga, aku kira lelaki itu telah mematikan panggilannya.


"Hampir lupa, karena mulai sekarang aku guru private kamu jadi, mulai sore nanti kamu harus belajar bareng aku."


Aku berfikir sejenak. "Kayaknya sore ini engga bisa deh Ga."


"Kenapa? Ada janji apel sama Raefal?"


"Engga."


"Aku ada janji. Lain kali ya Ga."


Arga menatapku tak suka. "Sha, harusnya kamu lebih mentingin pelajaran, emang kamu mau didepak dari jurusan?"


Aku yang hendak membela diri diurungkan, apa yang Arga katakan memang tidak ada salahnya.


"Bukan gitu, kita belajarnya mulai besok ya Ga."


Nafas berat yang dikeluarkan Arga terdengar. "Terserah."


"Maaf," cicitku.


Dia tersenyum sembari mengusap puncak kepalaku. "Engga apa, aku ngerti. Pergilah! Kejar yang jadi prioritas kamu."


Aku diam menatap Arga yang juga melakukan hal yang sama denganku.


"Kamu engga pergi? Mungkin dia nunggu kamu buat makan siang Sha."


Aku tersadar akan hal itu dan dengan segera berdiri tanpa kata untuk mencari sosok lelaki yang selalu membela diri ini.


Meski asing, aku memasuki gedung kelas dua belas dengan langkah pasti namun, belum juga aku tiba di kelas Kak Raefal, sosoknya terlihat sedang memasukan sesuatu ke dalam loker.


Senyum yang aku terbitkan khusus untuk lelaki itu pudar seketika saat, sosok perempuan menghampiri Kak Raefal bahkan terlihat berbincang hangat.


Tubuhku seolah dipaku, ada setitik rasa kecewa yang menjalari hati bahkan, air mata meluncur saat tawa lelaki itu tidak lagi dikhususkan kepada diri ini.


Hak, aku memang tidak memiliki satu hal itu untuk merasakan apalagi menyimpan pesakitan ini namun, aku juga tidak bisa mengelak bila hati merasa terluka melihat semua.


"Aku kira, aku istimewa," gumamku.


Aku menghapus air mata yang terus menerus membanjiri pipi, mencoba menyangkal rasa yang membelenggu jiwa.


Tak seharusnya aku memilikinya dan seharusnya aku cukup tahu dan sadar diri.


Aku berbalik arah, meninggalkan gedung kelas dua belas sembari berlari kecil disertai air mata yang tidak bisa lagi aku bendung.


Terlalu sibuk dengan urusan pesakitan, aku sampai tidak terlalu memerhatikan jalan sehingga, ketika aku keluar dari gedung itu tubuhku terjatuh karena bertabrakan dengan sosok lain.


Sebuah tangan tanpa aku sangka melayang di hadapan, membuat kepala ini terangkat guna melihat siapa gerangan yang tadi aku tabrak.


"Kak Arik," gumamku kala melihat wajahnya.


"Engga mau berdiri?" tawarnya, mengalihkan diriku.


Aku meraih bala bantuan itu sebelum berdiri tepat di hadapan Kak Arik.


"Are you oke?" tanyanya dengan wajah penasaran sembari memperhatikan wajah ini, mungkin dia tahu bila aku sehabis menangis.


Aku menggeleng serta menghapus air mata itu.


"Hey! Lo kenapa kesini? Cari Raefal? Dan kenapa lo nangis?"


"Engga Kak, aku tadi disuruh guru buat nganterin buku ke kelas dua belas IPS satu," dustaku.


"Terus, tadi apa? Gue lihat wajah lo basah terutama mata lo, habis nangis? Kenapa?"


"Tadi aku habis dari toilet cuci muka,"


"Okey anggap aja gue percaya."


Kak Arik megusap pundak ini. "Jaga diri baik-baik, jangan keseringan bohong."


Aku hanya tersenyum kecil untuk menanggapi lalu berjalan pergi.