
"Isha, lo engga apa?" tanya Kak Raefal menepuk pundakku.
Mengusap air mata sembari menggeleng pelan. "Engga Kak."
"Maaf, ini salah gue."
Memilih menatap wajah Kak Raefal, rasanya aku ingin terisak akan tetapi malu karena disini bukan ruang sepi.
Telapak tangan lelaki itu bertengger di atas pundakku. "Kalau tangisan bisa bikin hati lo lega kenapa harus ditahan?"
Kepalang malu, dengan cepat aku memeluk raga tegap Kak Raefal.
"Aku sayang dia," bisikku.
Hening terasa hingga sebuah usapan di bagian kepala terasa menenangkan. "Kalau lo memang sayang kejar. Jangan biarkan dia hilang dari genggaman."
Perlahan, memutuskan jarak lalu meminta izin melalui tatapan yang dibalas anggukan.
"Pergilah,"
Detik itu juga aku bergegas keluar dari kafe, mengejar sesuatu yang aku anggap lebih penting dari diriku sendiri.
Menengok ke segala arah hingga menemukan sosok Arga yang terlihat hendak pergi menggunkan kendaraan roda dua.
"Arga!" panggilku dengan suara tersendat saat telah tiba di hadapan.
"Sha?"
Wajah kaget Arga seolah menunjukan jika dirinya telah melupakan kejadian beberapa menit lalu.
"Aku beneran sayang sama kamu, jangan pergi," lirihku.
Jemari Arga menari di atas pipi untuk membersihkan air mataku, sembari tersenyum simpul.
"Aku engga bakal pergi, jangan nangis."
"Maaf,"
"Denger, ini juga salah aku yang terlalu berharap dijadikan prioritas olehmu."
"Maaf Ga, tapi aku sama Kak Raefal engga ada hubungan khusus," jelasku.
Dia mengangguk lalu tersenyum manis. "Kita lupain masalah tadi ya?"
"Kamu engga akan pergi 'kan Ga?" tanyaku memastikan.
Dia menggeleng membuatku lega lalu segera memeluk erat tubuh itu.
"Aku takut kamu pergi," tangisku membuatnya mengelus kepalaku lembut.
"Engga akan," yakinnya membuatku mengangguk dan semakin meluknya erat
Kejadian pelukan di depan kafe telah berlalu hingga lebih dari lima hari namun, hingga detik ini aku sama sekali belum sekedar berpapasan dengan Arga, kekasihku itu seakan hilang tanpa jejak.
Perasaan khawatir seolah menjadi teman disepanjang hari, mencari lelaki itu di rumahpun menjadi enggan aku lakukan karena malu.
Alasan keabsenanpun hanya sekedar izin, aku tidak tahu pasti namun hal itulah yang selalu aku dengar dari mulut Orlin saat guru mengabsen nama kekasihku.
"Lo sendirian?"
Karena terlalu fokus pada Arga, aku sampai tidak sadar bila Kak Raefal telah duduk di sampingku seperti biasa.
"Seperti yang Kakak lihat."
Alis tebal Kak Raefal terangkat satu. "Masih marahan? Bukannya terakhir gue lihat kalian pelukan di depan kafe?"
"Sok tahu!" balasku cepat.
"Memang kemana dia? Bosen?"
"Engga tahu! Lagi apel kali sama mantannya," dengusku malas.
"Lo cemburu? Udah putus aja ketimbang pacaran sakit hati mulu."
Aku memicingkan mata. "Kakak."
"Bercanda! Baperan banget lo jadi cewek."
Menghembuskan nafas lelah yang aku lakukan.
"Udah lama kita engga jalan, minggu ke pantai!" putusnya seperti biasa.
"Aku engga mau bikin Arga salah paham lagi Kak, udah untung kemarin dia engga masalahin. "
"Bucin!" semprotnya. "Lagian dia aja engga ada kabarkan? Jadi buat apa lo jaga hati buat orang yang sering ngilang."
"Kenyataannya aku ini punya Arga, emang salah kalau aku jaga hati buat dia?"
"Belain aja terus pacar lo yang entah hatinya buat siapa," balas Kak Raefal tanpa menatapku.
"Kok Kakak bicara gitu?" Sedikit tidak terima dengan kalimat itu.
"Emang kenapa? Benerkan? Kalau dia beneran sayang, sesibuk apapun pasti bakal kasih lo kabar meski cuma satu emoticon Sha," cecar Kak Raefal begitu menggebu.
"Aku engga suka Kak bicara gitu, lagian dia ngilang bukan dari aku aja tapi, dari kelas dan sekolah,"
"Terserah!"
🍁
"Serba lambat!" semprot Kak Raefal saat aku baru keluar dari gedung kelas sebelas.
"Maaf Kak, soalnya tadi aku piket."
"Ayo!"
Setelah beradu argumen, akhirnya aku menyetujui ajakan untuk jalan siang ini. Alasannya karena, sekarang sekolah pulang lebih awal.
"Kita mau kemana Kak?" tanyaku saat kami berjalan beriringan menuju Parkiran.
"Gue juga belum mikir, tapi lebih baik sekarang kita makan siang."
"Ayo! Mau makan dimana?"
"Gue ada tempat paling recomended buat lo, gue yakin lo juga bakal suka."
Melewati beberapa kali lampu merah, kini mataku menatap warung tenda yang bertuliskan 'Pecel lele Mbok Sum', dimana tempat itu terlihat cukup ramai oleh berbagai kalangan.
"Mbok! Kayak biasanya dua!" teriak Kak Raefal membuatku malu karena, banyak mata memandang ke arah kami.
"Kak jangan teriak-teriak, malu dilihatin orang."
"Bodo amat."
"Lo doyan atau lapar?" cibir lelaki di depanku.
"Sebenernya aku engga terlalu suka, tapi pengecualian buat ini. Perpaduan yang cukup membuat lidah dimanjakan," pujiku.
"Gue bilang juga apa," katanya seolah dia dibayar untuk mengiklankan makanan.
Puas dengan pecel lele, kami memutuskan untuk segera pulang karena perkiraan cuaca menunjukkan pertanda hujan.
"Makasih Kak buat hari ini," ujarku sesaat setelah turun dari motornya.
"Isha!"
Aku terlonjak kaget kala pergelangan tanganku dicekal oleh seseorang yang berdiri di belakang.
Kekasihku akhirnya menunjukkan wajahnya sembari menatapku cukup dingin.
"Darimana?"
"Gue cuma ajak dia makan, engga usah berlebihan."
Lontaram kalimat dari Kak Raefal berhasil menarik atensi kami sehingga, suasana semakin terasa menegangkan.
Arga melepas pergelangan tanganku lalu tertawa kecil. "Ekspetasi gue, setelah ngilang itu dikangenin bukan dikasih kejutan perselingkuhan."
Kedua bola mataku berkaca. "Arga?"
"Apa?!"
Lelaki yang menjabat sebagai raja hati perlahan mengikis jarak diantara kami hingga bibirnya bergerak di depan telingaku.
"Ternyata benar, orang yang pendiam aslinya menghanyutkan."
Menatap Arga tidak percaya seraya menangis, sedangkan tangan lelaki itu perlahan mengangkat rambut kepangku.
"Lo berlagak sok polos dengan ini, memperdaya gue sehingga bertekuk lutut di depan lo." Arga melempar kacamataku dengan kasar. "Permainan yang hebat!"
"Anjing!" teriak Kak Raefal.
Mantan ketua ekskul basket sekolah itu turun dari motor dan memberi bogem mentah kepada Arga sebelum kembali memakaikan aku kacamata yang retak di beberapa bagian.
"Kalau lo ngebet sama Isha engga gini caranya bangsat!" desis Arga membuat emosi Kak Raefal semakin menyulut.
"Lo!"
Tangan Kak Raefal menarik kerah baju yang dikenakan Arga membuat, diri ini kian panik dan sebisa mungkin melerai.
"Kak lepas!" pintaku namun tak diindahkan olehnya.
"Lepas!" desis Arga melawan Kak Raefal hingga terlepas.
Arga menatapku sekilas lalu pergi begitu saja yang segera aku susul.
"Arga!"
"Dengerin aku Arga!"
"Arga! Kita engga melakukan hal yang kamu pikirkan!" jelasku membuatnya berhenti tanpa mau susah menoleh ke arahku.
"Gue udah capek Sha."
Tubuhku membeku mendengar kalimat yang lelaki itu lontarkan, cukup menyakiti hati hingga mencapai batas sana.
"Alasan lo basi, gue udah capek denger itu."
"Tapi itu kebenarannya Arga," kekeuhku.
"Udah cukup Sha, hati gue engga sekuat itu untuk lo kembali patahin," lanjutnya lalu berjalan pergi.
"Sha!" panggil Kak Raefal menepuk pundak ini membuatku menolehke arahnya dengan air mata yang siap tumpah.
"Maaf, ini semua karena gue."
Aku mengusap air mata dengan kasar. "Ini juga salah aku kok Kak."
"Kalau mau nangis, engga apa. Gue tahu yang lo rasain,"
Kalimat itu sanggup membuatku menumpahkan air mata, mengabaikan anak kecil yang lewat dengan tanda tanya besar di kepala saat melihatku menangis.
"Kakaknya kenapa? Kakak jahatin ya?!" tuduh anak perempuan yang bisa aku tebak masih berusia lima tahun itu.
Kak Raefal mengusap kepala anak itu lembut. "Kakaknya nangis karena balonnya lepas."
"Kakak nanti bisa beli lagi, jangan nagis!" bujuk anak kecil itu polos, sangat menggemaskan, membuatku berhenti menangis dan mengangguk.
"Aku pergi dulu! Babay Kakak!" pamit anak itu sembari berlari.
"Tuh! Katanya Kakak jangan nangis, nanti bisa beli lagi balonnya," kekeh Kak Raefal lalu memberi saput tangan ke hadapan, membuat tangan ini meraihnya.
Srot!
Bola mata Kak Raefal terlihat membesar, mungkin lelaki itu merasa jorok dengan yang aku lakukan.
"Jorok! Nyesel gue minjemin sapu tangan."
"Kalau engga ikhlas lebih baik engga usah ngasih. Nih!" Aku mengembalikan saput tangan kepadanya.
Kak Raefal menyetak tanganku. "Jadi cewek jorok banget lo. Itu 'kan bekas ingus lo."
"Lalu mau diapain?"
"Buang!" titahnya.
Dengan hati setengah mencibir, aku membuang kain itu di tong sampah terdekat.
"Pulang!" Dia menggandeng tangan ini menuju depan rumahku kembali.
Melihat tangan kami yang saling bertautan, membuat suara Arga yang menuduhku berbuat lebih dengan Kak Raefal terdengar jelas hingga membuat aku segera melepasnya.
"Aku masuk Kak!" pamitku namun, tangan ini kembali digenggam olehnya.
Kak Raefal mengikis jarak di antara kami hingga tersisa dua langkah menyebabkan, hati gugup.
Tangan nakalnya mengusap lembut pipi, mata lalu dengan perlahan mengusap sisa air mata yang masih menempel di sekitar pipi.
Memilih menutup mata demi merasakan setiap detik dari usap tangan Kak Raefal.
"Jangan nangis lagi," ucapnya yang entah mengapa membuatku terhipnotis lalu kembali menatap matanya dan mengangguk patuh.
"Masuk gih!" titahnya yang herannya aku turuti saja tanpa protes.
"Wahai jantung, baik-baik disana," bisikku seraya memegang dada yang terasa berdebar.