
Bel pulang terdengar nyaring, menyebabkan separuh murid berbondong-bondong meninggalkan Sekolah, hal itu juga aku lakukan akan tetapi kini aku harus menunggu angkutan umum lewat karena harus menuju kediaman Orlin yang cukup jauh.
"Kalau angkotnya lama gini pasti entar Orlin ngomel," dumelku.
Tatapanku fokus kepada sekelompok remaja yang tengah menaiki motor sembari membawa kayu ataupun benda yang bisa untuk memukul lawan.
Kepanikan sontak menghampiri saat gerombolan itu ternyata berhenti beberapa meter dari tempatku berdiri.
Saat diri ini hendak kabur, sosok siswa anak sekolah sebelah yang aku yakini sebagai ketua, malah menarik tubuhku mendekat dengan paksa.
Mata lelaki itu menyiratkan kemarahan yang terpendam, tanpa perasaan dia membalikan raga ini lalu mencekik leherku menggunkan lengan besar yang dia punya.
"Lepas!" teriakku sembari meronta kesana kemari namun dia kian mencekikku dengan kencang hingga membuatku terdiam seraya menangis.
"Diam atau gue bunuh lo!"
"Raefal! Kalau lo emang berani! Hadapi kita sendiri tanpa kacung lo!" teriak orang yang menyanderaku membuat para satpam berdatangan.
"Mau apa kalian! Lepaskan anak itu!" titah salah satu satpam.
"Gue mau ketemu Raefal yang katanya raja jalanan itu! Kalau ada orang yang menghalangi jalan gue! Gue engga bakal gentar buat habisi orangnya!" tegas orang itu semakin membuat aku ketakutan.
"Maaf tapi anda tidak bisa membuat keributan disini, atau saya panggil polisi!" ancam satpam yang lain membuat orang yang sedang menyanderaku menggertakan gigi menahan amarah.
"Sialan! Kalian urus satpam engga guna itu!" titah orang itu membuat sekelompok orang di belakang maju dan mulai adu senjata antara satpam dengan para pelajar yang menurutku lebih seperti preman.
"Raefal! Kalau lo engga datang dalam lima menit gue bunuh gadis ini!" ancam orang yang sama.
"Lepasin! Dia engga ada urusannya sama masalah lo!" teriak seseorang yang baru keluar dari gerbang dan berhasil membuat tatapan semua orang tertuju padanya.
"Kenapa gue harus ngelepasin dia, punya hak apa lo?"
"Lepasin dia bangsat!" marah Kak Raefal.
"Lo pikir semudah itu, lo tentu tahu maksud kedatangan gue."
Kak Refal menutup matanya sejenak sebelum memulai kata. "Oke, tapi bebasin dia!"
"Semudah itu lo nyerah? Ini beneran Raefal raja jalanan? Engga yakin gue," jedanya membuat Kak Raefal mengepalkan kedua tangan menahan amarah. "Atau gosip itu bener?"
"Bangsat! Lepasin dia sekarang!"
"Ternyata gue nangkep mangsa yang tepat, sampai dengan mudah lo, buat keputusan itu demi gadis ini,"
"Engga usah kebanyakan bacot lo anjing!"
"Gimana kalau gue ubah keinginan gue, dia buat gue dan anak-anak yang lain. Gue yakin kalau ini cewek masih perawan."
"Itu cuma di mimpi lo anjing!" teriak Kak Raefal yang langsung meninju pipi kanan orang yang menyanderaku begitu kuat hingga membuatnya tersungkur sekaligus spontan melepaskanku.
"Kak Raefal!" Aku berteriak histeris.
Kak Raefal menarik tubuhku bermaksud menyembunyikannya di belakang punggung lelaki tampan itu.
"Gue udah beri apa yang lo mau. Sekarang pergi dari sini!" usir Kak Raefal.
Orang itu tertawa. "Kalau gitu buat apa gue bawa semua pasukan kesini," jedanya. "Serang!" titah orang itu kemudian.
Kaka Reafal mulai memukul, meninju, menendang dan berbagai gerakan lainnya yang membuatku ketakutan.
"Kak awas!" teriakku ketika ada orang yang hendak menyerangnya dari samping membuat Kak Raefal berbalik lalu menendang perut orang itu.
"Sha! Pergi sekarang!" teriaknya padaku namun aku masih tidak bergeming sedikitpun.
Dapat aku lihat jika, pasukan Kak Raefal membabi buta menyerang pasukan lawan hingga membuat mereka kewalahan.
Karena terlalu asik melihat adegan pertarungan ini aku sampai tidak sadar bila sekarang ada orang yang berada di belakangku lalu, menodongkan pisau tepat di depan leher diri ini membuatku kaget bukan main.
"Berhenti atau nyawa dia taruhannya!" teriak orang yang tadi menyanderaku.
"Lepasin dia anjing!"
Kak Raefal berteriak lalu berjalan menghampiri kami dengan langkah lebar serta sebuah balok kayu di tangannya.
"Berhenti disitu atau gue gesek pisau ini ke leher pacar lo!" ancamannya membuat langkah Kak Raefal terhenti.
"Mau lo apa?!" Kak Raefal nampak kehabisan kesabaran.
"Kalau gue mau dia gimana?" Orang itu memainkan rambutku dengan tangan satunya membuat diri ini merasa jijik.
"Bangsat lo! Bisanya cuma main ancaman!"
"Gue------"
Kalimat orang itu terpotong karena gerakan Kak Refal yang tanpa aba menunju ke arahku lalu tanpa diduga dia menendang tangan orang itu dengan kakinya dan mengambil alih diriku.
"Lo itu cuma menang dalam ancaman dan lo engga terima kalah?!" Kak Raefal meludahi orang itu tepat di wajahnya.
"Anjing!" teriak orang tadi mencoba memukul Kak Reefal namun langsung ditepis olehnya, dan perkelahian kembali terjadi antara mereka.
Orang itu memuntahkan darah segar dari mulut karena serangan yang Kak Raefal layangkan.
"Buat sekarang gue bebasin lo? Lain kali lo berulah lagi, gue engga segan bunuh lo!" ancam Kak Raefal lalu dia pergi sembari mengandengan tanganku.
"Kenapa belum pulang?!" tanya Kak Raefal sesampainya di parkiran sekolah.
"Aku mau kerja kelompok," balasku takut.
Masih segar dalam ingatan bagaimana orang yang mengajakku bicara ini berkelahi dengan liarnya.
"Naik!" titahnya setelah dia berada di atas motor.
"Kita ke UKS dulu Kak, obatin luka Kakak!"
"Naik sekarang!" tegasnya tanpa menoleh padaku. Aku tahu bila sekarang Kak Raefal dalam mood yang buruk jadi aku lebih baik menurut daripada mendapat masalah baru.