
"Loh sudah pulang, Arganya mana? Kok engga ikut masuk?" tanya Mama sesaat setelah aku masuk ke dalam rumah.
"Udah pulang Ma," jawabku sekenanya.
Aku mengambil air minum yang tak jauh dari tempatku berdiri lalu duduk di samping Mama dan menengguk air yang membuatku sedikit segar.
"Arga hebat ya," celetuk Mama membuatku menoleh ke arahnya.
"Memang dia kenapa?"
"Tadi kesini kasih kabar, kalau dia menang lomba matematika di Singapura, Mama aja bangga banget dengernya apalagi Nesya yang Ibu kandungnya."
Aku terdiam, semakin merasa bersalah dengan apa yang baru saja terjadi.
"Hampir lupa, itu! Buah tangan dari Arga!" Menunjuk sebuah kotak merah yang membuat penasaran.
Dibukanya buah tangan Arga, aku menemukan sebuah kalung dengan tulisan '2A' yang menyebabkan setitik air jatuh tanpa aku pinta.
"Ma Isha ke kamar!" pamitku setelah dirasa tak bisa lagi membendung air mata ini.
Menutup pintu kamar dan menguncinya sebelum menghubungi Arga yang tidak dia angkat hingga memutuskan untuk mengiriminya pesan.
Tidak bisa diam, kakiku berjalan bebas sembari menanti suara berat di seberang sana menyapa.
"Angkat Arga."
"Angkat!"
Dari sekian banyak panggilan suara yang aku lakukan akhirnya, menuai hasil jua yang langsung aku ungkap tanpa pikir panjang.
"Arga, aku minta maaf, a-aku bener-bener minta maaf-----"
Mulut yang semula mengoceh sontak berhenti kala suara perempatan menyela paksa.
"Lo lebih baik jangan ganggu Arga! Lo itu cuma cewek engga tahu diri!"
"Udah baik sepupu gue mau sama lo yang buluk! Mulai sekarang dan seterusnya lo engga usah hubungin Arga lagi, dasar Cupu engga tahu diri, lo--------"
Belum selesai Orlin memaki, aku memutuskan sambungan begitu saja lalu menjatuhkan diri ke atas ranjang, membiarkan ponselku tergeletak entah dimana.
"Maaf Arga,"
Arga POV.
"Seneng banget lo, habis ***** sama Yollan?"
Aku mendengus mendengar celetukan orang yang berada di dalam kamarku.
"Mulutnya!"
Sepupuku itu tersenyum penuh tanya. "Lalu apa yang membuat pangeran sekolah terlihat gembira?"
Aku mendudukkan diri tepat di samping Orlin. "Gue seneng karena permainan akan berakhir."
Perempuan dengan wajah cantik itu tersenyum miring. "Ini yang gue suka. Melihat orang yang rebut milik gue terlihat menyedihkan."
"Lihat aja entar, bagaimana Cupu itu akan bertahan lebih lama,"
"Tangan gue tuh udah gatel banget pingin bully dia, apalagi nanti saat dia tahu kebenarannya," balasnya dengan senyum penuh arti.
Aku menggelengkan kepala tidak mengerti dengan jalan pikir Orlin, sepupuku itu sangat berambisi memenangkan Raefal, entah ada apa dengan lelaki itu.
"Serah lo dah, yang penting gue terbebas dari perjodohan engga masuk akal itu."
"Kalau tentang perasaan Cupu gue bodo amat, mau dia bunuh diri juga gue yang untung karena dapet nasi kotak,"
"Najis!" cerca Orlin.
"Tapi nanti pasti Kak Raefal bakal bantu dia kayak superhero, lama-lama gue gedeg sama dia, nyebelin. Tapi sayang,"
"Dasar bucin."
"Biarin, dia itu sosok sempurna, walaupun engga pinter, tapi dia bertanggung jawab, baik, engga egois," ucapnya yang ketara sekali menyindirku.
"Dasar! Denger Orlin, adik gue tersayang, semua lelaki itu sama, sama-sama brengsek."
"No! Kak Raefal engga! Itu mah lo kali,"
"Serah lo dah, ngomong sama lo tuh engga bakal ada ujungnya."
Aku menunjukkan ponselku kepada Orlin, yang langsung dia tanggapi dengan tawanya yang khas.
Orlin mengambil alih ponselku lalu dia speakers panggilannya. "Biar gue yang urus."
"Arga, aku minta maaf, a-aku bener-bener minta maaf--"
Suara yang terdengar di sebarang sana membuatku dan Orlin saling bertatapan lalu tersenyum remeh.
Sebelum Isha menyelesaikan kalimatnya, Orlin lebih dulu memotong yang mungkin membuat dia kaget.
"Lo lebih baik jangan ganggu Arga! Lo itu cuma cewek engga tahu diri!"
"Udah baik sepupu gue mau sama lo yang buluk! Mulai sekarang dan seterusnya lo engga usah hubungin Arga lagi, dasar Cupu engga tahu diri, lo--------"
Hardikan Orlin langsung diputus oleh si empu sebelum sepupuku itu menyelesaikan hujatan panjangnya.
"Dih, dasar songong lo!"
"Lo pikir sekarang Arga lagi sedih gitu karena lo selingkuh?!"
Tertawa ditempat karena, Orlin yang memarahi ponselku yang baru saja diputuskan panggilannya oleh Isha.
"Lo juga! Kenapa bawain Cupu kalung segala, bawain sampah aja biar sepadan."
"Ceritanya ini kode nih gara-gara engga dibeliin oleh-oleh?"
"Iya lah! Masa cewek udik kayak dia lo istimewakan, sedangkan gue? Cuma dapet angin."
"Asal lo tahu, gue engga bawa kalung dari Singapore asli kok, gue pesen di tanah abang," jawabku jujur tanpa filter.
Orlin menatapku tidak percaya. "Serius?"
"Disana gue lomba bukan liburan."