Call Me Isha

Call Me Isha
63. Mengajak Reuni ataupun Mengulang Kembali



            Menjadi saksi persatuan mantan dengan pasangan barunya tidak semengerikan yang aku pikir, disini cukup menyenangkan karena kekasihku terus menempel, setidaknya tidak ada yang menganggap aku belum move on.


"Wey ada penyanyi kita!"


Merasa dipanggil aku menoleh lalu, sedikit memekik melihat sosok yang sudah lama tidak aku lihat.


"Ini kak Rafif?! Astaga!" hebohku.


Sosoknya masih sama kecuali penampilan serta tubuh yang kian terlihat matang.


"Gila! Makin cantik aja lo! Jadi artis sombong ya harus gue duluan yang nyamperin."


Aku tertawa. "Bukan gitu Kak."


Lirikan Kak Rafif jatuh kepada kekasihku. "Jadi dia beneran pacar lo? Gue kira cuma gosip."


Aku menatap Kak Arik sebelum kembali mengapit lengan tangannya. "Iya Kak, udah tiga tahun."


"Lama juga, kapan nyusul mantan?" ledeknya.


"Santai Fif, nanti gue kasih undangan pakai granat buat lo. Spesial!" canda Kak Arik yang membuat kami tertawa.


"Anjir lo!"


"Kak Isha!"


Panggilan yang terselubung teriakan itu membuat aku melongo kala, melihat sosok wanita bergaun ungu muda yang samar wajahnya aku kenal tengah berbadan dua.


Kami cipika-cipiki sebentar. "Ini Ara?"


Wanita berbadan dua itu mencebikkan bibir. "Mentang-mentang jadi artis, Kakak sampai lupa nama aku. Rara Kak,"


Aku meringis malu. "Maklum udah tua,"


"Makanya buruan nikah, aku aja udah mau brojolan."


Telapak tangan hinggap untuk mengusap perut buncit Rara, adik kelas yang cukup dekat denganku saat menengah atas.


"Udah berapa bulan? Kok engga undang pas nikahan?"


"Jalan delapan. Nikahannya cuma undang keluarga. Resepsinya nunggu si kecil lahir."


"Nanti pas resepsi gue undang kok. Nyanyi juga Sha, tapi gratis. Hitung-hitung bantu gue menyukseskan honeymoon kedua."


Bila yang meminta Rara aku tidak terkejut tapi, kali ini Kak Rafif yang berbicara. Membuat aku serta sang kekasih cengo.


"Kak Rafif suami Rara?" tanyaku memastikan.


Kak Rafif terbahak. "Kaget ya?"


"Engga si, udah ketebak! Kisah kalian persis novel, awalan kayak Tom and Jerry tapi akhirnya jadi suami istri," ungkap Kak Arik.


"Bukannya yang kayak telenovela itu Kak Isha sama Kak Raefal? Sayang aja kisah mereka berakhir sad ending," komentar Rara.


Mendengar itu aku menjadi merenung sebentar sebelum melirik ke arah raja acara ini.


"Aku ke belakang sebentar."


Aku memperhatikan penampilanku, sangat kontras ketimbang dulu dimasa remaja.


"Semuanya aku punya tapi, kenapa terasa kosong?" gumamku.


Menghembuskan nafas, tersenyum dan menguatkan diri yang aku lakukan sebelum kembali menghampiri kekasihku yang kini tengah berbincang dengan segelintir orang.


"Ini dia mantan gue!"


Keputusanku untuk bergabung bukan hal yang baik karena, sosok meresahkan itu juga berada disana.


"Sekarang, dia pacar gue!"


Pinggangku ditarik lembut oleh Kak Arik, lelaki itu juga membumbukan kecupan ringan di atas kepala.


Pasangan lama serta yang baru melaksanakan pertunangan menatap ke arah kami, membuat aku tersenyum canggung.


"Selamat ya Kak! Untuk kamu juga Glenda," ungkapku.


"Terima kasih udah datang, senang melihat kamu secara langsung." Suara tunangan Kak Raefal mengalun.


Sejauh mata memandang, gadis dengan nama lengkap Glenda Eoghania itu terkesan anggun sekaligus sempurna di setiap detail tubuh.


"Sesuai janji. Penyanyi kita akan menyumbangkan suara emasnya!"


Sontak aku menatap Kak Raefal tidak terima, berbeda dengan tatapan penuh antusias dari pasangan lama yang akan memiliki momongan itu.


"Gue request lagu Harusnya!" Kak Rafif memberi usul yang dihadiahi anggukan oleh istrinya.


"Enak aja! Aku udah move on!" tekanku. "Lagian, siapa juga yang mau nyanyi."


"Tentu lo, disini yang jadi penyanyi cuma lo," kata Kak Raefal mengompori.


Menatap sengit kepada mantan. "Kalau mau ada yang nyanyi, kenapa engga panggil biduan? Modal!"


"Udah sayang, kalau Flo engga mau, engga perlu dipaksa." Glenda memberi pengertian kepada tunangannya.


Kak Raefal kembali menatapku dengan tatapan mengejek seperti biasa. "Bilang aja belum move on, makannya engga mau nyanyi.


"Setuju!"


Kompak sepasang calon orang tua itu, langsung mendapat lirikan tajam dariku.


"Sayang, turuti aja. Buktikan kalau kamu memang udah move on sekaligus benar-benar menyayangiku."


Mendengar Kak Arik yang mendukung ide gila itu membuat aku mengambil nafas sebanyak-banyaknya lalu, mengangguk pasrah.


"Tidak menerima request!" putusku sebelum ada yang membuka mulut.


           Tampil di depan umum bukan  menjadi momok menakutkan lagi kendati hari ini, dengan degup jantung bertalu aku merasa hal demikan itu.


Tanpa sadar aku menangis, sukar untukku jelaskan perasaan yang hati rasa.


Mencari aman, aku menyanyikan lagu yang baru beberapa bulan lalu aku liris, alunan nada yang memenangkan berhasil menghipnotis telingga hingga selesai.


"Terima kasih," ucapku sebelum turun dari panggung.


Karena selama bernyanyi aku tidak terlalu memperhatikan Kak Raefal ataupun kekasihku yang bebarengan. Kini, aku layaknya anak hilang di tengah kerumunan.


"Dimana mereka," gumamku sembari sesekali tersenyum membalas sapaan orang.


Menyerah mencari, aku memutuskan keluar dari gedung diadakannya acara pertunangan mantanku itu dengan hati kesal setengah mati.


Pintu mobil yang sedikit terbuka karena ulahku kembali ditutup oleh sosok yang berada tepat di belakang tubuh.


Kelopak mata menutup sebentar dengan nafas memburu. "Kenapa kamu ada disini?"


Pelukan yang sempat dirindukan itu kembali terasa, memberikan sensasi sesak tersendiri dalam relung hati.


"Kenapa harus ada reuni yang memporak-porandakan hati?" tanyaku menahan tangis.


"Karena kisah kita belum sepenuhnya selesai."


"Kenyataannya." Suaraku mulai serak. "Kita hanya mengenang, bukan mengulang. Itu tidak ada gunanya."


Membalikkan badan hingga aku dapat dengan jelas melihat sosoknya yang malam ini ku akui sangat tampan.


"Mau mengulang?" tanyanya dengan senyum lebar.


"Engga ada waktu buat mengulang, bagiku kisah kita berakhir dihari itu. Kita sudah terlalu jauh untuk menjadi satu."


Kak Raefal tertawa. "Bullshit! Jangan membohongi perasaan lo sendiri!"


Sekuat tenaga, aku memberanikan diri untuk menatapnya.


"Itu juga berlaku buat Kakak!"


Jemariku menekan dadanya dengan cucuran air mata.


"Dimataku Kakak engga ada bedanya dari pria brengsek diluaran sana."


"Maksud lo apa?" desisnya tak suka.


Aku menarik sebelah tangan mantanku, menyadarkan lelaki itu bila di jarinya terdapat cincin.


"Engga ada pria terhormat yang mengejar saat dirinya telah dimiliki."


"Lo juga, pacaran dengan sahabat gue sendiri." Hanya melihat pancar matanya saja, aku bisa melihat sosok lain dari lelaki itu. "Lo kira gue baik-baik aja?"


Kak Raefal mengusap wajahnya kasar. "Di satu sisi, hati gue milik lo tapi disisi lain ada sahabat gue."


Mataku menatap marah. "Bulshit! Kalau perasaan Kakak masih buat aku lalu pesta di gedung itu untuk apa?!"


"Pertanyaan itu juga berlaku buat lo, kenapa harus pacaran sama sahabat gue disaat lo tahu hati lo masih milik gue?!"


"Perasaanku untuk Kakak udah lama hilang," tekanku.


Tawa Kak Raefal menggema. "Lo kira gue buta? Atau pelupa?"


"Gue masih bisa lihat jelas perasaan itu masih ada melalui mata lo, dibuktikan dengan semua kalimat dan perlakuan lo." Menjeda. "Hanya saja, lo terlalu gengsi mengakui."


Aku diam, merenungi kalimat yang dilontarkan tadi, aku sendiri masih bingung dengan perasanku.


"Kenapa?"


Lelaki itu kian mendesak bahkan, langkahnya semakin mendekat hingga tubuh kami nyaris menempel.


Kembali, aku menatapnya. "Kenapa baru sekarang? Disaat semua ini terjadi?"


"Karena hubungan kita butuh waktu untuk menjadi satu."


"Engga ada masalah yang selesai kalau dibawa kabur," sinisku.


"Gue pergi untuk kembali sekaligus memperbaiki."


Sekarang giliranku menertawainya. "Kembali dengan orang lain?"


Mendorong tubuh Kak Raefal menjauh sebelum menghapus air mata.


"Kita jalani seperti semestinya Kak, bahagialah dengan pasangan masing-masing."


"Pasti akan aku lakukan kalau kamu juga bisa bahagia dengan pasanganmu."


Senyum kecil terlihat untuk menyakinkan. "Aku udah bahagia dengan dia Kak, orang yang selalu ada di sisiku.


Membalikkan badan lalu menarik pintu mobil yang aku lakukan, akan tetapi sebelum sepenuhnya masuk aku kembali membuka suara.


"Kakak juga sudah memiliki sosok lain. Jadi, jangan kembali lagi untuk mengajak reuni ataupun mengulang kembali."