Call Me Isha

Call Me Isha
46 Temen Rasa Pacar



Aku mengangkat panggilan tanpa melihat nama penelepon lalu mendekatkan ke arah telinga menunggu orang diseberang berbicara.


"Sha, gue ada di depan rumah lo."


"Buat apa?"


"Suara lo kenapa?"


Aku menggulingkan raga hingga terlentang sembari menatap langit kamar. "Engga apa, cuma baru bangun Kak."


"Dasar kebo! Siang bolong masih molor, buru keluar! Gue tunggu."


"Mau ngapain?"


"Gue butuh temen, semua orang pada sibuk sama pacar masing-masing."


Aku tertawa meledek. "Makanya cari pacar."


"Ck! Udahlah! Cepet lo kesini atau gue yang masuk!" ancamnya.


"Jangan! Papa lagi di rumah, biar aku yang keluar."


"Oke gue tunggu, engga usah dandan, lo udah jelek dari orok udah engga bis----" Sebelum menyelesaikan kalimat itu, langsung saja aku putus sambungannya.


"Pa, Isha pamit mau main!" izinku pada Papa yang sedang menonton televisi.


"Sama siapa? Arga?"


Aku menggigit bibir bagian dalam sembari menunduk. "Kak Raefal."


"Mau ngapain?" Secepat kilat, beliau menatapku menyelidik.


"Nemenin dia cari bahan buat ujian," bohongku.


"Emang engga bisa cari sendiri?"


Kedua bola kata bergerilya tak tentu arah, takut jika kebohonganku semakin menjadi.


"Sudahlah Pa, lagian Nak Raefal tuh baik anaknya," ujar Mama membuatku tersenyum.


"Kamu ini, baiklah, tapi jangan pulang malam, ingat? Sebelum maghrib harus udah di rumah, mengerti!"


"Iya, kalo begitu aku pamit."


"Kak!" panggilku saat sampai di hadapannya.


"Lo apain mata lo sampai kayak panda?" selidik lelaki itu, dapat aku acungkan jempol untuk kejeliannya.


"Engga apa Kak."


"Lo abis nangis? Kenapa?"


Menghembus nafas sembari lalu tersenyum simpul. "Kita jangan bahas ini ya Kak?"


"Jangan bilang lo ada masalah sama Arga?" tebaknya.


"Engga Kak!"


Sungguh, aku takut jika Kak Raefal tahu yang sebenarnya, bisa habis Arga dirangan Kak Raefal nanti.


"Sekarang naik!" titahnya membuat diri ini naik ke atas motornya yang tak lama dihidupkan.


          Bibirku berkedut saat melihat pemandangan yang tertangkap mata, sedikit tidak menyangka bila Kak Raefal membawaku melihat air terjun.


"Sengaja, biar lo engga hilang," kilahnya saat aku melirik jemari kami yang saling bertaut.


Memilih mengabaikan, aku menyeimbangkan langkah hingga kita tiba di depan objek.


"Bagus, kita foto yuk!" ajakku mengarahkan kamera pada wajah kami dan mulai berfoto ria.


Kali ini aku bisa melepas tawa, mungkin bagi sebagian orang yang melihat kami seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.


Sempat aku pikir bila kegalauanku akan sangat merusak suasana akan tetapi, justru kini aku sama sekali tidak merasa sakit yang terlalu menghimpit.


"Disini cukup dingin ya?" Aku memandang sekitar sembari menggosok kedua tangan untuk memberi rasa hangat.


"Jangan harap gue bakal lepas jaket kayak di film atau novel yang sering lo baca, gue engga pake jaket."


Untuk kali ini, ingin sekali aku menyumpal mulut penuh kepedean tingkat dewa dari Kak Raefal.


"Kita kesana yuk!"


Aku tersenyum sembari berjalan ke arah tempat yang ditunjuk Kak Raefal, lelaki itu memang bukan sosok yang akan gembar-gembor mengungkap perhatian akan tetapi, di balik sifat menyesatkannya itu terselip sosok Kakak yang pengertian.


"Bu, wedang jahenya dua!" pesan Kak Raefal saat kami akan duduk di depan warung kecil.


"Kakak itu perhatian ya?" ungkapku tersenyum meledek.


"Kenapa? Pacar lo kalah peka?"


"Engga jadi!"


Malas sekali harus membahas Arga di detik ini.


"Ini, silakan dinikmati."


Aku segera meminum pesanan tadi sembari menutup mata.


"Hangat," desahku saat baru saja menyesap minuman


"Engga diminum?" tanyaku kala melihat orang di sebelahku justru sibuk bermain gawai.


Dia tidak menoleh. "Engga, buat lo aja."


Aku menggeleng. "Engga, ini udah cukup, lagian disini cukup dingin loh, Kakak emang engga kedinginan?"


"Iya nanti."


"Engga! Minum sekarang! Emang engga dingin? Apalagi Kakak pake baju tipis gitu," gerutuku.


"Akh! Ayolah Isha." Dia mendesah geram. "Gue engga bakal mati karena kedinginan, emang gue cewek, lemah!"


Aku melotot, secara tidak langsung Kak Raefal mengatai kaumku.


Aku menatapnya sengit. "Kaum yang Kakak hina lemah itu pernah berjuang agar Kakak hidup."


"Canda, lagian lo ganggu gue main,"


"Main aja terus, katanya mau ditemenin, kalau ini mah aku merasa kayak obat nyamuk diantara kemesraan kalian."


"Astaga! lo cemburu sama games?" kekehnya.


"Aku engga cemburu, aku cuma engga suka dicuekin."


"Yaudah, jadi lo mau gue sayang-sayang?" tanyanya sembari menatapku dengan satu alis terangkat.


Segera aku tutup mulutnya sebelum menepuk puncak Kak Raefal karena kami menjadi pusat perhatian orang yang ada di warung.


"Apaan lo!" sentaknya meminta aku mundur.


"Kakak tuh, kenapa bicara kayak tadi. Kayak orang pacaran aja."


"Mau?"


Aku melotot lalu menggeleng keras. "Engga!"


"Dih emangnya siapa juga yang mau."


Tangan nakal Kak Raefal menempel di pundak, membuat diri ini menatap ke arahnya yang dibalas senyum jahil.


"Kak," protesku saat berhasil lepas dari rangkulannya.


"Biar mereka pada iri liat kita," ujarnya sembari melirik kesegala penjuru.


"Apa si, tadi aja katanya engga mau."


"Lo ngode gue?"


"Hah?" Aku cengo sendiri.


"Walaupun kita engga pacaran, tapi kita teman rasa pacar."


"Mati aja deh!"


           Menuruti kemauan Kak Raefal, kini aku terjebak di warung kopi yang sering di jadikan tongkrongan bagi kaum milenial karena tempatnya instagramable.


"Isha!" panggil seseorang dari arah belakang.


Aku menoleh dan menemukan Arga dengan raut terkejut yang juga aku pasang setelah melihatnya.


"Ar-Arga?"


"Kamu kenapa ada disini? Dan ini? Kamu jalan sama dia?" tanyanya beruntut sembari menunjuk Kak Raefal.


"Arga, ini engga kayak yang kamu kira ini hanya----- " Kalimatku terpotong oleh omongan Arga.


"Sekarang apa lagi alasan kamu?" tanyanya. "Kalau kamu memang masih ada rasa, aku yakin kamu engga bakal lebih prioritasin dia dari aku."


"Maksud kamu apa Ga?" Aku sudah berkaca kini. "Dia cuma temen aku."


"Cek handphone kamu, udah berapa kali aku telepon!"