Call Me Isha

Call Me Isha
58. Tidak Ada Reuni Hati?



Dua minggu aku lalui dengan rindu dan kebencian karena tindak yang dilakukan Kak Raefal tidak jua membuat rasa ini luntur meski ego tetap menguasai diri.


Lelah membohongi diri hingga kini, aku berdiri di atas panggung bahkan, sejenak aku melupakan tujuanku dan memilih bersitatap dalam jauh bersama mantan kekasihku yang hari ini terlihat tampan menggunkan pakean kelulusan.


Dengan tatapan berkaca aku menoleh ke arah kursi yang tersedia, sebelum duduk dengan sebuah gitar dipangkuan.


Detik pertama saat jemari menubruk senar gitar kututup kelopak mata, mengabaikan kenyataan bila sosok Kak Raefal tidak melepas pandangan dariku meski sedikit.


Apa yang harus, kulakukan lagi bila kau tak setia.


Karena aku hanya seorang manusia, yang tak kau anggap.


Aku.


Mencoba untuk memahamimu, tapi kau tak perduli.


Cukup sudah.


Kau sakiti aku lagi.


Serpihan perih ini, akan ku bawa mati


Aku mencoba memberikan segala yang telah aku punya, namun semuanya hanya sia-sia.


Percuma,


Aku, tlah coba untuk memahamimu, tapi kau tak perduli.


Cukup sudah.


Kau sakiti aku lagi, serpihan perih ini akanku bawa mati.


Meski sempat terganggu, kini kami justru saling bertatapan lama juga, tetesan mata itu juga kian membanjiri pipi.


Cukup sudah, kau sakiti aku lagi, serpihan perih ini akanku bawa mati.


Sampai kapan, bisa membuatmu mengerti, membuat aku bermakna.


Di hatimu.


Di matamu.


Sayang.


Riuh tepuk tangan terdengar berisik, akan tetapi bukannya tersenyum karena merasa diapresiasi justru, kini aku menutup mata dan terisak dalam diam.


Beruntungnya, suara master of ceremony terdengar hingga membuat tanganku bergerak cepat menghapus air mata dan beranjak dari duduk.


"Suara yang terlalu indah dan menyayat untuk di dengar."


"Bener banget, apalagi gue lihat ada beberapa yang sampai nangis, gue akui kalau penyanyi kita memang the best!" puji seorang MC perempuan.


"Omong-omong, kita kepo. Lagu ini didedikasikan untuk siapa kalau boleh tahu?" Kini giliran MC lelaki yang bertanya.


"Kalau boleh jujur, ini request dari seseorang."


"Wah sepertinya lagi patah hati, kalau begitu. Untuk siapapun yang request lagu ini, semoga mantannya cepat dapat azab ya," gurauan itu berhasil membuat tawa.


           Selesai dengan mengisi acara, aku hanya duduk di belakang panggung hingga selesai dan kini perlahan menghampiri Kak Rafif selaku senior yang cukup aku kenal.


"Selamat Kak! Jangan lupain kita juga meski udah beda sekolah."


Kak Rafif mengangguk sembari tersenyum. "Makasih, gue harap meski gue engga ada. Persatuan tetep berjalan."


"Maaf kalau selama ini gue suka marahin kalian. Pesan gue cuma satu, tetap bikin ekskul kita diminati oleh anak-anak," pesan Kak Rafif, membuat semua anggota bersedih.


"Udah kita jangan mellow, kita bukan pisah alam. Lebih baik kita foto untuk kenang-kenangan!" usul Rara dengan senyuman cerah memamerkan ponselnya.


Saat sedang asik berfoto, raga sektika kaku kala penglihatan melihat sosok yang membuat hati ini bak disayat sebuah pisau, berdiri tak jauh dari kami.


"Sha, kita pergi dulu!" pamit semua orang membuatku kalang kabut.


Aku hendak pergi namun, berhasil lelaki itu hentikan dengan menyandera pergelangan tangan yang seketika membuat mata tertutup untuk beberpa detik.


"Sha, lo engga ucapin selamat buat gue? Lo tahu gue----" ucapan menggantung itu terjadi karena dengan kasar aku mendorong tubuhnya jauh hingga melepas cekalan.


"Selamat!" ketusku.


"Gue tahu kalau hati lo sakit. Tapi, gue minta waktu, gue janji ini bakal menjadi yang terakhir."


Permintaan dengan suara lemah itu tidak kuasa aku tolak, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Lo engga kangen?" tanya Kak Raefal yang masih sempat tertawa.


"Sha, kayaknya ucapan gue waktu itu meleset---" Gantungnya dengan kekehan khas. "Kenyataannya, gue beneran rindu. Baru juga dua minggu gue engga ketemu tapi, rasanya berat banget. Apalagi selamanya ya?"


Entah mantera apa yang dibawa kalimat itu hingga, berhasil meloloskan air dari dalam mata.


"Jangan nangis Sha, gue engga pingin lihat lo nangis, gue juga sakit sama kayak lo Sha."


"Bohong," cicitku membuatnya tertawa.


"Engga nyangka ya Sha, kita bisa sedekat ini, bahkan kita sampai pacaran----"


"Mantan!" ralatku cepat yang mendapat kekehan.


"Bukan mantan, tapi alumi hati, karena kata mantan terlalu buruk untuk mendeskripsikan orang yang pernah merajai hati."


"Apalagi buat orang ganteng kayak gue," lanjutnya.


Seolah tidak tahu situasi, Kak Raefal tetap melontarkan kalimat menjengkelkan yang sesuai kenyataan.


"Udah Kak, aku udah engga kuat," pintaku, masih enggan menatap.


"Dibawa santai Sha, jangan nangisin bajingan kayak gue," ucapnya yang malah semakin membuatku terisak.


"Gue harap setelah ini lo jadi pemberani buat melawan orang yang suka bully lo, jangan lupa bahagia, dan jangan terlalu percaya sama manusia, apalagi kalau manusianya bajingan kayak gue."


"Semoga pacar lo lebih baik, romantis, perhatian tapi engga sampai melebihi ketampanan gue. Jelas gue engga terima karena gue mau menjadi sosok paling tampan yang pernah merajai hati lo."


"Meski kita mantan, gue selalu berdoa untuk kebaikan lo karena, lo sosok paling indah yang hinggap dihati. Makasih ya udah hadir."


Aku tidak tahu pasti seperti apa mimik wajah yang ditampilkan Kak Raefal saat dia mengatakan hal demikian itu namun, manusia mana yang akan baik-baik saja jika diposisi kami.


"Lo-----"


Sebelum Kak Raefal melanjutkan kalimat, aku memberanikan diri untuk memeluk dirinya untuk yang terakhir kali.


"Aku memang membenci Kakak sebagai pasangan, tapi aku tidak bisa lupa kalau selama ini cuma Kakak yang menjadi temanku."


"Kakak adalah lelaki menyebalkan yang aku cintai sekaligus benci."


Kak Raefal mengeratkan pelukannya. "Intinya gue gagal, dan engga akan pernah mengulang untuk yang kedua kali."


Perlahan aku melepaskan pelukan itu, masih tetap menundukkan kepala, tidak berani menatap karena takut tidak bisa tegar.


Mataku menangkap sebuah kotak kecil yang lelaki itu sodorkan.


"Buat lo, sebagai hadiah perpisahan. Terima ya Sha? Atau mungkin, seenggaknyanya untuk di depan gue lo nerima hadiah ini, setalah itu. Terserah." Menjeda sebentar. "Mau lo buang juga engga apa, gue bakal tetep seneng karena anggap lo nerima hadiah terakhir ini."


Tidak seperti tadi yang suaranya terdengar ditegarkan, kini gendang telinga dapat menangkap kegetiran yang cukup jelas.


"Gue pamit. Maaf, gue bukan cowok yang baik apalagi romantis kayak yang lo impikan."


Sontak aku menegakkan kepala, menatap tepat dimana bola matanya berada.


"Sampaikan maaf gue ke Papa lo karena, udah bikin putri kesayangannya patah hati. Salam juga buat Mama lo, bilangin banyak terima kasih karena mau menerima orang kayak gue."


Dia terlihat tertawa, mungkin membayangkan kejadian selama ini yang membuatku merasa tak karuan.


"Gue engga bisa bilang langsung sekarang, jadi. Tolong sampaikan ya?" pintanya dengan senyum lebar.


Kak Raefal mendekat ke arahku, lalu mengusap pipi yang basah. "Terima kasih dan maaf untuk alumni hati yang mungkin, tidak akan reuni."


Kepala Kak Raefal dimiringkan sedikit hingga, hidung saling bertubrukan sebelum dia menempelkan bibir lalu ********** pelan.


Ciuman pertama yang penuh semangat menggebu layaknya dalam novel tidak berlaku, justru kini bibir kami bergetar karena tangis yang melanda.


Kak Raefal melepas ciumannya, menatap lekat wajahku lama sebelum mengelap saliva yang berceceran di sudut bibirku.


"Akan ada hari panjang sebelum gue bisa kembali lihat wajah lo Sha."


"Tidak akan ada reuni untuk hati Kak."


Kalimat tersirat makna itu membuat kedua sudut bibir Kak Raefal terangkat bebas.


"Memang, jadi jaga diri ya."


"Kakak juga."


"Gue bakal selalu jaga diri karena itu buat lo."


"Gue pamit ya Sha," lirihnya, membuat tangis kembali luruh dan saling menempelkan bibir.


Please stay with me.