
Keinginan Lova yang tidak bisa diganggu gugat serta, titah ibunda menempatkan diriku berada di Sekolah internasional yang cukup bergengsi ini.
Aku mengumpat pelan bukan karena menyalahkan Lova kendati, karena pria masa lalu terlihat berjalan mendekat ke arahku.
Tepat satu meter jarak diantara aku dengan dirinya, lelaki setelan jas rapih yang sekarang terlihat lebih dewasa apalagi, saat tangan yang kekar itu menggenggam erat jemari gadis kecil.
Tidak ada lagi senyum miring ataupun kalimat menyebalkan, sosok itu justru hanya diam dengan tatapan sulit diartikan, mungkin menurutnya aku ini alien yang akan membasmi bumi.
"Kak! Zimra minta tanda tangan!"
Aku kembali pada kenyataan, tersenyum kikuk lalu meraih kertas yang gadis rambut pendek itu berikan padaku.
Perang batin sedang terjadi, aku kira kakak kelas yang sempat menjadi kekasihku itu, baru hendak bertunangan akan tetepi, melihat sahabat Lova memanggilnya 'Daddy' merubah presepsi, mungkinkah Kak Raefal duda beranak satu.
"Thank's Kak Flo! I am so happy!" pekik Zimra yang membuat aku tersenyum.
"Sama-sama gadis cantik."
"Hai Kak! Lama engga ketemu, makin ganteng aja."
Tentu itu bukan sapaan dariku, Orlin lah yang dengan sumringah mengulurkan tangan yang untungnya dibalas oleh lelaki sombong itu.
"Lo juga makin cantik." Seulas senyum terbit jua. "Gue kira bakal ketemu diacara nanti, ternyata Tuhan berkehendak lain."
Untung sekarang aku memakai kacamata hitam, jadi tidak ada yang melihat bila aku memutar bola mata jengah saat, lelaki kebanyakan modus itu memuji Orlin.
"Mungkin pertanda," celetuk Orlin sembari melirikku.
Dengan gampang Kak Raefal versi dewasa itu tertawa, aku mengasihani diri sendiri karena merasa hanya diriku yang terganggu dengan kebetulan ini.
"Hai Sha! Lo engga mau tanya kabar gue?"
Bahuku disenggol Orlin, dari wajahnya saja sudah sangat ketara bila wanita itu menikmati kesengsaraan yang aku alami.
"Atau mungkin lepas kacamatanya karena, disini engga ada pemakaman ataupun panas," lanjut Kak Raefal terkekeh.
Sepasang ibu dan anak itu kompak tertawa bahkan, gadis kecil yang semula menjadi penggemarku ikut melakukan hal yang sama.
Ketimbang mendumel tidak jelas, aku menarik satu sudut bibir. Unjuk gigi di depan mantan mungkin bukan hal yang buruk.
"Memang kenapa? Selama engga menganggu aku rasa bukan masalah,"
"Nanggung, kalau mau pamer glow up di depan mantan harus totalitas." Dalam nadanya, aku tentu tahu dia menahan tawa. "Bay the way. Selamat ya ada diposisi sekarang. Dari si cupu jadi ratu."
Aku membuang muka asal, cukup sensitif mendengar kalimat terkahir Kak Raefal.
"Satu lagi, makasih juga karena udah buat seneng anak gue."
Tidak bisa berdusta bila, perasaan mencelos itu terasa menyayat, tapi aku buka lagi Isha yang akan diam, selagi aku bisa akan aku lakukan meski menantang.
"Selamat juga buat kamu karena punya putri secantik Zimra, maaf terlambat karena aku juga baru tahu hari ini."
Kak Raefal tersenyum hangat. "Tentu, lo juga bakal datang bukan di acara tunangan gue?"
Kalimat itu membakar hati, seolah menantang diri serta, Kak Raefal seperti sengaja ingin memamerkan bila dirinya lebih unggul ketimbang diriku dalam hal percintaan.
Tertawa, menunjukkan bila aku sama sekali tidak terusik akan hal itu.
"Pertunangan? Cih! Lihat saja, aku yang akan naik pelaminan lebih dulu," batinku berkata, tidak ingin kalah dengan mantan.
"Pasti datang, kamu kira aku mantan yang gagal move on?" paparku. "Bahkan saat membayangkan kalian berdampingan di depan penghulupun aku biasa aja."
Deretan gigi Kak Raefal terlihat. "Wah! Secara engga langsung, lo mengakui sering mikirin gue 'kan Sha?"
Aku menelan ludah, merasa tertampar dengan ucapanku sendiri, saat ini ingin sekali meminjam pintu Doraemon.
"Engga! Sorry! Aku udah move on!" balasku cepat.
Tawa terdengar. "Biasa aja engga usah ngegas."
Aku menghembuskan nafas lalu, kedua mata bergerilya mencari sosok lain yang ternyata telah hilang.
"Loh, mereka kemana?"
"Terlalu fokus bicara sama mantan sampai engga sadar kalau sosok lain udah hilang? Yakin udah move on?" ledeknya.
Aku berdecak keras lalu menurunkan kacamata. "Meski belum nikah ataupun punya anak, tapi aku punya pacar! Itu bukti nyata kalau seorang Flo udah move on."
Kedua alisku menyatu. "Kenapa?"
"Lebih cocok Isha, menggambarkan gadis lugu yang gue suka."
Untuk sekian detik aku mungkin terpaku namun, akal sehat kembali menguasai, Kak Raefal tidak ada bedanya dengan para penggombal recehan di gang kecil.
"Persetanan dengan itu. Memang aku perduli?"
"Harus! Karena meski lo menolak, hati lo engga bisa mengelak."
Mengeluarkan karbondioksida. "Denger ya tuan mantan yang terhormat. Aku udah move on, jadi berhenti memikirkan hal menyesatkan itu. Udah punya anak juga, engga malu?"
"Memang kamu mau jadi ibu dari anakku dan anak-anak kita kelak?" tanyanya tidak nyambung.
Udara di sekitar seolah sepakat untuk tidak hadir, duniapun seakan bergerak lamban kala kalimat sakral yang biasa dilantunkan oleh pria telenovela terdengar.
"Kamu udah punya calon istri! Engga usah ganjen!"
Hendak memukulnya dengan tas yang aku bawa, tentu langsung dicegat oleh lelaki itu.
"Bercanda. Lo masih sama baperan kayak dulu."
Setelah membuat emosi berada diambang batas, Kak Raefal kembali menjatuhkan diriku hingga tak berbekas.
"Sesat!"
Memutar tubuh dan berjalan menjauh yang ternyata terus diikuti oleh Kak Raefal.
"Sha!"
"Don't call me Isha! But Flo!" tekanku begitu menggebu.
"Isha!"
"Isha!"
"Isha!"
Meski telah berada difase dewasa, tidak membuat lelaki dua puluh enam tahun itu menghilangkan sifat keras kepalanya.
"Stop!"
Menatapnya dengan hidung kembang kempis, membuang kata sempurna di depan mantan yang berhasil memancing kemarahan.
Suara hak tinggi yang bergesekan dengan koridor Sekolah menjadi background, kala tubuhku mendekat kepada Kak Raefal hingga berjarak satu langkah.
"Berhenti bertindak layaknya bajingan. Ingat anak dan calon istrimu."
Diluar dugaan, bukannya berhenti. Kak Raefal justru menarik pinggangku hingga tubuh kami bersentuhan.
Mataku melotot. "Lepas! Jangan seenaknya! Kamu itu cuma mantan!"
Senyum terpatri disana. "Seperti terakhir kali, jangan panggil mantan tapi sebut alumni hati, apalagi sekarang sudah ada reuni."
"Bajingan! Mau aku teriak sekaligus melapor pada polisi?" ancamku.
"Kalau lo merasa terancam pasti spontan bakal teriak, tapi buktinya lo nyaman. Menikmati bukan?" Seolah tidak mengingat kenyataan, lekaki itu justru tersenyum tulus.
Spontan aku menekan kakinya menggunakan sepatu yang tingginya lumayan itu hingga membuat Kak Raefal mengaduh serta melepas diriku.
Menyaksikan mantan menderita secara langsung ternyata cukup menyenangkan.
"Dasar bedebah!"
"Sha! Nanti jangan lupa nyanyi di acara gue! Yang sedih! Totalitas kalau belum move on."
Teriakkan itu menggema, beruntung koridor tengah sepi sehingga aku tidak terlalu ambil pusing.
Tentang menyumbangkan lagu di pertunangan mantan, mungkin tidak terlalu buruk tapi, pita suaraku enggan untuk menyanyi di acara Kak Raefal. Mungkin bila terpaksa akan aku bawakan lagu lingsir wengi, agar mantan diganggu setan.
Pergilah mantan!
_______
Kamis, 8 Juli 2021.