
Rintik hujan membuat jendela kaca menjadi buram, menghalangi pengelihatan akan jalanan yang berjarak tak jauh dari kafe yang aku tempati.
Helaan nafas lolos jua saat sadar bila, orang yang aku tunggu belum juga menampakkan batang hidung, lebih dari dua jam aku sendirian dalam keramaian kafe.
"Maaf lama, gue kejebak macet."
Aku tersenyum canggung, mempersilakan orang itu duduk di depanku.
"Mau bicara apa?" tanyaku setelah lama berfikir.
Perempuan di depanku itu menatap dengan serius. "Gue mau jujur sekaligus cerita. Gue minta, lo jangan memotong nanti."
Kepala mengangguk sebagai jawaban, dalam hati kecilku cukup penasaran akan keterbukaan sosok cantik itu.
Dia menunduk, membuat hawa di sekitar terasa tak enak. "Sebelumnya gue mohon maaf karena keterlaluan selama ini."
"Mungkin, lo bahkan semua orang menganggap gue kejam. Tapi, apa pernah lo berfikir tentang kenapa perilaku gue terlalu berlebihan?"
Orlin, dengan mata berkaca menatapku. "Lo pernah berfikir, gimana perasaan gue setelah bully lo dan yang lain?"
Perempuan yang terlihat berantakan itu tersenyum kecut. "Mungkin lo engga percaya tapi, setelah melakukan kekerasan, gue bakal nangis dan menulis seratus kalimat maaf di tembok kamar gue."
Hampir saja aku terdesak ludah karena, omongan Orlin yang menunjukkan sisi rapuh yang perempuan itu miliki.
"Dari cerita gue lo pasti sudah bisa menyimpulkan." Orlin tersenyum manis. "Gue dinyatakan sakit dan untuk mengontrol emosi itu hal yang paling susah. Saat lihat korban gue teriak meminta ampun gue suka Sha."
Aku memperhatikan Orlin yeng menceritakan dengen penuh ekspresi. "Rasanya gue merasa menang karena disitu, gue bukan lagi orang yang tersakiti."
Ingin sekali mulut bertanya namun, janjiku untuk tidak memotong kalimat tercetak jelas dalam ingatan.
"Gue punya banyak rahasia, mungkin sedikit gue udah cerita tadi dan, kali ini gue mohon dengan sangat. Cerita gue cukup disimpan untuk diri lo sendiri."
"Gue iri sama lo. Meski kekayaannya udah engga ada, kalian masih utuh. Sedangkan keluarga gue?"
Air mata melaju jauh lebih deras. "Keluarga gue pecah, apalagi setelah Ayah gue nikah lagi. Bagi gue, rumah hanya neraka."
"Di rumah kalau engga ada Ayah, gue sering dikasari. Melawan juga engga bisa karena wanita itu benar-benar licik. Dan, dengan menyiksa kalian emosi gue tersalurkan, meski tahu itu bukan hal baik tapi tetap gue lakukan karena, kalau engga tubuh ini bakal gue sayat demi merasa puas."
Orlin sesenggukan, aku yang tidak tega mengusap kepalan tangannya di meja.
"Ditambah, Kakak tiri gue dengan brengseknya menjadikan gue ****** pribadi."
Seiring dengan tertunduknya kepala Orlin, tetes air mata tidak bisa aku bendung. Aku tahu hal yang dikatakan adalah sesuatu yang sangat sensitif.
"Masih segar dalam ingatan, waktu itu rumah kosong dan hanya ada kami. Gue mencoba berontak tapi tenaga engga seberapa dibanding dia. Dan, sejak itulah gue dijadikan pemuas nafsu, dimanapun dan kapanpun gue harus mau dengan ancaman foto serta vidio panas gue yang dia simpan."
"Sering banget gue mencoba bunuh diri dan sialannya selalu gagal karena Kakak tiri gue yang gila itu."
"Setelah semua itu, gue mulai biasa main tangan, keras kepala karena kebebasan gue bukan lagi di tangan sendiri."
"Karena merasa buruk, gue mencoba berobat tapi tetep aja, rasa haus akan kemenangan mengendalikan itu engga bisa ditahan."
Orlin menghapus air matanya lalu tersenyum tulus. "Gue mau cerita tentang pertemuan gue dengan Kak Raefal, semoga lo engga cemburu ya."
Untuk kali pertama, aku melihat sosok Orlin yang terlihat bersahabat itu, membuat aku ikut tertawa kecil.
"Gue ketemu dia itu waktu SMP. Waktu itu gue baru pulang dari Palembang dan dijemput Kakak gue, tentu dia minta hubungan badan, itu kali pertama gue nolak karena badan beneran capek tapi dia tetep kekeuh."
"Gue mohon bantuan ke dia dan akhirnya masuk mobil Kak Raefal, darisana kita kenal. Dan tentu karena dia yang baik, gue mengklaim dia sebagai hak milik. Yup! Mungkin istilahnya, jatuh cinta?"
"Sejak saat itu kita dekat, dia juga sering bantuin gue dan itu hal yang membuat gue merasa diistimewakan, hal yang cukup langka dan hanya didapatkan oleh dia."
"Setelah lulus SMP, akhirnya kita sepakat masuk SMA yang sama. Dan dari sanalah persahabatan kita merenggang karena Kak Raefal tahu gue sering bully orang."
"Puncaknya saat dia deket sama lo, antara cemburu, iri dan juga kesal akan takdir gue bercampur dan akhirnya gue memutuskan permusuhan."
"Karena masalah Kak Raefal, fokus gue terbagi sampai engga sadar kalau jarang minum pil pencegah kehamilan setelah itu, dampaknya gue hamil."
"Gue engga mungkin minta tanggung jawab ke Kakak tiri gue disaat dia akan nikah tiga bulan lagi. Satu-satunya jalan, minta tolong ke Kak Raefal dan akhirnya dia kasih gue tempat di rumahnya sementara waktu karena, bajingan itu sedang cari keberadaan gue."
"Rencana gue menghindari bajingan itu berhasil, karena memang bokap keluar negeri."
Orlin menatapku. "Sha lo ingat bukan kejadian dimana lo lihat gue dan Kak Raefal pelukan?"
Aku mengangguk, hal menyakitkan itu tidak akan aku lupakan.
"Waktu itu perut gue nyeri, karena panik Kak Raefal mau gendong gue dan disaat yang sama lo tiba-tiba muncul. Jujur, gue seneng bahkan lupa kalau perut gue sakit sebelumnya."
"Tapi, setelah itu Kak Raefal kelihatan engga kayak biasanya, semangatnya juga engga ada. Dari situlah gue sadar, kalau sampai kapanpun, gue engga bakal bisa misahin kalian dan, akhirnya gue milih mundur sekaligus merasa engga pantas untuk dicintai disaat gue mengandung anak dari luar pernikahan."
Selama ini aku mengutuk Orlin, mengatainya dengan kalimat buruk tanpa mengetahui sosok yang wanita itu sembunyikan.
"Karena rasa bersalah, gue mencoba bicara ke lo di taman sekolah tapi justru gue jatuh dan lagi-lagi, bikin hubungan kalian renggang."
Aku ingat kejadian itu, justru aku yang merasa bersalah karena hampir membuat celaka keduanya.
"Kamu engga apa kan? Maaf ya," ucapku tak kuasa menutup mulut lagi.
"Engga apa. Berada di tubuh gue membuat dia kuat dengan hal apapun," ungkapnya sembari tersenyum manis.
Orlin menghapus air matanya. "Kak Raefal juga pernah cerita, kalau lo salah paham sama Rinta, sepupunya."
Mataku meredup, ternyata aku terlalu memikirkan diri sendiri hingga lupa orang yang selalu menggenggam tanganku.
"Lo marah-marah di sana, Rinta mau jelasin tapi Kak Raefal nyegah. Karena baginya, hubungan kalian terlalu berantakan saat itu dan butuh waktu untuk menjadi utuh, apalagi. Setelah kelulusan, Kak Raefal harus pergi ke Singapura untuk sekolah sekaligus pengobatan Balqis."
Tubuhku melemas, tak kuasa mendengar kata penjelasan dari mulut Orlin, meruntuki kebodohanku sendiri yang tidak ingin mendengar apapun dari mulutnya.
"Gue nyampein ini karena gue rasa perlu, dan maaf udah bikin lo sakit secara fisik maupun batin."
Orlin meletakkan secarik kertas di atas meja. "Alamat Kak Raefal da nomer telpon dia yang baru."
"Untuk apa?"
"Gue tahu kalian masih saling cinta." Menjeda sebentar. "Sha, kejar apa yang seharusnya menjadi hak milik."
Aku tersenyum sembari menerawang ke depan. "Apapun keputusan Kak Raefal akan aku hargai. Dan, aku engga akan mengejar sesuatu, karena pemilik tidak perlu mengejar yang menjadi miliknya."
Sesuatu yang memang ditakdirkan untuk diri, pasti tidak akan pergi ataupun lari.
Call Me Isha.