
"Bang ini Uang nya!!" Arga meninggalkan uang di atas meja sembari berdiri.
Tanpa aba, tangan Arga menggenggam erat pergelangan ini lalu menuntunku untuk keluar dari tenda tempat makan tadi.
Tautan tangan kami menjadi pusat perhatianku, dalam hati seperti ada gelenyar aneh yang bisa membuat kedua pipi memanas.
Semua yang aku alami terlalu indah untuk sebuah kenyataan namun, aku juga tidak munafik bila aku menginginkan hal demikian.
"Kamu engga pernah rindu sama aku dan masa kecil kita?" tanyanya sembari menatapku yang masih menunduk gugup.
"Engga terasa kalau waktu berjalan cepet, perasaan dulu kita masih main bareng, tidur bareng bahkan mandi pun bareng. Ya Sha?"
Mendengar kalimat menggoda itu, aku kontan menyikut perutnya yang membuat tawa Arga keluar.
"Serius engga kangen?"
"Kangen tapi bukan yang bobo apalagi mandi bareng."
"Kamu lucu."
"Baru sadar?"
"Engga juga,"
Malam hari yang belum terlalu larut, komplek rumah yang aku tinggali tidaklah terlalu sepi namun, karena lawan bicaraku adalah orang yang merajai hati, dunia seketika menjadi milik berdua.
"Kamu, punya hubungan apa dengan Raefal?" tanya Arga tanpa aba, menyebabkan langkah kaki terhenti lalu aku menatapnya.
"Kenapa diam? Pertanyaanku salah?"
Menggeleng cepat lalu melanjutkan kembali langkah yang tadi sempat tertunda. "Bukan begitu, tapi aneh aja. Memang ada masalah?"
Dia tersenyum. "Karena aku tidak ingin dianggap perebutan pacar orang Sha."
Aku mengernyitkan kening lalu terkekeh. "Engga mungkin Kak Raefal mau sama aku."
"Itu presepsi kamu, tapi baguslah kalau kalian engga memiliki hubungan lebih."
Aku menganggukkan kepala. "Ya, karena aku terlalu biasa untuk orang seperti Kak Raefal."
Arga menghentikan langkah, membuat aku mengikuti sembari menatap lelaki itu dalam diam.
"Kenapa?"
Tanganku yang Arga genggam dibawanya menuju tepat di mana jantungnya berdetak, membuat aku mengikuti arah dimana tanganku berada.
"A-apa?" tanyaku gugup yang kini sudah menatap kedua bola mata Arga.
"Kamu engga pantas untuk siapapun Sha, kecuali aku."
Kakiku sudah lemas mendengar ungkapan itu, Arga memang memiliki bakat yang cukup baik untuk membuat hati terasa dipacu.
Perlahan, Arga melepas genggaman tanganya dariku membuat diri ini sedikit kecewa lalu menunduk dalam.
Arga mendekat ke arahku, semakin mengikis jarak di antara kami menyebabkan kepala sontak mendongak lalu melihatnya yang jauh lebih tinggi dariku.
"Sha, aku minta maaf," ucapnya lirih.
"Aku nyesel udah berlaku buruk, aku nyesel sia-siain perasaan tulus kamu. Maaf Sha."
Jemari Arga menyentuh pipiku lalu mengusapnya perlahan, menghilangkankan jejak air mata.
"Maaf Sha, kita ulang lagi ya? Jadikan aku raja di hatimu lagi Sha,"
Aku tidak tahu rasa apa yang tengah menghampiri, sedikit lega dan juga sesak yang membuat aku menumpahkan air mata tanpa isakan.
"Maaf Isha."
"Isha, aku pamit pulang!" pamit Arga ketika kita sudah berada di depan pagar rumah.
Aku tersenyum. "Hati-hati di jalan."
Arga yang sudah mengambil langkah pergi berhenti lalu kembali menghampiri diri ini.
"Isha, kamu pernah dibelikan ponsel sama Mamaku 'kan? Boleh aku lihat?"
Masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponsel yang sama sekali tidak aku buka bungkusnya apalagi digunakan.
Aku menyodorkan HP miliknya ke hadapan Arga yang langsung disambut oleh lelaki itu.
Untuk beberapa menit Arga sibuk mengoperasikan ponsel itu sebelum kembali menyodorkan kepadaku.
"Ini!"
"Itu punya kamu."
"Ini pemberian Mama aku buat kamu, pakailah!"
"Hah? Engga." Tentu aku masih sangat ingat dengan yang dulu Arga katakan.
"Ayolah, demi aku."
Meski terpaksa, aku mengambil jua ponsel yang cukup bermerk itu dengan ragu.
"Kamu bisa menggunakanya sekarang, nanti aku chat kamu. biar bisa ngobrol sekaligus mengobati rasa rindu," gombalnya yang sebenarnya membuatku terbang hingga langit ke tujuh.
"Gombal! Sudah sana pulang! Udah malam!" usirku.
"Ngusir nih?"
"Iya."
"Yaudah aku pulang."
Arga menyodorkan tanganya tepat di depan wajahku, membuat kening menyerit kebingungan dengan tingkahnya.
"Salim! Berbakti sama calon suami!" ungkapnya dengan tawa.
Dengan pipi memerah aku menyalami Arga.
"Bagus,untuk kali ini kamu menyalami aku karena mau pulang, tapi nanti akan kupastikan kamu menyalamiku dengan tujuan memberi restu untuk mencari uang untuk keluarga kecil kita," gombalnya lagi yang membuatku tertawa.
"Iyain! Jangan mikir nikah dulu, masih sekolah juga. Nanti anak istri kamu dikasih makan apa coba."
"Yaudah, kamu mau makan apa sayang?"
"K-kok aku?"
"Iya ibunya anak-anak."
Aku tertawa. "Gombalnya kurangin, engga baik."
"Baik kok, untuk kelangsungan hidup."
"Emang Oksigen?"
"Bukan, kalau aku gombalin kamu terus kamu senyum, 'kan senyum kamu itu penyemangat hidupku,"
"Bullshit! Udah sana pulang!!" usirku yang langsung kabur karena merasa sangat malu.
Aku merasakan debaran dada sembari bersandar pada pintu kamar, senyum pun tak ingin kalah melengkapi.