Call Me Isha

Call Me Isha
50. Menyesal



‍Rintik hujan menerpa telapak tangan yang sengaja aku keluarkan dari jendela kamar, tentara langit ini menemani diriku yang tengah dilanda gundah gulana.


"Sha, keluarga Tante Fitri berkunjung," info Mama.


Aku tidak membalikan badan, tetap menikmati setiap tetes hujan yang membasahi tangan. "Suruh Salsa ke kamar Ma,"


"Yaudah, Mama panggil ya."


Sekedar informasi, gadis yang aku minta datang itu adalah sepupu yang hanya berjarak satu tahun diatasku, kebetulan kami juga cukup dekat hingga kadang berbagi rahasia kecil.


Suara pintu terbuka yang kemudian ditutup kembali menarik atensiku untuk melihat sosok sepupu yang wajahnya terlihat bersinar.


"Lo masih galau?"


Aku mengedikkan bahu acuh untuk menanggapi pertanyaan konyol itu.


"Sha, cowok itu masih banyak. Engga perlulah lo sampai kayak gini," tuturnya sembari mendudukan diri di atas ranjang.


"Sebanyak apapun lelaki di dunia ini, kalau hati engga suka harus diapakan?" lirihku tertunduk.


Terdengar samar langkah kaki Salsa mendekat sebelum menyentuh bahu ini lembut.


"Engga usah lebay deh Sha!"


"Maksudnya?" Aku menatapnya dengan tatapan aneh.


Dia menegakkan tubuh sembari bekacak pinggang. "Memang dengan lo merenung sambil lihat hujan bakal bikin dia balik? Enggakan?"


"Gue bingung Sha," lanjutnya kemudian.


"Kenapa?" tanyaku.


"Lo itu jadi cewek maruk, udah punya pacar ganteng masih aja nemplok sama Raefal. Seharusnya lo bersyukur bukan malah main dibelakang."


"Harus berapa kali aku bilang kalau kita cuma temenan? Engga lebih," ujarku dengan menggebu, merasa sesak dengan pertanyaan itu. "Justru Arga yang selingkuh sama Yollan."


"Lagian, gue lihat juga si Yollan memang cantiknya bukan lagi tandingan. Apalah sepupu gue yang seperti remahan rengginang," cerocosnya terlampau jujur.


"Kalau mau muji orang, bisa lihat situasi?" sindirku.


Dia terkekeh. "Maaf, gue 'kan emang gini. Tapi gimana kalau lo berubah?"


"Jadi Superman? Atau poweranger?"


Dia menepuk jidadnya. "Lo ubah penampilan lo, buktikan kalau lo bisa secantik Yollan."


"Aku engga butuh seseorang yang menyukai diri karena fisik, ingin buktikan juga kalau masih ada seseorang di dunia ini yang masih mencintai karena hati."


Salsa menatapku aneh sebelum menyentuh keningku sekilas. "Oho! Jangan mengada-ngada kau anak manusia!"


"Ingin membuktikan saja, mungkin ada."


"Pusing gue denger cerita lo yang udah kayak telenovela, lebih baik kita belanja!" usulnya dengan semangat."


"Malas,"


"Bangun atau gue aduin ke bonyok kalau lo pacaran?!" ancamnya yang membuat tubuh ini segara berlari menuju ke kamar mandi.


🍁


"Capek ya Allah," keluh Salsa kala kami keluar dari gedung pencakar langit yang paling digemari oleh orang penggila belanja.


"Kita pulang!" putusku.


"Gini nih kalau ajak belanja anak yang baru kretek ati. Malesan," cibirnya sembari memasang sabuk pengaman sebelum kami benar-benar pergi meningalkan mall.


"Memang kita mau kemana lagi? Belum puas sama belanjaan tadi?"


"Terserah!" ujarku sembari menikmati panorama jalanan dari kaca mobil.


       Efek patah hati sangat berpengaruh, saat hendak turun dari mobilpun rasanya malas sekali apalagi saat merasa teriknya mentari.


"Ya Allah, lo nyebelin banget deh kalau patah hati. Cepet!" titahnya yang berdiri jauh dariku.


"Sabar," balasku saat aku tiba di sampingnya.


"Ilangin penyakit kretek ati lo, gue mau seneng-seneng Sha,"


Kala kami hendak mendorong pintu kafe, sosok yang mematahkan hatiku terlihat keluar dengan seorang gadis yang aku kenal sebatas nama.


"Isha!" beo Yollan.


"Dasar kadal!" geram Salsha, hendak menghajar Arga yang langsung aku cegah.


Seolah tidak ada yang terjadi, Arga mendorong pintu kafe dan hendak pergi yang langsung aku cekal pergelangan tangannya.


"Ini yang dinamakan partner lomba? Jalan berdua sambil tertawa penuh cinta?"


Aku mengusap cairan putih yang keluar itu. "Salahku apa Ga?"


"Ikut gue!"


Arga menarik paksa lenganku, membuat Salsa berteriak dan mencoba melepas tangan Arga yang menggenggam tangan ini kuat lalu, jangan lupakan Yollan yang dengan wajah panik mengikuti kami hingga tiba di parkiran.


"Akh!" pekikku saat Arga melempar tubuh ini hingga tersungkur.


Salsa dengan cekatan membawaku untuk kembali berdiri sembari menatap nyalang Arga. "Kurang ajar! Lo kira bisa seenaknya berperilaku?!"


"Disini yang kurang ajar kalian! Datang langsung bikin drama, murahan!"


"Bangsat! Lo jadi cowok bener-bener ya!" geram Salsa hendak kembali menghajar Arga yang aku tahan.


"Biarin gue hajar dia Sha!"


"Dia urusan aku," ungkapku sembari menahan tangis.


"Dasar kaum rendahan!" semprot Arga. "Kita pergi sekarang sayang!"


Lelaki itu menggandeng tangan Yollan yang sedari tadi berdiri tanpa melakukan apapun.


"Jadi kalian beneran selingkuh? Apa salah aku Ga?" lirihku.


"Cewek secantik Yollan engga mungkin jadi selingkuhan, yang ada itu lo!" Arga mendekat lalu mendorong tubuh ini hingga mencium tanah. "Ini tempat lo sesungguhnya! Di bawah telapak kaki orang kayak gue dan Yollan."


Tangis tidak lagi bisa aku bendung, lelaki yang sewaktu itu datang memohon ampun kita malah mematahkan hati.


"Maksud kamu apa Ga?"


"Hubungan yang lo maksud itu cuma permainan untuk membuat orang kayak lo sadar akan kedudukan!" tekannya.


"Kamu anggap perasaanku mainan Ga?" tanyaku. "Brengsek kamu!"


"Dari awal juga lo tahu lalu, kenapa baru sekarang lo mengeluh?" Menjeda sebentar. "Lo itu cuma butiran pasir dikehidupan gue. Kehadiran lo engga berarti apapun."


"Seburuk itu aku dimata kamu Ga?"


"Memang, kenapa? Nyesel udah cinta mati ke gue sampai rela menjadi bahan bulanan supaya gue tertawa?"


"Iya!" Aku menatapnya dengan menantang. "Aku menyesal karena mencintai lelaki tak berperasaan seperti kamu!"


"Dan gue engga perduli. Kalimat lo sama sekali engga akan berdampak pada kehidupan gue yang bahagia ini."


"Aku yang salah," lirihku sembari menutup mata.