Call Me Isha

Call Me Isha
57. Bajingan



‍Kelas masih sepi, hanya ada diriku yang duduk seraya meletakan kepala di atas meja, menutup mata karena bengkak akibat cairan yang terlalu banyak keluar.


"Isha!"


Suara itu berhasil membuat kedua kelopak mata terbuka secara sempurna bahkan, tetesan airpun ikut luruh meski hanya beberapa titik mengenai meja.


"Sha, untuk sekarang kalau lo engga mau lihat gue engga apa, tapi gue juga tahu kalau lo pasti bisa denger gue."


"Tentang Orlin, gue meluk dia karena ada sesuatu yang bikin gue tersentuh, gue cuma mau buat dia sedikit tenang."


Dalam diam aku menyimak, meski aku juga tidak tahu persis seperti apa ekspresi yang dia tunjukkan.


"Gue harap kita bisa balik kayak dulu lagi."


Entah mendapat kekuatan darimana, seketika aku berdiri dan menatap penuh lara kepada lelaki itu.


"Apa engga ada cara lain? Kalau Kakak ada diposisiku apa masih bisa Kakak bilang begitu?"


Aku tersenyum masam. "Maaf,"


Wajah Kak Raefal yang semula terduduk seketika diangkatnya hingga tatapan kami bertautan.


"Iya, maaf karena seharusnya aku cukup sadar diri, orang seperiku tidak cukup pantas untuk Kakak."


"Sha, engga gitu----"


Mengangkat kelima jari sebagai peringatan bila aku tidak ingin mendengar alasan.


"Semalaman aku berfikir, mungkin melepaskan Kakak menjadi jalan yang paling benar."


Kalimat itu memang terdengar lancar saat aku ucap, berbanding terbalik dengan hati yang seakan mati.


"Kakak bisa pergi dan berhenti bersikap munafik," Menjeda sebentar. "Aku tahu, orang yang tampan takdirnya pun dengan orang yang sepadan."


Angin berhembus entah mengapa hingga menerbangkan anak rambut, perlahan aku memutus kontak mata dan hendak pergi sebelum sebuah tangan berhasil menarikku ke dalam sebuah pelukan.


"Semudah itu lo minta gue pergi Sha?"


Kak Raefal melepas pelukan itu lalu dia memegang kedua pundak ini dan manatap tajam wajahku.


"Lo anggap perasaan gue munafik?"


"Lo kira gue engga sakit denger itu!"


Untuk kali pertama, aku melihat lelaki menangis di hadapanku sendiri meski hanya beberapa tetes.


"Asal lo tahu, cuma lo yang bikin gue jatuh sejatuh-jatuhnya, baik cinta ataupun luka," tekannya.


Aku mengambil nafas dalam sebelum berbicara. "Mari kita akhiri cinta dan lara ini?"


Layaknya sebuah lentera yang sinarnya bisa meredup, seperti itu juga wajah Kak Raefal kala aku selesai berbicara bahkan lelaki itu sampai mundur beberapa langkah.


"Engga! Lo kira bisa semudah itu datang dan pergi dari kehidupan gue."


"Aku capek, aku muak dengan semua drama ini."


"Okey! Tapi gue pergi untuk datang kembali."


Kak Raefal meraup wajahku, mengecupnya hingga puas sebelum memandangku lama.


"Gue pergi hanya sementara, tetap menjadi Isha yang gue cintai," ucapnya sebelum benar-benar melepasku.


Pasokan oksigen seolah menipis hingga, membuat aku sesak dan hampir terjatuh jika tidak berpegang pada bangku.


🍁


"Isha!"


Aku melirik tidak minat kepada orang yang kini berdiri di sebelah bangku taman Sekolah yang aku duduki.


"Kenapa? Mau ketawa karena kondisi aku sekarang? Mana atek-atekmu? Mau bully aku bukan?" tanyaku tanpa memandang ke arahnya.


Orlin duduk di sebelahku. "Sha tolong dengerin gue."


Aku tertawa masam. "Engga salah tadi kamu manggil aku dengan nama panggilan itu?"


"Aku mau jelasin sesuatu."


"Ambil saja penjelasan itu untuk dirimu sendiri!" sarkasku lalu berdiri.


Orlin meraih tanganku, mungkin hendak menarik namun segera aku tepis dan memberi jarak selangkah darinya.


"Denger Sha gue-------"


Demi menghindari bullyan, aku lebih memilih mendorong tubuh Orlin hingga membuat perempuan cantik itu tersungkur dan berteriak cukup keras.


Beberapa langkah aku menjauh, kepala ini tanpa aba menoleh dan memilih kembali menghampiri Orlin yang berteriak meminta tolong.


Ikut berjongkok, aku menggenggam tangannya, membantu berdiri namun Orlin justru menaruh kepalanya ke atas pundakku dan menggeleng keras sembari menangis.


"Orlin!"


Teriakan seseorang dari arah belakang membuatku membeku seketika.


Tangan yang menggenggam Orlin disentak kuat oleh lelaki yang baru tiba di tempat.


"Lo apain Orlin!" bentaknya membuatku kaget sekaligus takut.


"Ak-aku dorong dia tadi," cicitku, membuat wajah orang itu merah padam.


"Lo gila?! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Orlin, gue engga bakal maafin lo!" ucapnya yang membuatku mematung seketika.


"K-Kak," suara lirih Orlin terdengar.


"Ternyata yang aku simpulkan kemarin engga salah, kamu memang selingkuh, bajingan!"


"Argh! Kak!" teriak Orlin yang kini dalam gendongan Kak Raefal.


"Lo bakal baik," gumam lelaki itu yang masih dapat aku dengar dengan baik.


        Kini, aku memutuskan untuk tidak lagi berharap banyak dengan  Kak Raefal, kejadian kemarin sungguh membuat perasaanku hancur berkeping.


Untuk mengobati luka, aku memilih menyibukkan diri dengan membuat kue akan tetapi, saat aku berbelanja, sosok itu kembali hadir seolah takdir.


Tidak membiarkan kesempatan, aku memilih menemui Kak Raefal yang tengah tertawa dengan seorang perempuan cantik dengan sekeranjang belanjaan.


"Aku kira walaupun Kakak seorang Badboys, si biang onar sekolah tapi engga bakal mainin perasaan perempuan, tapi nyatanya?"


"Terserah lo mau nganggep gue apa, gue engga perduli."


Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kak Raefal, membuat yang ada di dalam sana nampak ada sesuatu yang terbelah dan rasanya sangat sakit.


"Meski terlambat, setidaknya aku tahu kelakuan Kakak yang asli seperti apa."


"Makin kesini lo makin berubah! Bukan lagi sosok yang gue kenal," sarkas Kak Raefal.


Aku melipat tangan di depan dada. "Begitupun sebaliknya."


Kak Raefal pergi meninggalkanku sembari menggenggam pergelangan tangan gadis cantik itu.