Call Me Isha

Call Me Isha
32. Dibela



Meski nyanyian manis yang Arga berikan telah berlalu lama namun, pagi ini senyum serta hati berbunga belum juga reda.


"Wah lebar bener senyum lo. Menang lotre lo?" tanya seorang lelaki seraya merangkul pundakku.


Kami berjalan berdampingan di tengah halaman sekolah untuk menuju gedung kelas masing-masing.


Aku berhenti sebelum meminta Kak Raefal menghadap ke arahku yang tengah ceria.


"Aku seakan terbang ke angkasa," girangku sembari meloncat. "Seneng banget!"


Kak Raefal menatapku aneh sebelum melirik sekitar, kini kami menjadi pusat perhatian karena tingkah konyol barusan.


Lelaki menyeramkan itu menyentil keningku pelan. "Jaga Image, engga malu lo."


Aku terkikik geli sebelum kembali melangkah diikuti Kak Raefal. "Maaf, habisnya aku seneng banget si."


"Memang apa yang bikin lo seneng selain kehadiran gue?" Dia bertanya dengan kepercayaan diri penuh.


Aku menatap wajah Kak Raefal dengan meledek. "Mau tahu banget, atau mau tahu aja."


Telapak tangan lebar Kak Raefal meraup wajahku sekali. "Terserah lo!"


"Yakin ini engga mau tahu?" tanyaku memastikan sembari menaik turunkan alis.


Decakkan keras terdengar. "Terserah! Nanti juga gue bakal tahu."


Aku melongo saat langkah Kak Raefal menjadi tergesa hingga, menyebabkan aku tertinggal.


"Kak! Tunggu!"


Lelaki berwajah tembok suram itu menghentikan langkahnya sembari menatap aku malas. "Kenapa lagi?"


"Kakak beneran engga mau tahu?"


"Terserah! Kalau lo mau bilang ya silakan, engga juga gue bodo amat."


Aku menyipitkan mata. "Jadi beneran engga mau tahu?"


"Bilang sekarang! Kalau engga gue pergi!" ancamnya yang membuat aku tertawa.


"Sini!"


Menarik tangan Kak Raefal agar kepalanya sedikit turun hingga sejajar dengan bibirku.


Aku menutup sekeliling area telinga lelaki itu menggunakan telapak tangan.


"Kemarin sore, ada yang menyanyikan lagu Cinta Luar Biasa untukku."


Dia menjauh dariku sembari mengerutkan kening. "Siapa? Orang gila? Atau pengamen?"


Senyum indahku redup karena prasangka itu. "Iya!"


Dengan tergesa aku menuju gedung kelasku, membiarkan Kak Raefal mengejekku di belakang sana.


"Pagi Cupu!" sapa Orlin dengan senyum manis kala, aku baru menginjakkan kaki ke dalam gedung.


"Orlin, ternyata Cupu naik tingkat, sekarang banyak yang ngejar-ngejar dia." Acel berbicara sembari menatapku penuh cemooh.


Aku yang hendak pergi harus kembali di tempat semula saat, Anoora menarik tanganku cukup kuat.


"Acel, wajarlah dia banyak yang suka. Setara dia murahan. Entah sudah berapa banyak batang yang memasuki dia." Menjeda sebentar. "Tampang Cupu itu cuma kamuflase."


"Cih! Cabe!" sinis Acel.


Orlin mendorong tubuhku, untungnya aku tidak sampai tersungkur.


"Cupu! Lo itu seharusnya ngaca! Tampang kayak anak TK aja sok kecakepan!"


Aku melengos pergi akan tetapi, lengan tanganku dicekal erat oleh Acel yang menyebabkan diri ini harus lebih bersabar.


"Jangan mentang-mentang lo deket sama Kak Raefal ditambah Arga, lo bisa macem-macam!"


Aku yang jatuh terduduk menahan ringisan saat Orlin menginjak dadaku. "Lo cuma sampah!"


"Orlin!"


Aku dan ketiga orang pelaku pembullyan melotot saat ada sosok lelaki yang menarik raga Orlin menjauh dariku.


"Lo apa-apaan! Udah cukup lo siksa dia tempo hari, udah cukup Orlin!!" bentak orang itu.


"Lo marahin gue demi si Cupu?" tanya Orlin nampak tak percaya. "Dikasih berapa ronde sama dia sampai lo kayak gini?!"


"Lin jangan merendahkan orang," ingat Arga.


Orlin tertawa kecil. "Kecewa gue sama lo,"


"Orlin!" panggil Acel lalu menyusul Orlin, yang berlari entah kemana.


"Lo bakal kena akibatnya Cupu!" ancam Anoora lalu ikut pergi menyusul Orlin dan Acel.


Arga mengulurkan tangannya ke hadapanku hendak membantu, membuat seluruh orang yang melihat nampak berbisik.


Aku menerima uluran tangannya. "Makasih, dan maaf udah bikin kamu sama Orlin bertengkar."


Dia tersenyum. "Harusnya aku yang minta maaf ke kamu, karena Orlin udah keterlaluan."


Aku membalas senyuman itu. "Engga masalah."


"Kamu kembali ke kelas, sebentar lagi bel, aku pergi dulu!" pamitnya padaku sebelum pergi meninggalkanku yang masih tak percaya dengan kenyataan.


         Istirahat kali ini aku duduk berhadapan bersama Kak Raefal di kantin sembari memakan bakso.


"Gua denger tadi lo dibully?" tanya Kak Raefal setelah menelan.


"Iya."


"Terus katanya lo di tolongin Arga, bener?"


"Iya."


Aku tidak terlalu memperhatikan mimik wajah Kak Raefal karena saat ini aku sibuk pada bakso.


"Lo engga seneng? Setara, lo 'kan suka sama dia dari dulu."


Aku mengangkat kepada sembari tersenyum malu. "Pake banget."


Lelaki mengangguk. "Kayaknya gue udah engga dibutuhkan."


Suara alat makan yang aku jatuhkan terdengar sedikit nyaring, tatapan tak suka aku tunjukan kepada Kak Raefal yang berbicara sembarangan.


"Jangan bicara seperti itu."


"Tapi gue bersyukur kalau dia beneran berubah, gue jadi tenang saat engga bisa ada disisi lo lagi."


"Kakak ini ngomongnya kayaknya mau pergi jauh aja."


"Engga ada yang tahu." Menjeda sebentar. "Kalau gue pergi jauh, lo bakal kangen gue seperti saat lo kangen Arga engga?"


Aku mengangkat bahu acuh. "Tergantung, emang Kakak mau pergi kemana?"


"Hanya perandaian."


"Omong-omong, Kakak mau kuliah dimana?"


"Engga tahu," jawabnya cuek.


"Kok gitu, 'kan bentar lagi lulus,"


"Hidup-hidup gue, jadi terserah gue dong." ucapnya dengan sangat amat enteng, membuatku menggelengkan kepala tak habis fikir dengan jalan pikirnya.