Call Me Isha

Call Me Isha
15. Ada Apa Dengan Orlin-Raefal?



"Lo apa-apaan sih, mau lo apa?" tanya Kak Raefal pada Orlin tajam.


"Maaf Kak, Cupu itu babu aku sekarang. Jadi kalau Kakak butuh teman, ada aku yang lebih dari pantas buat Kakak."


Menghiraukan Orlin, Kak Raefal menatapku dengan tatapan serius.


"Gue engga mau banyak bacot. Sekarang lo ikut gue atau dia?!"


Aku bingung menentukan jawaban, disatu sisi aku ingin bersama dengan Kak Raefal namun, aku juga harus menepati janji.


Aku menunduk dalam, aku tahu keputusan ini akan sedikit menyentil hati Kak Raefal.


"O-Orlin, Kak."


"Kakak lihat sendiri 'kan?" ungkap Orlin.


Kepergian Kak Raefal diikut kepergianku yang ditarik secara paksa oleh Orlin ke dalam kelas lalu melempar tubuh ini tanpa berperasaan.


"Apa sih yang spesial dari diri lo sampai Kak Raefal mau bela-belaain orang kayak lo!" bentaknya.


"Geli gue kalau Kak Raefal bela dia." Menjeda sebentar yang Acel lakukan  sembari menatapku sinis " memang lo siapa? "


"Udah berapa kali gue bilang! Lo jauhin Kak Raefal!" bentak Orlin.


"Pakai pelet apa lo, sampai bisa bikin orang kayak Kak Raefal luluh?" tuduh Anoora dengan bersedekap dada.


"Jangan cengeng lo! Berdiri lo!" perintah Orlin seraya menendang tubuhku.


"Berdiri bangsat! Lo tuli!" bentak Orlin lagi.


Orlin mendekatkan wajah kami, membuatku beringsut ketakutan. "Lo siapa berani menghalangi rencana gue?! Seharusnya lo sadar diri babu!"


"Ta-tapi, Kak Raefal itu temanku."


Tawa ketiga orang yang tadi membullyku terdengar nyaring hingga membuat aku menutup telinga sembari terisak.


"Lo halu?" Aina Acel.


Orlin mengapit kedua pipi hingga membuat bibirku mengerucut. "Ini peringatan terakhir dari gue! Lo jauhin Kak Raefal! Dan awas kalau sampai berani!"


Jam pulang telah usai sekiranya satu jam lalu, selama itu juga aku masih berada di sekolah atau lebih tepatnya menemani majikan baruku di lapangan basket.


Sadari tadi aku tidak diperbolehkan untuk duduk meski kini aku terlihat menyedihkan dengan beberapa ransel tergantung pada tubuh.


Lain denganku, kini Orlin tengah berlatih gerakan penyemangat sembari sesekali beteriak marah karena kesalahan adik kelas.


"Babu!" panggil Anoora membuat lamunanku buyar dan segera mendekat.


Aku menyodorkan minuman kepada mereka dan segera mungkin ketiganya habiskan tanpa menghiraukan aku yang juga haus karena berdiri di tepi lapangan sadari tadi.


"Gue udah perfect belum?" tanya Orlin setelah selesai memaki liptintnya.


"Semua orang juga tahu, kalau dia engga ada apa-apanya dari gue," sombong Orlin.


Orlin melirikku. "Daripada lo bengong lebih baik lo kipasin gue!"


Tanpa kata aku melakukan apa yang Orlin perintahkan.


"Enak banget punya babu, gue jadi pingin." Acel berbicara dengan melihatku bermaksud menghina.


"Banget!" celetuk Orlin.


"Jadi Kak Isha babu Kak Orlin? Kok Kakak mau?" tanya adik kelas yang kebetulan duduk tak jauh.


"Kenapa? Udah berani lo?!" sinis Orlin. "Dia itu Cupu, dan lo engga usah cari muka di depan dia, karena dia bukan kayak kakak kelas yang lain."


"Dia engga bisa bikin lo terkenal, jadi engga usah sok baik apalagi perduli sama dia. Cupu itu cuma benalu," lanjutnya.


"Baru beberapa bulan disini 'kan? Jangan sok!" cibir Anoora.


"Maaf Kak!" Adik kelas itu tertunduk takut.


"Kita lanjut lagi latihannya!" titah Orlin bangkit disusul semua orang yang mengikuti ekskul itu.


Ada sejumput rasa iri dalam hati saat melihat Orlin, meski hatinya sangat buruk namun, aku akui dia itu terlihat sempurna.


Mataku melotot kala Orlin terjatuh bahkan membuat fokus semua orang terpusat padanya hingga menyebabkan kerumunan terjadi.


"Siapapun tolong bantu Orlin ke UKS!!" pekik Anoora panik.


Saat aku ingin ikut menghampiri, kaki ini menjadi kaku kala melihat sosok yang selalu memenuhi ruang otak, hari ini muncul sekaligus menolong Orlin yang juga membuat seluruh penghuni lapangan menutup mulut karena tak percaya.


"Kak Raefal?" panggil Orlin lirih kala lelaki itu tanpa aba mengangkat tubuhnya dan membawa pergi dari lapangan.


Aku menatap punggung Kak Raefal yang semakin lama kian mengecil dan menghilang di telan tembok bangunan, membuat semburat kesedihan muncul di relung hati.


"Cupu! Cepet bawa semua perlengkapan Orlin terus susul ke UKS!" titah Anoora sebelum ikut pergi dari lapangan.


"Kak, sebenarnya salah aku apa?Kenapa harus kayak gini?"


Aku membantu kala mendengar suara Orlin menyapa pendengaran ketika aku hendak membuka pintu ruang kesehatan.


"Lo diem atau gue pergi?!" 


Setelah mendapat balasan aku tidak lagi mendengar apapun, menyebabkan hati yakin untuk mendorong pintu.


Saat aku berjalan mendekat, mataku bertubrukan dengan Kak Raefal cukup lama sebelum kami putuskan karena deheman dari Orlin.


"Lo pulang aja deh! Ganggu orang pacaran!" kata Orlin sisnis.


"Gue pergi!" pamit Kak Raefal tanpa menyapaku.