Call Me Isha

Call Me Isha
43. Sisi Lain Kak Raefal



‍Sesuai dengan janji yang tadi siang aku ucap. Kini, aku mengekor Kak Raefal tanpa minat, menemani lelaki itu mencari alat penutup tubuh.


"Kalau gue pakai ini bagus?"


Kak Raefal memamerakan dua potong baju di tangannya, membuat raga yang semula bersandar pada tiang dengan semangat nol persen menatapnya sekilas lalu mengangguk malas.


"Jangan asal ngangguk! Kalau nanti cewek-cewek kabur karena penampilan gue 'kan engga lucu."


Sebenarnya sedari tadi aku sudah lelah meladeni lelaki super menyebalkan itu, sudah lebih dari dua jam kaki ini dipaksa memutari mall belum lagi dengan pertanyaan seputar baju yang hendak dipilih.


"Lagian lo juga engga mengerti fashion," cibirnya lagi.


Aku mengegakkan tubuh menatap Kak Raefal dengan tatapan sebal. "Kalau begitu kenapa Kakak engga ajak cewek yang ngerti fashion!"


"Sekalian sebagai babu buat bawa belanjaan," katanya seenak udel sembari menunjuk paper bag yang aku pegang.


Karena kesal aku mencampakkan barang yang lelaki itu beli, memutar tubuh yang langsung dihentikan oleh Kak Raefal.


"Bercanda, engga usah ngambekan kayak cewek."


"Aku juga cewek!" sahutku cepat.


"Bukan, lo itu perempuan." Dengan senyun dia berkata.


"Sama aja!" sentakku.


"Dari pengucapan beda, kata perempuan lebih terdengar sopan di telinga."


"Halah tiap hari Kakak aja ngumpat," sindirku.


"Sengaja bicara gitu, siapa tahu ada yang baper,"


Aku menoleh ke belakang karena, Kak Raefal berbicara sembari tersenyum dan menatap sesuatu namun, yang aku temui adalah anak kecil yang sedang bersama ibunya.


"Jangan-jangan?" Dalam kalbu aku ngeri sendiri dengan pemikiranku yang absurd.


Kembali ke Kak Raefal, aku menatapnya dengan serius. "Kita pulang ya Kak, aku capek."


"Enak aja! Lo belum beli baju udah mau pulang!" ujarnya membuatku mengerutkan kening tak mengerti.


"Engga usah sok mikir! Hitung-hitung buat imbalan lo karena nemenin gue."


"Engga perlu, lagian aku juga engga tahu ikut atau engganya."


"Kalau engga ikut, 'kan bisa disimpan. Kapan lagi coba gue belanjain lo."


"Eng-----"


Penolakanku pupus saat tatapan tajam Kak Raefal seolah merobek tubuh hingga akhirnya kita berada di salah satu toko untuk memilih.


"Lo ambil baju yang lo suka, terserah!" titahnya membuatku mengambil satu setel baju dengan asal lalu menyodorkan ke arahnya dengan malas.


"Lo mau menghadiri pesta akhir tahun atau mau renang?" cibirnya.


Aku kembali menggantungkan baju renang itu pada tempatnya.


"Mbak! Mbak!" panggil Kak Raefal pada orang yang tidak jauh dari kami.


"Mbak, baju yang sekiranya cocok buat dia kira-kira yang mana ya?" tanya Kak Raefal membuat pegawai itu menerbitkan senyum meledek.


"Masnya perhatian banget, pingin deh punya pacar kayak mas. Udah baik, ganteng lagi," puji orang itu, membuatku menatap Kak Raefal yang terlihat besar kepala.


"Kalau boleh tahu, untuk acara apa?"


"Acara akhir tahun,"


"Sebentar, saya ambilkan dulu," pamitnya lalu melenggang pergi, membuatku mengharahkan perhatian pada Kak Raefal yang kini sedang beramain gawai.


"Ini, sepertinya cocok!"


Selang beberapa menit, pegawai itu kembali menemui kami dengan gaun berwarna biru langit.


"Gimana, lo suka?" tanya Kak Raefal."


Setelah itu, kami disodorkan beberpa potong baju hingga tatapanku jatuh kepada gaun berwarna peach yang menarik perhatian.


Sesampainya di depan rumah, aku segera turun akan tetapi memilih mengikuti arah pandang Kak Raefal yang kini menatap sesuatu yang berada di belakang tubuhku.


"A-Arga." Suara yang terdengar gagap menjadi pertanda bila sekarang aku merasa seperti orang yang sudah berselingkuh.


"Darimana?" tanyanya membuatku menutup mata sejenak dan perlahan mendekat ke arahnya.


"Nemenin Kak Raefal belanja," cicitku tak berani menatap maniknya.


"Harus banget lo yang nemenin?" Arga berbicara sedingin es dan jangan lupakan panggilan baru yang tadi dia ucap membuatku kaget namun, tak berani menentang. Aku tahu aku salah.


"Engga enak nolak."


"Itu apa?" tunjuknya pada paper bag yang aku pegang.


"Baju, Kak Raefal yang maksa buat beliin ini," jujurku.


"Ck! Bilang aja kalian apel."


"Kalau gue mau pasti udah gue jabanin!" Suara Kak Raefal ikut terdengar.


Mendapat tatapan tajam dari Arga tidak serta merta membuat lelaki itu menutup mulut.


"Tapi sayang, gue bukan tipe perebut cewek orang."


"Kak!" ingatku memintanya pergi dan langsung lelaki itu turuti.


"Ga, aku engga punya persaan lebih apalagi hubungan sama Kak Raefal. Kamu percaya 'kan sama aku?" tanyaku dengan mata berkaca.


Dia mengambil nafas lalu menutup mata sejenak. "Akan aku coba."


"Ya udah yuk masuk!" ajakku.


"Isha baru pulang? Dari tadi Arga nungguin," ucap Mama saat kami baru membuka pintu, membuat rasa tak enak menyelusup.


Aku mendongak, menatap Arga seolah mengatakan 'maaf' lewat tatapan mata yang hanya dibalas anggukan dan juga senyum manis yang selalu bisa membuatku begitu bahagia.


"Kenapa kesini? Bukan jadwal les 'kan?" tanyaku memastikan setelah kami duduk berdampingan.


"Bukan, aku kesini niatnya minta izin ke Mama kamu supaya kamu bisa ikut pesta tahun baru."


"Lalu?" Aku menanti jawaban, sedikit tidak percaya juga kekasihku mau repot meminta izin.


"Dibolehin, jadi. Kamu duet sama aku."


"Kamu engga bohongkan?! Makasih!"


Aku terlampau excited hingga membuat tubuh ini tanpa sadar bergerak memeluknya erat.


"Apapun demi kamu, tapi aku engga bisa jemput kamu." Dia berhasil membuatku cemberut sekaligus melepaskannya.


"Maaf, tapi ini demi kamu juga, emang kamu mau seluruh sekolah tahu?"


Resiko memiliki kekasih yang menjadi primadona sekolah memang cukup membuat batin menjerit pening.


"Nanti lo sama Raefal." Aku mengerutkan kening tidak paham. "Iya, aku bakal minta dia yang jemput kamu, lagian kalian sahabatan 'kan?"


Aku mengangguk meski ada sesuatu yang menganjal namun, segaraku tepis dengan sesuatu yang positif.


"Kok kamu tahu kalau Kak Raefal tahu hubungan kita?"


"Iya, waktu itu dia tanya sama aku."


Menatapnya curiga, bukan hal aneh lagi bila keduanya memiliki hubungan yang kurang baik lalu sekarang, tidak mungkin jika keduanya berbicara dengan baik-baik.


"Kalian engga aneh-aneh 'kan?"


"Dia bilang gini. 'Lo pacaran sama Isha?' dan gue jawab jujur, toh dia sahabat lo, terus di bilang. 'Jangan bikin dia nangis, gue engga suka, dan jangan mainin perasaan dia kalau lo emang beneran sayang sama dia', terus dia pergi begitu aja," jelasnya yang membuatku menatap ke arah Arga tak percaya, benarkah Kak Raefal berkata seperti itu.