
Membuka kelopak mata secara perlahan, puluhan atau mungkin ratusan pohon yang menjulang tinggi menjadi objek yang pertama kali mata lihat lalu, aku mendesah kasar saat sadar bila kini tubuh terikat di salah satu batang pohon.
Gerakkan meronta yang diciptakan sama sekali tidak membantu, yang ada kini tubuhku semakin merasa sakit.
"Tolong!"
Berteriakpun aku lakukan namun, aku hanya mendapat balasan suara gema yang berasal dariku, dapat aku simpulkan jika kini tengah berada di hutan belantara.
"Selamat malam Isha!"
Dalam kegelapan malam yang hanya diterangi oleh cahaya lentera yang tersebar di berbagai titik, dapat aku lihat sosok Orlin beserta kedua sahabatnya yang mendekat.
"Lepas!"
"In your dreams!" kata Acel.
Tangis turun tanpa aku minta. "Aku mohon, lepaskan aku."
"Setelah gue puas bermain." Jeda Orlin, dia mendekat lalu menelusuri garis wajahku menggunkan kukunya yang tajam. "Lo bakal puas."
"Kita mulai sekarang!" titah Orlin kepada kedua sahabatnya.
Kedua gadis yang kerap menjadi kaki tangan Orlin mulai mendekat, menyebabkan mata ini tertutup karena takut dengan hal yang akan terjadi.
Beberapa menit aku sama sekali tidak mengalami kejadian yang membuat mulut berteriak, justru kini aku merasa bingung saat sadar ikatan tali yang memilit tubuh telah hilang.
Aku menatap mereka heran. "Ka-kalian?"
"Lo bebas!" balas Orlin dengan senyum manis.
Aku tak bergeming, masih mencoba mencerna kejadian beberapa menit lalu.
"Ayo! sekarang lo bebas! Engga mau pergi?" Acel menepuk pundakku seraya tersenyum.
Senyum mengembang, aku mirip seperti anak usia lima tahun yang diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk bermain hujan. Tanpa berfikir ulang kaki ini melangkah lebar.
Namun, semua itu harus kandas saat di detik dimana tanganku dicekal oleh Anoora hingga membuat aku berdiri di tempat semula.
"Lo pikir semudah itu?" senyum sinis terpancar dari Orlin.
Acel menarik rambut hitamku hingga teriakan tidak lagi bisa ditahan, sedangkan orang yang melakukan itu terasa puas mendengarkan.
"Ini buat lo yang berani laporin kita ke BK!"
"Le-lepasin!" pintaku dengan air mata yang dengan mudahnya lolos begitu saja.
"Lepasin? Ini belum sebanding dengan apa yang lo lakukan ke kita," kata Anoora.
"Sumpah, bukan aku yang melakukan itu."
Acel membanting tubuhku ke atas permukaan tanah dengan keras, darah juga terlihat menetes karena ada bebatuan runcing yang menyobek lapisan kulit luar.
Aku terisak hebat, berharap Tuhan akan berbaik hati dengan mengirimkan seseorang untuk menolong diri.
"Kak Raefal tolong!"
Tanpa perintah, kata itu lolos begitu saja dari bibir membuat diri ini sontak menutup mata dan berharap Orlin tidak mendengar kata yang baru diucap.
Orlin mendekat sebelum menginjak punggungku serta menekankannya tanpa perasaan, menyebabkan rasa sakit kian terasa.
"Bangun lo!"
Orlin berteriak sembari menguncang tubuhku menggunakan kakinya yang lain sebelum mengambil ancang untuk menendang perutku hingga membuat tubuh ini meringkuk seperti udang.
Tidak cukup menginjak punggung kini, Orlin menginjak telapak tanganku tak kalah keras.
"Ini yang akan terjadi kalau lo bermain-main sama gue. Benalu sekolah," desis Orlin.
"Sakit!"
Layaknya sebuah bola, perutku kembali ditendang bahkan hingga membuat tubuh berguling.
"Bangun!" titah Orlin yang aku acuhkan. Masih sibuk memegang perut yang rasanya sangat sakit.
"Berdiri bodoh!" Anoora menarik paksa tubuhku untuk menurut pada perintah.
Nafas terasa lebih berat dengan dada yang terasa terhimpit, pandangan juga terlihat kabur, hal yang aku dengar hanya suara tawa dari ketiga orang yang menyakiti jiwa serta raga.
Saat mata mulai terasa berat dan mulai mengkabur seperti foto tua yang sudah usang, aku menutup mata untuk hilang sementara.
đź‘‘
Jiwaku dipaksa kembali kepada raga saat satu ember air dilemparkan kepada wajah oleh orang yang tadi membully.
Tidak berbeda dari yang sebelumnya, kini aku juga sudah diikat pada batang pohon.
"Selamat menanti hukuman, babu." Seringai Orlin.
"Ha-haus," kataku terbata.
"Acel! Bawakan air, engga akan baik kalau babu kita mati karena dehidrasi," ungkap Orlin.
Dengan terburu aku meminum air yang disodorkan Acel, rasa kering itu terbayarkan, berbeda dengan ketakukan yang kini telihat semakin besar.
Aku menutup kelopak mata ketika mata gunting di arahkan mengelilingi wajah.
"Takut heh?" sinis Orlin.
Kini gunting di tangan Orlin dia arahkan guna membelai rambut kepang dua milikku.
"Pasti lo repot bukan harus mengepang rambut. Bagaimana kalau kita permudah dengan menggunting habis?"
"Ja-jangan."
"Okey aku akan memotongnya," tawa Orlin layaknya orang gila.
Suara panggilan telepon milik Orlin membuatku sedikit lega, sedangkan pemiliknya berdecak kesal sebelum undur diri.
"Lin biar gue yang potong rambut dia," tawar Anoora.
"Biar gue aja, lo awasin dia!" titah Orlin lalu pergi menjauh, mungkin dia membutuhkan privasi.
"Aku mohon lepas,"
"Lo pikir dengan cara mohon gitu gue bakal luluh? Lo salah besar! Karena gue terlanjur benci sama lo!" tekan Anoora.
Suara teriakan berhasil menyita seluruh perhatian, namun kemudian rasa takut telihat sangat jelas saat Orlin berjalan sembari menggenggam pisau.
"Orlin! Are you okey?" tanya Acel saat sahabatnya telah ada di hadapan.
Tatapan tajam Orlin terhunus kepadaku. "Gue mau bunuh dia sekarang!"
"Lo engga berniat bunuh dia beneran 'kan Lin?" tanya Anoora yang sekarang mendekat ke arah kedua sahabatnya itu.
"Semua karena babu engga tahu diri itu! Gue benci lo!" teriak Orlin.
"Lin, kalau ada masalah lo bisa cerita ke kita." Acel sudah terlihat panik.
Orlin menunjuk diri ini menggunkan pisau di tangan. "Semuanya hancur karena dia! Semua yang gue punya!"
"Semua yang gue dapatkan denganÂ
susah payah hancur karena babu rendahan!"
Aku meronta, mencoba melepas tali yang melilit tubuh, ketakutan tidaklah pergi namun memuncak saat Orlin berjalan cepat menuju ke arahku dengan amarah yang lebih besar.
"Lin!" Anoora menghentikan langkah Orlin.
"Sadar! Lo engga bisa habisin dia!" histeris Acel.
"Orlin! Ingat! Kita hanya akan bully korban, bukan membunuhnya sungguhan! Kita bukan pembunuh! Kita engga bisa melakukan ini!" ingat Anoora.
"Prinsip sialan itu! Gue udah engga perduli!" teriak Orlin. "Gue mau bunuh dia cepat atau lambat!"
Kaki tangan Orlin mencegahnya dengan cara memeluk tubuh wanita cantik itu namun karena rontaan kasar, Orlin berhasil lepas.
"Lo bakal mati!"
Aku menutup mata saat Orlin tengah memposisikan pisau itu tepat di depan jantung yang bila terkena akan menghilangkan nyawa, mungkin gila namun aku merasa pasrah.