
Isi kepala selepas pagi tadi hampir semua tentang bayang lelaki itu. Aku bukannya belum melupakan hanya saja, manager yang diri ini miliki terus merecok seputar mantan.
Rasa daging panggang serta, suasana romantis yang jarang aku rasa karena kepadatan jadwal terasa hambar. Memang semestinya reuni dadakan tidak terrealisasi.
"Engga suka?"
Kepalaku mendongak, menatap kekasih yang telah aku pacari sejak tiga tahun lalu.
Kedua anting panjang berwarna baby gray yang serasi dengan gaun yang aku kenakan bergoyang saat kepala menggeleng.
"Suka, makasih ya udah luangin waktu."
"Tentu."
Sekedar informasi, Arik. Kekasihku itu menggeluti dunia perfilman sejak lulus sekolah menengah akhir hingga, beberapa tahun ini namanya, terkenal karena bakat serta wajah yang mumpuni.
"Dapet undangan?" tanya Kak Arik, sembari memotong daging.
"Iya."
Mata kami saling bertautan sebelum Kak Arik putus dengan kalimatnya. "Kamu mau hadir?"
Senyum terpatri, salah satu tanganku memangku sebelah pipi dan menatap penuh ledek ke arah lelaki tampan itu.
"Cemburu?"
Tawa tertangkap oleh gendang telinga, Kak Arik memasukkan makanan dan mengunyah sebentar sebelum membalas.
"Enggalah."
"Yakin? Selain teman deket kamu waktu SMA. Dia juga mantan aku."
"Terus kenapa? Cuma mantan bukan?" Dia mengelap bibirnya menggunakan tisu. "Kecuali, kamu masih punya rasa. Mungkin disana aku yang akan tersakiti."
Aku terkikik melihat wajah Kak Arik yang sengaja dibuat sesedih mungkin.
"Simpan dramamu ditempat yang tepat. Aku hanya bercanda." Memberi jeda. "Bagiku, itu hanya cinta monyet."
"Bener, tapi kisah kalian waktu SMA cukup menarik. Untungnya berakhir sad ending."
"Kok untung?"
"Kalau happy ending, sekarang yang jadi pacar kamu bukan aku."
"Kamu benar, tapi kalau jodoh engga akan kemana kok."
Netra menangkap segala gerak yang diciptakan Kak Arik, kepala terus menyuruh mulut membuka suara namun terasa berat dihati.
"Mau ngomong apa? Bilang aja."
Seperti biasa, lelaki dengan sejuta pesona itu berhasil membuat hati senang karena kepekaan yang dia miliki.
"Hubungan kalian baik?"
"Sama Raefal?" tanyanya memastikan yang aku beri anggukan. "Baik, kita juga sesekali bertukar pesan."
Tidak menyangka, kini merasa seolah hanya akulah yang memiliki masalah dengan masa lalu.
"Engga canggung? Setara, sekarang kita pacaran sedang, dia mantan aku."
Kak Arik tertawa, seolah menganggap omonganku sebuah lelucon konyol yang tidak singkron dengan kenyataan.
"Kenapa harus canggung?" Dia balik bertanya. "Kamu itu aku dapatkan jauh hari setelah putus. Dan, dia juga punya yang lain."
Aku mengangguk, membenarkan kenyataan itu. Tak bisa dipungkiri bila aku merasa ganjal, mungkinkah aku telah memulai lembaran baru atau masih berada di titik itu.
"Sayang."
Entah berapa lama aku melamun hingga, tidak memperhatikan Kak Arik yang kini telah berlutut di samping kursi yang aku duduki seraya memamerkan sebuah kontak cincin.
Aku berdiri kaget. "Kak!"
"Flo, aku rasa udah waktunya kita serius."
Menghembuskan nafas, aku menuntun Kak Arik untuk kembali ke kursinya.
"Apa engga terlalu cepat? Mengingat sekarang kita sedang ada dipuncak karier."
Kekecewaan terlalu mendominasi wajah kekasihku itu. "Mau nunggu sampai kapan lagi? Engga capek main petak umpet sama media?"
"Kamu lamar aku karena Kak Raefal 'kan?" tudingku mencoba tetap tenang.
"Flo!"
Meski bukan bentakkan, panggilan berat dengan mata penuh sarat kemarahan cukup membuat aku menciut sekian detik.
"Kamu cuma engga mau kalah dari dia?" tuduhku lagi.
"Ini tentang kita. Kenapa kamu bawa namanya?" Satu sudut bibir dia tarik. "Atau, sebenarnya. Hati kamu masih milik dia, makanya langsung inget dia?!"
Kening berlipat, mata menyipit menatap Kak Arik tajam. "Kamu nuduh aku!"
"Kenyataan! Aku ingin bahas hubungan kita yang buta arah tapi, kamu malah bawa dia. Jadi sebenernya kamu masih mengharap balikan?"
Aku terdiam, mengingat bila perdebatan ini jelas diriku yang mengundang.
"Ya----" Aku memutar otak sekeras mungkin. "Karena kamu lamar aku disaat dia mau ke jenjang itu. Aku langsung mikir kesanalah."
"Bagus! Secara engga langsung kamu bilang kalau kamu mikirin dia."
"Maaf, aku kepancing emosi. Aku cuma kaget saat kamu lamar tadi, maaf babe."
Kak Arik menjatuhkan bokongku ke atas pahanya, lalu tangannya perlahan melingkari pinggang.
"Aku juga minta maaf karena kasar." Memberi spasi. "Sebenarnya, udah jauh hari ingin lamar kamu bahkan di depan orang tua tapi baru sekarang terlaksana, maaf."
"Engga masalah."
Telapak tangan Kak Arik membingkai seluruh wajahku. "Jadi, maukan menjadi istriku?"
Entah mengapa kini aku terdiam, seolah memikirkan sesuatu yang tidak tahu pasti.
"Flo?"
Dengan canggung aku mengangguk yang dibalas dengan senyum sumringah Kak Arik sebelum, ia mencium keningku seraya menyelipkan kalimat cinta.
🎤
Niat baik Kak Arik yang dikata kemarin bukan bualan semata, bukti keseriusan itu terlihat saat tanpa aba kedua orang tuanya menyambangi rumah dengan maksud meminang diriku.
"Cepet jawab Sha. Udah ditunggu dari tadi," bisik Orlin tepat di depan telinga karena, aku yang terlalu lama diam setelah ajakan sakral itu terlontar.
Detik pertama aku mengangkat kepala adalah melihat biar penuh harap dari Kak Arik beserta rombongan, lalu berganti kepada kedua orang tuaku yang tersenyum menenangkan.
Bimbang hal yang aku rasa, semestinya sekarang aku bahagia tetapi, hati terasa berat untuk memutuskan.
"Assalamu'alaikum."
Jawabanku tidak lagi menarik, seluruh kepala memilih menoleh untuk melihat sosok yang tanpa beban hadir dengan senyuman lebar.
"Nak Raefal!"
Aku dibuat heran saat Papa berdiri, menerima salam dari mantanku sebelum saling berbasa-basi seolah keduanya dekat padahal, dulu semasa kami remaja aku tahu jika Papa sama sekali tidak menyukainya.
"Maaf Om, mau anter undangan. Engga tahu kalau ada tamu penting," alasan lelaki itu.
"Hai Zimra!" sapa Lova girang menghampiri sahabatnya.
"Oh god! Ini aku beneran di rumahnya Flo!" pekik Zimra sembari menatap sekeliling tidak percaya. "Gila! Ini kayak mimpi!"
Sementara semua orang tertawa, Orlin mencolek bahuku sebelum membisikan beberapa patah kata yang kian menghancurkan mood.
"Sha, mungkin engga kalau Kak Raefal ikut lamar lo sekarang?"
"Diam Orlin," bisikku.
"Hai Bro!"
Lalu, seolah jawaban lamaran tadi tidak pernah dinanti, semua orang justru asik menyambut tamu tak diundang bahkan sampai kekasihku sendiri.
"Lin, dia engga punya malu apa? Dateng ke rumah mantan terus ngerusuh diacara lamaran. Dikira keren apa," cibirku yang tentu lirih dan hanya didengar wanita itu.
"Niat dia 'kan cuma kasih undangan. Santai, dia engga beneran bermaksud lamar juga kok. Jadi lo engga usah jengkel gitu."
Aku memperhatikan sosok Kak Raefal yang tengah duduk di samping kekasihku, berbagi kata dengan para tetua serta diselingi tawa.
"Kalau begitu, gimana kalau resepsi kita nanti barengan."
Minuman yang mengalir sepanjang tenggorokan keluar paksa kala, mendengar Kak Raefal mengusulkan ide yang cukup mengerikan. Tidak ada cerita mantan berbagi tempat resepsi.
"Seru juga! Pasti para Alumni SMA kita bakal excited banget, apalagi kalian dulunya pasangan paling fenomenal."
Kedua lelaki itu memang bersahabat lama tetapi, apa otak aneh mereka juga harus sama.
"Okey, sekalian kita patungan. Lumayan irit uang."
Alasan itu dikeluarkan oleh Kak Raefal, cukup menggelikan didengar memang.
"Kalau engga ada uang, engga perlu nikahan," dumelku dalam hati.
"Khem!"
Sengaja aku berdehem keras, tidak ingin pembahasan itu dilanjut. Mana sudi patungan dengan mantan, uangku lebih dari cukup untuk menggelar pesta mewah meski ribuan kali.
"Maaf menyela, tapi aku engga mau berbagi pesta dengan orang asing."
Menekankan kedua kata terakhir, ingin melihat reaksi mantan yang ternyata hanya bersikap datar.
"Jadi, lamarannya beneran kamu terima?" tanya Kak Arik memastikan.
Skakmat, justru aku yang mati kutu sekarang. Ditatap dengan penuh keingintahuan apalagi, mantan yang melakukan hal serupa.
Hanya terjadi padaku, mantan datang disaat lamaran namun tidak terjadi perseteruan fenomenal.
"Flo?"
Satu anggukan pelan dariku menjadi jawaban, menyebabkan kalimat hamdalah terucap dari setiap mulut.
Bukannya menatap malu kepada calon suami, mata justru lebih tertarik untuk mencuri pandang ke arah Kak Raefal.
Alasanku hanya untuk melihat reaksi Kak Raefal karena, dia datang diacara lamaran mantan, tentu. Hanya itu, aku sudah move on lama.
______
Jumat, 9 Juli 2021.