
Menghembuskan nafas hingga tiga kali seraya menutup mata, cara yang mungkin ampun untuk menyakinkan diri.
Ruang tujuh belas ini menyimpan kenangan indah bagiku, hari ini tepat dimana aku dan Kak Raefal tidak akan lagi duduk bersebelahan.
Meski baru beberapa hari aku mengenal sosok Kak Raefal, nyatanya melihat dia tidak pernah muncul dipagi hari untuk menggangguku belajar cukup membuat diri merasa kehilangan.
Sedikit menyesal karena telah mengikuti kemauan Orlin, namun aku tentu tidak mau membahayakan diri.
"Kak Raefal," gumamku
Kesadaran kembali saat sosok yang aku kenang melewati tubuh ini agar bisa masuk ke dalam ruang tujuh belas di hadapan.
Mengurungkan niat saat mulut gatal bersapa karena, bayang akan ancaman Orlin dan pertengkaranku dengan Kak Raefal memenuhi kepala.
Ruang kelas yang cukup luas hanya tersisa diri ini, tidak ada lagi sosok yang menemani seperti beberapa hari lalu ketika jam istirahat.
Tidak berselang lama, gendang telinga mendapati suara langkah kaki yang perlahan mendekat hingga menyebabkan kepala yang semula fokus kepada buku terangkat ke atas untuk mengetahui sosok itu.
Mata membulat sempurna lalu sontak berdiri kala melihat penampilan yang sangat buruk dari Kak Raefal. Rambut berantakan, bibir mengeluarkan darah serta seragam yang nampak bercampur tanah dengan beberapa bercak merah.
Melihatku yang panik tidak serta membuat Kak Raefal beraksi, dia tetap diam sembari menatap gerak tubuh yang aku ciptakan saat mengecek keadaannya.
"Kak ka-----"
Aku tidak merampungkan kata itu karena saat aku mendongak untuk menatap matanya, jari telunjuk berhasil mendarat di depan bibir secara sempurna.
Untuk kurung waktu yang lama, aku menikmati tatapan kami, rasanya seperti sedang berbincang tanpa kata.
"Gue engga apa," bisik Kak Raefal membuatku tak bergeming sedikitpun.
Jemari Kak Raefal berpindah tempat, tepatnya mengelus pipiku dengan lembut. "Gue rindu lo, jangan jauhi gue ya. Gue janji engga bakal bentak lo lagi."
Tanpa tahu malu aku tersenyum lebar akan tetapi, itu hanya bertahan hingga beberapa detik karena memory disaat Orlin mengancam sangat menganggu batin. Bahkan aku sampai mundur dua langkah.
"Sha?"
Aku menutup mata, mencoba menyakinkan diri untuk tidak terpengaruh.
"Kakak engga jelas!" balasku.
Niat hati segera pergi namun, gerakanku kalah cepat dengan Kak Raefal, bahkan kini jemarinya sudah menggenggam lengan tanganku.
Perlahan, dapat aku rasakan pelukan hangat dari arah belakang, bahkan Kak Raefal menumpukan dagunya di atas bahuku.
"Lo jangan takut, ada gue yang akan selalu jaga lo, gue janji."
Untuk saat ini aku sangat membutuhkan pasokan udara, rasanya dadaku berdetak lebih cepat bahkan tubuhku saja sudah panas dingin.
"Kak aku mau pergi, Kakak bisa lepas engga?" tanyaku sembari menahan tangis karena ketakutan dan rasa tidak nyaman yang ada dalam batin.
Bukannya memenuhinya permintaanku, Kak Raefal malah semakin mengeratkan pelukan itu.
"Enggak, gue butuh lo sekarang dan gue tau kok lo nyaman 'kan sama pelukan gue?"
Aku mencoba melepaskan tangan yang melilit pinggangku. "Kak udah, kalau ada yang lihat gimana?"
"Biarin. Gue engga perduli, bahkan jika Orlin sekalipun gue engga peduli."
Aku sangat yakin, orang yang memelukku saat ini sudah mengetahui keseluruhan.
Entah kenapa, aku justru terisak hingga membuat Kak Raefal melepas pelukan itu sebelum menyenderkan punggungku kepada dinding dan mengurung raga ini menggunakan kedua tangan di samping kanan serta kiri.
Aku menatap matanya yang juga menatap ke arahku. "Jangan nangis lagi, gue benci lihat lo nangis, udah cukup lo nangis, kini saatnya lo bahagia."
Kak Raefal mengelap air mata ini yang justru membuat jantung meronta, selemah itukah diriku.
"Kak lepas kak," pintaku memohon.
"Kenapa, lo takut kalau Orlin bully lo?" jedanya. "Denger, apapun masalahnya lo engga boleh nyerah, lo harus kuat. Jadilah Isha yang gue inginkan bukan Isha si Cupu yang mereka kenal."
"Kak!" panggilku yang masih menangis sesenggukan.
"Udah, jangan takut lagi sama Orlin oke!" katanya lembut, lalu kembali menyeka air mataku.
"Iya Kak, makasih udah mau jadi teman dari cewek Cupu kayak aku."
"Iya tapi sumpah lo jelek banget nangis kek gini," ledeknya.
"Tuh 'kan kumat lagi!" gerutuku.
Aku memperhatikan Kak Raefal, lebih tepatnya luka di wajah tampannya itu. "Kenapa Kakak sampai babak belur gini?"
"Karena lo."
"Hah? kok?"
"Bercanda. Udah, UKS yuk, lo engga mau 'kan jagoan lo infeksi?" tanyanya yang langsung menggiringku ke UKS.
"Jagoan? Jagoan neon?" ledekku.
"Iya deh yang udah akrab," sindir Kak Raefal.
"Bukannya Kakak sendiri yang bilang kalau engga suka dicuekin."
"Iya, gue engga suka kacang soalnya bikin jerawatan. Gue sukanya senyum lo yang kayak yupi," kata Kak Raefal mengatakan sebuah merek dagang.
"Emang senyumku kayak permen?"
"Soalnya senyum lo bikin happy," godanya.
Aku hanya memutar mata, sungguh menyenangkan ketika Kak Raefal ada di hadapan, rasanya setiap detik terasa berwarna.
"Akh, bisa pelan engga?" tanya Kak Raefal ketika aku menepelkan kapas yang sudah aku beri cairan berwarna kuning kepada lukanya.
"Ini udah pelan, kalau engga mau sakit engga usah berkelahi."
"Gue gini juga gara-gara lo."
"Lain kali, kalau engga bisa ngelawan engga usah sok-sokan. Ujungnya 'kan yang rugi Kakak sendiri."
"Dasar kurang update, kalau engga tahu apapun lebih baik diem."
"Loh kok Kakak bilang gitu sih, aku 'kan bicara kenyataan."
"Semua murid di Sekolah ini kecuali lo, murid sekolah lain, satu kecamatan, kabupaten, provinsi sampe presiden pun tahu kalau gue ini rajanya tawuran."
"Lalu?"
"Lo tadi bilang gue engga bisa ngelawan? Butuh bukti? Lapangan luas tuh,"
"Bisa diem engga si!"
Dengan sengaja aku menekan luka Kak Raefal menggunkan kapas karena kesal dia tidak bisa tenang.
"Lo! Mau ngobatin atau bunuh gue?" ucapnya lalu meringis pelan.
"Lebih baik gue obatin sendiri aja." Kak Raefal mengambil P3K dariku
"Silakan."
"Kemala!" panggil Kak Raefal pada adik kelas yang sedang menjaga UKS.
"Iya Kak"
"Nih! Lo obatin gue yang bener dan awas kalau gue sampe mati!" ancamnya yang membuatku dan kemala tertawa.
"Diam kalian!" ancam Kak Raefal membuat kami terdiam seketika.