Call Me Isha

Call Me Isha
41. Manis Asam Pahit



‍‍‍‍‍"Maafkan aku, aku bener-bener minta maaf," ucap Arga sekali lagi.


Aku terkekeh. "Sudah, mau sampai kapan kamu terus meminta maaf?"


"Sampai, senyum kamu terbit."


Bola mataku terangkat untuk menghindari kontak mata dengan Arga dan, tak lama dapat aku lihat jika lelaki itu membuka pintu mobil sebelum mengeluarkan sesuatu.


"Untukmu!"


Dengan senyum malu tapi mau, tanganku bergerak untuk mengambil bunga yang memiliki lambang keromantisan itu.


"Makasih."


"Kamu suka bunganya?"


"Tentu,"


"Apalagi orangnya," ceplosku dalam kalbu.


"Syukurlah, ayo kita pulang!"


"Engga perlu, orang rumahnya aja udah kelihatan dari sini," tunjukku.


"Bukan gitu Sha, tapi aku sebenarnya rindu."


"Astaga!"


Mungkin saat ini aku telihat tertawa namun, berbeda dengan hati yang sudah mengadakan konser dadakan.


Sesaat setelah Arga memintaku masuk ke dalam mobil, tubuhku bergeming kala mengingat seseorang yang tadinya hendak mengantarkan diri ini.


Segera membalikan badan namun nihil, orang yang kucari sudah tidak ada, bahkan motornya pun sudah lenyap entah kemana


"Cari siapa?" tanya Arga membuatku kembali menatap ke arahnya.


"Engga, tadi aku 'kan diantar sama Kak Raefal, tapi sekarang dia udah engga ada."


"Udah pulang, waktu kita lagi bicara."


"Kok engga bilang," gerutuku pelan.


"Udahlah, mungkin dia iri lihat kita, aku cemburu loh kamu cariin dia." Kode Arga.


"Cemburu kenapa?"


"Kamu itu punya aku tapi, masih mau dianterin cowok lain,"


"Berlebihan, lagian Kak Raefal tuh cuma sahabat aku, engga lebih"


"Tapi tetep aja dia cowok."


"Maaf ya Ga," ucapku tulus.


Kekasihku itu mengangguk sebelum memasuki mobil yang diikuti aku.


           Lelah, satu kata yang menggambarkan keadaanku saat merampungkan tugas fisika.


Suara notifikasi ponsel menarik perhatian, perlahan aku meninggalkan meja belajar untuk merebahkan diri diatas ranjang sembari mengoperasikan ponsel.


Arga❤️


[Tes]


[Udah kerjain PR fisika?]


[Bisa]


Pesan singkat itu berhasil menarik kedua sudut bibir terangkat lalu tanpa berfikir ulang segera membalas.


Arga❤


^^^[Udah, susah tapi alhamdulillah aku bisa selesaiin, benar atau engganya belum yakin]^^^


[ Syukur]


[Malam ini engga bisa nemenin kamu chat, maaf ya. Aku harus berlajar ekstra buat lomba]


^^^[Engga apa]^^^


^^^[Semangat Ga! Semoga menang]^^^


[Oke]


Setelah tidak ada lagi obrolan dengan kekasihku itu, aku beralih pada room chat Kak Raefal.


Kak Raefa😈


^^^[Kak]^^^


[Iya]


^^^[Tadi aku cariin]^^^


[Masa. Gue kira lo lupa.


Setara, sekarang ada Arga yang jauh lebih penting dari gue]


^^^[Kakak kok ngomongnya gitu]^^^


[Gue pergi karena jijik lihat adegan kalian. Pakai kasih bunga segala. Dikira kuburan kali]


^^^[Itu tuh romantis]^^^


^^^[Kayak Kakak engga pernah aja kasih gituan ke pacarnya]^^^


[Sorry! Gue engga pernah jadi bucin. Dan jangan sampai]


^^^[Kasihan deh yang bakal jadi pasangan Kakak. Hidupnya pasti suram]^^^


[Lo lihat aja sendiri!]


🍁


Aku memetik senar gitar, mengikuti nada lagu yang akan dinyanyikan dengan mata tertutup.


"Wih! Makin jago aja lo!" puji Kak Rafif yang baru datang dan tanpa izin duduk di sampingku.


"Makasih, Kakak engga les?" tanyaku.


"Engga, libur," jawabnya.


"Kak Rafif, Kak Arga engga ikut kumpul?" tanya Rara membuatku tersadar akan kehadiran kekasihku lalu mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.


"Engga, katanya dia sibuk latihan buat olimpiade matematika tingkat provinsi."


"Hebat! Kak Arga udah ganteng, pinter, bisa nyanyi, kapten basket. Perfect!" puji Rara seraya berteriak, membuatku dan Kak Rafif memandangnya aneh.


"Gue geli sumpah lihat ke alay an lo!" jujur Kak Rafif membuat Rara merenggut.


"Biarin, namanya juga fans," bela Rara seraya menjulurkan lidahnya.


"Dih apaan coba, gue juga suaranya bagus."


"Lah mending gue ada yang dengerin lah lo? Batupun engga sudi."


"Enak aja! Suara gue bagus. Buktinya gue masuk ekskul ini."


"Sebenarnya gue ogah masukin lo, cuma, karena muka lo ngenes gitu jadi kasian."


Emosi Rara menguat, menyebakan tubuh Kak Rafif menjadi sasaran bogeman yang membuat hiburan tersendiri bagi yang melihat.


"Kalian cocok, Kenapa engga jadian?" tanyaku seraya tertawa, membuat fokus bertengkar mereka terhenti lalu menatap ke arahku bebarengan.


"Engga sudi!" Rara sontak melepaskan diri.


Arga POV.


Mengelus rambut Yolan dengan sayang, sedang orang yang aku perlakuan sedemikian itu tengah menyandarkan kepalanya ke atas bahuku.


"Aku mau kita selamanya kayak gini Ga," ungkapnya.


Menurunkan kepala untuk mencium puncak kepala kekasihku itu. "Kita pasti bakal selamanya kayak gini, karena engga ada yang bisa pisahin kita kecuali maut."


"Kalau nanti kamu jatuh cinta sama Isha, aku engga yakin kamu bakal nepatin ucapan itu."


Aku mendengus kecil sebelum meminta Yolan menegakkan kepala sendiri. "Kita udah lama engga bareng Lan. Kita engga bahas sesuatu yang sensitif bisa?"


Mata indah Yolan menatapku dengan berkaca. "Aku cuma takut kamu jatuh cinta sama Isha."


"Tidak akan!" tekanku. "Dia sama sekali bukan tipeku."


"Lalu seperti apa tipemu? Apakah harus cantik hingga kamu menyebutnya tipe?" todong Yolan. "Dengar Arga, cinta tidak selamanya memandang fisik, jika kenyamanan sudah terjadi, fisik pasti akan tersampingkan."


Aku mengerti bila Yolan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi namun, kadang kala aku muak dengan pemikiran baik itu.


"Kamu pasti lapar, mau makan dimana?" tanyaki, sengaja mengalihkan perhatian.


"Engga, aku masih agak kenyang, tapi aku mau itu!"


Dia menunjuk benda berwarna merah muda yang bahan baku utamanya berasal dari gula.


"Kebiasaan." Ku cubit hidung mancungnya gemas. "Tunggu, aku beliin buat kamu dulu!"


Setelah membelinya, aku memberikan kepada Yolan yang kini sudah tersenyum lebar.


"Pelan-pelan, aku engga akan minta," tegurku saat gadis cantik itu memakannya seperti orang kesurupan.


"Kalau kamu minta, aku bunuh!" Dia menatapku dengan tatapan tajam yang terlihat menggemaskan.


"Kamu ini, sebegitu sukanya dengan makanan kapas itu sampai tega membunuh kekasih sendiri. Nanti pasti bakal viral dengan judul, 'diduga memakan permen kapas kesukaannya, seorang wanita tega membunuh kekasih nya sendiri' begitu?"


"Biarin, pokoknya aku cinta permen kapas!" katanya terlihat kekanak-kanakan yang justru terlihat sangat imut dimataku.


"Jangan sering beli permen kapas, aku takut."


Dia menatapku bingung. "Kenapa takut? Kamu takut aku kena diabetes terus aku sakit dan engga cantik, kamu takut iya?!" cercanya.


"Engga, malahan aku yang takut diabetes soalnya kamu udah manis, kalau banyak makan itu nanti malah overdosis manisnya," gombalku membuatnya blushing namun, segera dia tutupi dengan pukulan kecil pada  pundak ini.


"Garing."


"Tapi kamu suka 'kan?"


"Mana ada kalau di gombalin pacar engga suka,jelas suka lah!" jujurnya.


"Manisnya pacar aku."


Arga POV end.


🍁


Isha POV.


                  Aku tersenyum kala melihat layar ponsel yang memperlihatkan foto diriku bersama Arga, aku juga tidak menyangka bila anganku untuk memiliki hubungan lebih dengan Arga benar terjadi.


"Kenapa kamu milih aku, kenapa kamu engga milih gadis yang lebih dari aku?" tanyaku layaknya orang gila karena berbicara pada sebuah foto.


Aku mulai mengingat sesuatu, lalu dengan cepat beralih menuju aplikasi lain guna melancarkan misi yang tadi melintas di dalam otak.


Arga❤️


^^^[Arga]^^^


^^^[Maaf ganggu, kamu dimana?]^^^


^^^[Kita besok jadi jalan?]^^^


Begitulah isi pesan yang aku kirimkan pada kekasih yang entah dimana keberadaannya.


Saat aku menuliskan pesan singkat itu, rasanya seluruh persendian lemas dan jangan lupakan jantung yang berdebar dengan kencang, belum lagi keringat dingin juga sudah mulai mengucur.


Lama aku menunggu balasan pesan singkat yang aku kirim pada Arga, namun belum juga dia jawab sampai mataku lelah dengan sedirinya lalu tertidur.


Aku mengamati tali sepatu yang terlihat rapi, namun rasanya sangat malas untuk beranjak dari tempat sekarang.


Suasana hati saat ini terasa buruk, sepertinya aku terkena karma karena kerap kali mengejek orang yang berpacaran galau karena sebuah rindu. Namun, kini aku merasakannya sendiri dan ternyata sungguh meresahkan.


"Bengong aja! Nunggu gue?" tanya Kak Raefal yang tanpa permisi, duduk seenaknya di sebelah.


Dia menatapku secara seksama kemudian dahinya mulai mengkeriput. "Lo jelek banget sumpah."


Diejek seperti itu rasanya sangat tidak  berpengaruh justru kini aku membuang muka, enggan bercanda dengan Kak Raefal.


"Dih cuma buang muka, kenapa? Marah? Orang bener kok lo jelek!"


Aku menatapnya datar. "Terus kalau aku jelek kenapa? Aku harus operasi plastik?"


"Santai woyy."


"Abisnya, lagian aku tuh lagi badmood. Bukannya dihibur malah diejek," gerutuku membuatnya tertawa.


"Lo kira gue badut pakai acara ngehibur segala."


"Engga lucu!" balasku masih datar lalu membuang muka.


"Yaudah, lo mau apa? Batu? Paku? Semen? Ayo bilang engga usah sungkan."


"Engga perlu. Aku cuma mau kepala Kakak dibenturkan ke tiang listrik!" kataku sedikit kasar lalu pergi meninggalkan Kak Raefal yang malah tertawa diatas penderiataan yang menggelora dalam dada.


Aksi menggerutu terhenti disaat, sosok yang membuat uring-uringan kali ini terlihat tak jauh dari tempat.


"Arga!" panggilku saat dia dan kedua temannya berjalan di koridor.


Aku mempercepat langkah guna menghampiri Arga sembari mengabaikan bisik yang mencaciku karena berani mendekati Arga.


"Arga semalam kenapa-----" Kalimat itu tidak bisa aku utarakan karena ada ucapan lain yang memotong.


"Isha kita bicarakan masalah ekstra di forum, gue lagi buru-buru! Permisi!" pamit Arga yang langsung pergi diikuti kedua temannya yang membuatku mematung, kecewa dengan balasan Arga barusan.


"Arga?"


Bermonolong seolah bertanya entah kepada siapa dan terus menatap punggung Arga yang mulai mengecil dan menghilang ditelan bangunan.