Call Me Isha

Call Me Isha
42. Pangeran Hanya Mencintai Cinderella yang Cantik



Koridor Sekolah terlihat senyap seolah tak berpenghuni karena, seluruh siswa telah meninggalkan tempat dua jam lalu ataupun yang masih tinggal mungkin tengah berada di gedung eskul seperti diri ini beberapa menit lalu.


"Syukur deh kalau kamu suka."


Meski samar, telinga menangkap suara yang cukup membuat kaki mendekati asal suara.


Jantung ini bergemuruh hebat saat melihat sosok yang sangat aku kenal tak jauh dari tempat. Disana keduanya tengah berpelukan tanpa sadar keberadaan diri yang bersembunyi di balik tembok.


"Semangat buat lombanya!" Siswa yang aku cintai itu mengepalkan tangan ke udara sembari tersenyum lebar.


"Kamu juga semangat! Kita berjuang bersama!" balas perempuan itu menirukan hal yang dilakukan sang pria.


Senyum miris tercetak kala tangan Arga mengusap lembut kepala gadis lain tepat di depan mataku bahkan, cairan matapun sudah mulai berjatuhan.


Memberanikan diri, aku berjalan mendekat hingga atensi keduanya tertuju kepadaku yang berlalu dengan cepat tanpa menoleh kepada keduanya.


Meski aku berjalan cepat, melalui ekor mata dapat aku lihat bagaimana perubahan ekspresi keduanya yang cukup membuat hati puas.


"Latihan Olimpiade katanya!" batinku berucap.


         Asik melamunkan kejadian di sekolah hingga tidak sadar bila di depan rumahku, sebuah mobil terparkir apik seolah menanti diri ini.


"Isha!!" panggil orang itu sesaat setelah keluar dari mobil.


Arga, kekasihku itu mendekat dengan wajah kacaunya. "Semua itu engga seperti yang kamu pikir Sha."


"Lalu Apa?" tanyaku mencoba tegar seraya menahan air mata yang kapan saja bisa tumpah.


"Aku cuma kasih Yollan semangat, engga lebih. Kamu tahu 'kan dia partnerku," jelasnya.


Aku menutup mata, mencoba mengutarakan apa yang sejak tadi dibendung dalam hati. "Memang memberi dukungan wajib dengan pelukan?"


"Aku tahu aku salah, maaf. Tadi aku kelepasan, aku minta maaf."


Aku tersenyum kecut. "Engga apa, lagian aku juga cukup sadar diri, cuma dinovel, seorang pangeran mau bersama dengan si buruk rupa."


"Bahkan, Cinderella saja tidak akan dicari pangeran jika tidak memiliki paras cantik."


Isak tangis mulai terdengar tanpa komando, kalimat yang aku katakan bukan hanya membuat lelaki itu diam bahkan, diri ini seperti ditampar oleh tangan tak kasat mata.


Dia mencoba meraih tanganku. "Maaf Sha, aku nyesel, aku janji engga bakal ngelakuin itu lagi," janjinya membuat tangisku semakin menjadi. "Aku mencintai kamu bukan karena fisik tapi karena hati, maaf jika aku telah membuat kamu kecewa tadi, sungguh aku engga bermaksud buat ngelakuin itu,"


"Tapi kalau dia menganggap hal tadi lebih bagimana? Aku engga mau kehilangan kamu Ga,"


Arga membawa tubuhku agar dapat dirinya dekap erat. "Maaf."


🍁


"Nanti pulang bareng gue! Sekalian temenin gue belanja," putus Kak Raefal, membuat kepala ini menoleh ke arahnya yang sedang memakan kuaci dengan tenang.


Aku meringis saat kalimat penuh percaya diri disertai narsisme itu keluar, cukup membuat telinga terasa aneh mendengarnya.


"Kok ajak aku?" tanyaku bingung.


"Gue butuh temen sekaligus babu buat bawain belanjaan gue entar."


"Dasar!"


"Kenapa? Engga boleh nolak, dosa!" katanya, membuatku bungkam dengan hati dongkol.


"Memang Kakak mau beli apa?"


"Baju."


"Emang stok baju di rumah Kakak habis?"


Dia menyonyor kepala ini, membuatku mengaduh meskipun tidak sakit. "Enak aja! Gue beli baju baru buat persiapan malam tahun baru beberapa hari lagi. Biar gue makin ganteng gitu."


"Lebay! Cuma menyambut tahun baru aja sampai beli baju baru segala."


"Terserah gue, hidup-hidup gue."


"Iya hidup Kakak, kalau nanti Kakak mati urus sendiri ya. Kan hidup Kakak."


"Iya dong, jadi orang harus mandiri." Menjeda sebentar. "Lo ikut acaranya?"


"Engga tahu Kak, kayaknya engga deh. Soalnya Papa engga suka kalau aku pulang lewat jam delapan."


"Ayah yang baik," pujinya. "Tapi lo engga ngisi acara? Sekarang lo 'kan lagi naik daun."


"Sebenarnya disuruh ngisi sama Kak Rafif, jadi aku bingung mau ikut atau engganya."


"Ikut aja, lo pasti engga pernah ikut acara ginian kan?" tebaknya.


Aku menganggukkan kepala. "Karena menurut aku, tahun baru seharusnya kita banyak berdoa sama Tuhan biar diberi keberkahan di tahun berikutnya sekaligus introspeksi diri. Bukan menghabiskan malam engga jelas."


"Jadi mau ikut engga?" tanya Kak Raefal.


"Engga tahu."


"Arga aja ikut, masa lo engga cemburu lihat Arga digerombolin Cewek cantik dipesata nanti."


"Bodo amat!" jawabku cepat.


"Bener nih? Awas kalau pacar situ kecantol sama cewek cantik, nanti nangis," cibirnya.


Aku melotot lalu dengan geram mencubit perut beserta tangan Kak Raefal, membuatnya mengaduh kesakitan sembari tertawa.