
"Good morning everyone!" teriak Orlin begitu memasuki kelas.
Acel menatap diriku dengan Orlin bergantian sembari menampilkan raut wajah bingung.
"Gue, engga salah lihat bukan? Lo bareng Cupu?"
Orlin tertawa sebelum merangkul pundakku yang kian membuat Acel tercengang. "Iya, sekarang kita partner."
"Hah? Ini gue engga mimpi bukan?"
Gelak tawa yang berasal dari Orlin membuat rangkulan itu terlepas karena gadis cantik itu hendak menghampiri Acel.
"Acel, mulai sekarang Cupu jadi babu gue. Jadi, kalau lo butuh apapun perbudak saja dia."
Tadi Acel, lalu sekarang aku yang tercengang dengan kalimat yang Orlin lontar, melayani satu orang saja sudah membuat pusing.
"Kok bisa?"
"Ceritanya panjang. Sambil cerita bagaimna kalau kita makan snack?" tawar Orlin.
"Bagus juga, tapi gue males buat turun. Capek," keluh Acel.
"Tenang, buat apa tugas Cupu disini kalau bukan buat membabu," kode Acel.
"Lo dengerkan? Ini!" Acel menyerahkan uang berwarna merah kepadaku. "Jangan lama."
Sebelum sempat mengambil uang tadi, Orlin terlebih dahulu merebutnya. "Engga akan asik kalau kayak gini."
"Lo beliin kita snack dengan uang lo sendiri. Ingat babu!"
"Tapi Orlin, uang saku milikku engga banyak," jujurku.
Orlin memutar bola mata sembari berdecak keras. "Emang gue perduli?!"
"Lo itu cuma babu! Engga usah banyak protes!" lanjutnya.
Meski sedikit kesal aku tetap melaksanakan perintah Orlin, menggunakan uang pribadi milikku yang hanya berjumlah tiga puluh ribu.
Berisiknya suara bel menggema di setiap sudut, menandakan jika aku harus berlari agar tidak ketinggalan kelas pertama, karena kantin lumayan jauh dari gedung kelas sebelas.
Untuk sesaat aku bernafas lega karena guru belum masuk apalagi mengajar di dalam kelas.
Tanpa membuang waktu, kaki dilangkahkan menuju tempat dimana Acel serta Orlin duduk.
"Ini pesanan kalian,x
Kegiatan Orlin bersama Acel terhenti untuk mengamati makanan ringan yang aku beli dan meletakkannya di atas meja.
"Lo kasih gue itu? Engga!" tolak Orlin.
"Tapi----" Kalimatku terpotong.
"Engga usah banyak bacot! Sekarang pergi lo!" titahnya sedikit membentak.
"Tapi setidaknya makan, aku sudah berusaha mendapatkannya."
"Ogah! Gue engga sudi makan dari uang orang misqueen kayak lo!" hina Orlin membuat hatiku seperti diremas.
"Denger? Sekarang pergi!" titah Acel lalu tanpa ekspresi membuang snack itu hingga berserakan di lantai.
"Acel! Jangan hina makanan!" bentakku.
Setelah sadar akan kejadian barusan, mata ini terbuka lebar, belum lagi seluruh tatap mata kini terpusat kepadaku.
Acel berdiri lalu menggebrak meja. "Berani banget ya sekarang?! Lo itu cuma babu! Tempat lo engga lebih tinggi dari bawah telapak kaki!"
Menunduk dalam, aku sama sekali tidak berani lagi menatap. "Maaf,"
Acel membentak lalu mendorong kuat tubuhku hingga membuat raga ini terjatuh di atas permukaan lantai dan membuat tawa seluruh kelas pecah.
Di jam istirahat, aku harus mengekor Orlin bersama kedua sahabatnya dari lorong hingga tiba di kantin.
"Cupu pesenin gue bakso sama jus jambu!" perintah Orlin tanpa menolehkan tatapan dari ponsel.
"Beliin gue batagor yang pedes banget, terus pake jus jeruk!" pesan Anoora.
"Gue mau Soto, minumnya es teh."
Selepas mengambil uang, dengan cepat aku menuju tempat dimana harus mengantre guna mendapat pesanan.
"Gua cari ternyata disini, mau makan apa?" tanya seseorang di belakangku.
Aku berbalik dan menemukan sosok Kak Raefal dengan gaya andalannya.
Aku mengambil nampan yang berisi pesanan itu sebelum tersenyum. "Aku duluan ya Kak.
Lepas dari Kak Raefal kini aku melakukan tugas layaknya pembantu, menata makanan agar siap santap.
Aku hendak duduk di bangku kosong sebelah Acel namun dia malah menariknya sehingga membuat pantatku bertubrukan dengan lantai.
Sakitnya memang tidak seberapa, namun rasa malu itu sangat menominasikan karena tawa terdengar dari berbagai titik.
Aku kembali membetulkan kursi yang hentak aku duduki namun sebelum terlaksana Orlin lebih dahulu membuka suara.
"Mau apa lo?"
"Aku mau duduk."
"Memang lo kira kita selevel buat duduk bareng?" hina Orlin lagi.
Aku diam, membiarkan para penguasa itu menyombong diri.
"Lo disini itu cuma babu, engga usah ngarep bisa setara."
Semantara mereka menikmati makanan serta asik berbincang, aku hanya diam berdiri layaknya pajangan.
"Isha!"
Karena panggilan itu, aku berbalik badan dan menemukan Kak Raefal dengan tatapan tajam berjalan menuju ke arahku.
"Ikut gue!" titahnya menggenggam tanganku dan hendak menariknya.
Orlin sontak berdiri, memisahkan tanganku yang tadinya digenggam oleh Kak Raefal paksa.
"Kalau Kakak mau Cupu, harus izin sama aku."
"Memang lo siapanya Isha?"
"Dia itu lagi bareng aku, seenggaknya Kakak izin."
"Dia bareng sama lo karena dijadikan babu?" sarkas Kak Raefal membuatku menunduk, apalagi sekarang kami sudah menjadi tontonan gratis.
Aku menarik baju Kak Raefal sebagai pertanda jika aku ingin berbincang. "Kak,"
Tanpa aba Kak Raefal menarikku dari tempat kejadian namun, baru beberapa langkah yang diambil nyatanya kembali dihentikan oleh orang yang sama.
"Cupu! Ingat janji lo! Balik ke sini! Ini perintah!" teriak Orlin.
Aku melirik Kak Raefal sejenak. "Kak ak-aku mau sama Orlin, lepaskan."
"Engga! Lo ikut gue!" putusnya membuat Orlin mendekat lalu memutuskan tautan jemari kami dengan kasar.