
Selesai dengan ritual mandi, sembari mengeringkan rambut aku berjalan ke arah ponsel yang terus mengeluarkan suara yang memusingkan telinga.
Ponsel pintar pemberian Tante Nesya sudah berada di tangan namun, aku bingung untuk mengoperasikan.
Aku memutar gawai itu kesegala arah, berharap dapat menyala seperti waktu Arga memakainya.
"Ini bagaimana?"
Belum reda rasa frustasiku. Kini, getar serta suara notifikasi beruntut menghantui hingga membuat aku menutup mata.
Aku meneliti setiap jengkel ponsel itu dan menemukan benjolan dipinggiran gawai.
"Mungkin ini kayak remot," gumamku.
Karena penasaran aku menekan bagian atas dan tidak terjadi hal apapun, lalu kala benjolan bawahnya aku lakukan serupa, kini gawai yang semula hitam telah menujukan tanda hidup.
"Akhirnya!"
Aku mengerutkan kening melihat sesuatu yang tertulis disana.
90 pesan dari 1 chat.
Dengan kaku, jari telunjukku menekan kalimat itu yang ajaibnya terbuka sendiri hingga menampilkan pesan dengan nama orang yang merajai hati.
My Arga❤️
[Isha]
[Isha]
[Aku rindu]
[Isha!]
[Isha!]
[Halo?]
[Malam babe]
[Udah tidur? Kok engga diread?]
[Kamu tahu aku rindu]
[Kamu dimana?]
[Aku rindu.]
[Balas chat ku.]
[Hey!]
[Kamu tahu, kentut saja kalau ditahan bisa bikin penyakit, apalagi rindu]
[Aku rindu]
[Kamu engga bisa buka HP?]
Aku terkikik geli melihat pesan berurut yang Arga kirim, belum lagi beberapa kalimat barusan.
[Akhirnya kamu membaca pesanku, hey!!! Balas!! Aku ingin kamu membalasnya!]
[Kalau kamu mau balas, tekan kotak berwarna putih yang ada tulisan 'KETIK PESAN']
[Kalau udah tekan huruf yang ada di keyboard]
Aku menuruti apa yang dia anjurkan, lalu ajaibnya aku menemukan kotak yang berwarna putih dengan berbagi huruf yang terpampang di sana.
My Arga❤
^^^[Maaf Arga, aku tadi habis mandi]^^^
[Okey]
[Aku off dulu, mau belajar. Kamu juga belajar!! Biar bisa bersaing sama aku! Semangat!💪]
^^^[Iya]^^^
Setelah membalas pesan itu aku menggulingkan tubuh seraya menatap langit kamar disertai pekikan tertahan.
🍁
"Pagi Isha!" sapa seseorang kala aku sampai di gerbang sekolah.
"Juga."
"Iya Kak, nanti aku mampir."
"Oke, nanti gue samperin lo dikelas."
"Iya." Menjeda sebentar. "Kak!" panggilku yang menghentikan langkah kaki Kak Raefal yang hendak menuju gedung angkatannya.
"Kenapa?"
"Nanti siang Kakak makan bareng temannya atau sama aku?"
Dia terdiam, menimbang keputusan. "Bareng lo aja, temen gue pada nyamperin pacarnya semua."
Aku tertawa. "Makanya cari pacar."
Dengan satu telapak tangan, Kak Raefal meraup wajahku. "Engga usah ketawa, lo juga jomblo."
"Jomblo ngatain jomblo."
"Masih mending gue, meski jomblo tapi banyak yang mau. Emang lo," ejeknya.
Aku tersenyum kecut. "Iya,"
"Okey sampai jumpa!" pamit Kak Raefal sebelum pergi.
Aku menunduk melihat tali sepatuku yang tidak terikat rapi lalu, berjongkok untuk membenarkan tali itu dengan benar.
Bruk!
"Akh!"
Tubuh serta orang yang menabrakku berciuman dengan lantai koridor yang untungnya cukup sepi.
"Bangsat lo Cupu! Lutut gue kebentur lantai goblok!" bentak suara yang sangat aku kenal.
"Ma-maaf," cicitku.
"Maaf! Ini tempat umum dan lo jongkok! Otak lo dimana?!"
"Maaf, tadi aku cuma mau benerin tali sepatu, sekali lagi maaf Lin."
Aku berdiri lalu menyodorkan tangan kepada Orlin bermaksud menolongnya.
Dia menatap tangan ini seperti sedang melihat kotoran, lalu tanpa adanya perasaan dia menepis tanganku kasar.
Orlin berdiri tanpa bantuanku lalu menatap mataku tajam. "Denger! Mau seburuk apapun keadaan, gue engga sudi ditolong orang kayak lo!"
Orlin yang tadinya membalikkan badan hendak pergi mengurung niatnya lalu menatapku seperti biasa. "Satu lagi! Puas-puasin semua kebahagiaan semu yang lo miliki hari ini sebelum semua hancur tak tersisa."
Kejadian itu sudah berlalu lama. Kini, aku tengah merasa gugup karena seorang guru tengah memarahiku karena sebuah angka.
"Lihat! Nilai kamu sangat jauh dari kata baik!" kata Bu Nina menunjukkan hasil ulanganku.
Suasana senyap, tidak ada yang berani berbicara disaat seperti ini.
"Ibu sendiri bingung, dari kelas sepuluh nilaimu pas-pasan. Tapi kenapa kamu tidak dilempar ke IPS, tapi malah ke MIPA."
"Bukan hanya Ibu yang bingung," batinku.
"Ibu engga mau tahu! Ulangan berikutnya kamu harus mendapat nilai bagus! Minimal masuk KKM!"
"Iya Bu saya akan berusaha!"
"Bagus, kalau nanti nilai kamu tetap sama. Ibu akan meminta kepada kepala sekolah untuk mempertimbangkan kamu ada disini."
"Iya Bu,"
"Bu!" Arga mengacungkan tanganya.
"Iya Arga?"
"Izinkan saya buat ngajarin Isha Bu, saya janji akan membuat nilai dia melebihi KKM."
Seketika aku menoleh, semua orang yang ada di kelas sangat kenal dengan Arga yang sama sekali tidak suka membantu perihal pelajaran namun, kini semua berubah hanya karena orang seperti diriku.
"Kamu yakin? Apa kamu tidak merasa kesusahan? Apalagi dengan lomba yang sering kamu ikuti?" tanya Bu Nina memastikan.
"Ibu tenang saja, saya bisa membagi waktu."
Bu Nina menatapku. "Mulai sekarang kamu akan dibimbing Arga, ibu berharap kamu tidak dilempar ke jurusan lain nanti."
"Iya Bu."