Call Me Isha

Call Me Isha
11. Pelipur Lara



Aku dan kak Raefal berbincang ringan sembari menunggu waktu pengumpulan kertas ujian.


Untuk kali ini, aku tidak ingin munafik jika aku sangat menikmati kebersamaan bersama Kak Raefal, memanfaatkan waktu karena mungkin hal ini tidak akan terjadi kembali mengingat, hari ini adalah terakhir kami duduk satu bangku.


"Senin besok kita engga satu ruang lagi, gue harap lo bisa jaga diri dengan  baik. Jangan cengeng."


"Kakak juga dan, terima kasih buat satu minggu ini Kak," ucapku yang sudah mulai terbiasa berbicara dengannya.


"Inget, lo harus berubah jadi lebih berani,"


Mengembangkan senyum adalah hal yang bisa aku beri sebagai jawaban, tidak tahu harus mengatakan apa karena diri ini saja ragu melakukan itu.


"Kakak jangan lupa belajar yang giat dan jangan suka tawuran. Bentar lagi ujian 'kan?"


"Tentu. Tapi kalau tawuran engga yakin  kalau gue bisa tinggalin."


"Kok gitu?"


"Lagian lo siapa juga yang berani ngelarang gue!" ucapnya dengan muka datar.


Dibutakan oleh kenyamanan hingga membuat lupa diri, aku menjadi merasa canggung.


Meski ragu aku menjawab. "Aku memang bukan siapapun untuk Kakak tapi, Kakak saja bisa ikut campur dengan urusanku, lantas mengapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama?"


"Lo dan gue itu beda. Kalau tentang gue tentu gue punya hak buat ikut campur karena kemauan gue."


"Sejak kapan Kakak punya hak terhadap aku? Sedangkan kita tidak punya hubungan darah sekalianpun?" tanyaku penasaran.


"Gue geram aja lihat hidup lo yang monoton, jadi gue berinisiatif  buat merubah hidup lo lebih baik, Apa gue salah? Salah karena bantu lo bangkit dari keterpurukan?" tanyanya. "Kalau menurut gue, benar. Bahkan gue terlalu baik karena mau bantu lo."


Aku hanya diam, Kak Raefal memang rajanya jika mengenai hal mendebat dan bedebat.


           Teriknya panas mentari tak memadamkan semangatku untuk segera pulang ke rumah. Kini, aku mengayuh sepeda di jalan yang sedikit ramai.


Tanpa aku sadari, sebuah sebuah mobil hitam melaju kencang hingga menyerempetku, menyebabkan tubuh ini tergelak secara tidak layak.


"Aduh," ringisku.


"Cupu! Ngapain lo duduk disitu?! Ngemis?!"


Meski sudah tahu akan sosok penabrak, kepala ini tetap saja terangkat untuk memastikan Orlin yang sedang tertawa dari dalam mobil.


"Anorra! Batunin Cupu berdiri gih! Kasihan dia duduk kayak pengemis gitu!" titah Orlin yang kini sudah berdiri di depanku, tentu bersama kedua temannya.


Anoora mendekatiku, meraih tangan lalu menarik sekuat tenaga namun  saat aku berhasil berdiri. Bahu ini didorong oleh orang yang sama sampai aku kembali ke posisi semula.


"Udah dua tahun lo gue bully tapi tetap aja begonya engga hilang, harusnya lo itu tahu, jangankan nolong lo, duduk bersama aja gue jijik."


Orlin mulai mengambil sesuatu dari dalam dompet lalu melemparkan tepat di depan muka ku.


"Buat lo! Gue tahu kalau bokap lo cuma tukang roti yang penghasilannya engga seberapa, hitung-hitung buat memperbaiki sepeda butut lo."


"Sampai jumpa Cupu!" pamit Orlin meninggalkanku seorang diri dengan keadaan yang mengenaskan.


Aku menunduk, meratapi uang yang berserakan mengelilingi tubuh, penghinaan Orlin tadi sukses membuat air mata terjatuh.


Tak berselang lama, sebuah tangan tanpa aba menarik dagu milikku untuk menegakkan kepala sekaligus melihat sosok di hadapan.


Wajah datar dengan garis tegas, mata tenang sekaligus menyejukkan, serta alis tebal yang kian membuat ciptaan Tuhan itu terlihat sempurna. Semua itu sukses membuatku terhipnotis sesaat untuk  terus memandang.


Asik menikmati aku sampai tidak sadar bila Kak Raefal sudah menaikkan bawahanku.


"Kakak!"


"Jangan berfikir yang aneh, lutut lo berdarah. Mau gue obatin." jelasnya dengan muka sedatar tembok.


Menutup mata saat kapas yang sudah diolesi antibiotik itu melapisi luka, rasanya cukup perih.


"Selain lutut, apa lagi yang sakit?"


Aku memamerkan sikutku untuk Kak Raefal obati.


"Kok bisa jatuh?" tanyanya yang membuatku gugup, sudah dipastikan jika aku bilang habis dibully, pasti dia akan memarahiku.


"Ngelamun Kak."


"Dasar ceroboh."


"Aduh," ringisku.


"Kalau udah tahu sakit kenapa engga ngelawan tadi?"


Aku manatap Kak Raefal dengan wajah aneh, aku kira lelaki itu memang sama sekali tidak mengetahui.


"Engga usah heran apalagi mikir sampai jidat lo berlipat gitu, udah jelek tambah jelek sekarang," ucapnya yang terlalu jujur.


Selesai mengobati luka milikku, Kak Raefal menegakkan badan sedangkan aku tetap diam memperhatikan.


"Lo suka sama gue?" tanyanya sekaligus berhasil mengembalikan kesadaranku.


"Terserah," balasku malas.


"Terserah? Berarti benar dong?" goda Kak Raefal yang sungguh membuatku jengah.


Kini aku sangat yakin, jika sewaktu pembagian rasa kepercayaan Kak Raefal datang paling awal.


🍁


Seragam putih abu berserta atribut melekat indah di tubuh, sekaligus menandakan kesiapanku untuk berangkat sekolah.


Hari ini akan dilaksanakan pembelajaran seperti biasa, mungkin sedikit membosankan karena tidak ada Kak Raefal yang hinggap bahkan, karena asik melamun, aku sampai tidak sadar bila bel telah dibunyikan.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa seorang guru dengan kepala botaknya, dia Pak Ari.


"Pagi Pak!" ucap serempak murid.


"Baiklah kita lanjut materi yang kemarin------" jelasnya sembari menulis materi di papan tulis.


Meski aku terus memperhatikan papan tulis sekaligus Pak Ari yang sedang mengajar, tapi otak ini tidak bisa berkompromi dengan baik, susah sekali menyambungkan pikiran pada materi yang sedang beliau sampaikan.


"Materi sudah selesai, adakah yang ditanyakan atau belum paham?" tanya Pak Ari yang langsung dijawab 'Tidak'.


"Jika sudah, sekarang saya akan membagi kalian dalam beberapa kelompok, anggota kelompok biar saya yang membagi!"


Sedikit bersyukur, karena biasanya di kelas ini tidak ada satupun yang mau satu kelompok denganku, jikapun ada itupun karena desakan guru.


Aku menyimak secara keseluruhan hingga tiba disaat namaku dipanggil dan disusul dengan beberapa murid lain.


"Kelompok empat. Aisha, Zaskia, Rendi, Alex, dan Orlin."


"Kelompok sudah saya bagi, tidak ada yang boleh protes, tugas harus dikumpulkan minggu depan, dan sekarang kalian berkumpul sesuai kelompok masing-masing!"


Mendengar itu semua orang berbondong berpindah tempat, begitupun aku yang melakukan hal yang sama.


"Gue mau kelompok kita menjadi kelompok terbaik dan jangan sampai ada yang kurang!" tegas Orlin.


"Oke! Jadi kapan kita kerja kelompoknya?" tanya Zaskia.


"Gimana kalau nanti sore, di rumah gue." tawar Orlin yang dibalas anggukan seluruh orang.


Aku kian menundukkan kepala saat tatapan tajam Orlin serasa menusuk diriku. "Buat lo! Cupu! Awas kalau lo bikin malu kelompok kita!"


Aku hanya menganggukkan mengiyakan ancaman itu.


Jam istirahat, aku duduk seorang diri di dalam kelas bersama sekotak makan siang yang siap santap di hadapan. Menelisik keadaan yang aku alami, kini aku kembali memikirkan Kak Raefal.


"Sendiri aja Neng!"


Suara seseorang membuat diri ini memutar kepala menghadap ke arah ambang pintu yang menampilkan sosok yang tadi aku fikirkan.


Tak berselang lama, aku menjadi gelagapan saat Kak Raefal justru mendatangi diri.


"Kak! Kenapa Kakak kesini?"


Dia menaikan satu alisnya sebelum duduk di sampingku. "Suka-suka gue lah."


"Sadar engga, ini kelas aku dan----" Memilih tidak melanjutkan kalimat.


"Apa? Emang di kelas ini ada peraturan yang melarang gue masuk?"


"Bukan gitu, tapi Kakak pergi aja ya," Usirku halus.


"Ogah!"


Aku melotot ketika Kak Raefal dengan cueknya membuka kotak bekal milikku sekaligus mengabaikan permintaan yang aku lontarkan.


"Kak," mohonku.


"Fal! Anak sekolah sebelah nantangin lo pulang sekolah nanti, katanya mereka engga terima sama masalah kemarin!"


Mata aku dan Kak Raefal sontak terpusat kepada Kak Arik yang langsung masuk dan mengatakan tujuan.


"Biarin aja Rik, paling nanti juga nyerah sendiri!" balas Kak Raefal enteng.


"Gila lo!"


Kak Raefal berdiri. "Hubungin yang lain, kita kumpul di markas!"


Seperginya Kak Arik, sosok tampan yang menjadi sahabatku itu kembali menatap diri ini sebelum menunjuk bekal yang tadi sempat dia buka.


"Jangan lupa makan! Gue pamit!"


Tanpa menunggu lebih lama, Kak Raefal langsung pergi begitu saja meninggalkanku dengan tanda tanya esar.


"Apa yang akan Kak Raefal lakukan?"