
"Sekarang makan!"
Meski enggan, aku tetep membuka mulut untuk menerima suapan dari Kak Raefal.
Aku merebut kotak bekal beserta sendok itu, kini giliranku untuk memaksa Kak Raefal untuk turut makan.
"Makan! Tadi udah janji!" titahku dan diterima baik olehnya.
Sesi makan bersama itu berlanjut hingga diakhiri dengan hilangnya nasi dari pengelihatan.
Dalam diam aku tersenyum, memikirkan kejadian lalu bersama Kak Raefal yang membuat pipi memanas. Rasanya aku ingin egois, memiliki dia untuk menemani hari sunyi ini.
"Kalau Kakak lulus nanti, pasti aku bakal kesepian," ungkapku menatap wajah lelaki di samping.
"Engga mungkin, lo sekarang juga ada Arga," jawabnya sembari menatap lurus puluhan gedung bertingkat.
"Kok Kakak ngomong gitu,"
Wajah Kak Raefal menoleh balik ke arahku. "Gue benerkan?"
"Bener banget," desisku. "Kakak nanti kalau udah lulus jangan lupain aku ya?"
Kak Raefal terkekeh. "Gue jamin, lo engga bakal kangen. Soalnya ada Arga sebagai pengganti."
Aku merengut kesal karena, lelaki menyebalkan itu sama sekali tidak mengerti suasana yang coba aku bangun.
"Kakak ini, aku tuh lagi sedih mikir nanti, tapi jawabannya sangat melebihi ekspektasi."
"Dih! Ngarep lo!" cibirnya.
"Mulut Kakak pernah kena ciuman dari sepatu engga?" tanyaku geram sembari menatap nyalang.
"Belum, kepingin nyoba, cuma engga ada yang berani."
Untuk kali ini aku berharap bisa membenturkan kepala Kak Raefal. "Bodo! Males deh bicara sama Kakak! Engga bakal ada ujungnya."
"Kalau ada ujungnya berarti gue udah mati dong? Lo doain gue mati?"
"Apaan sih Kak! Engga jelas tahu."
"Diem!"
Karena Kak Raefal menatapku sembari memberi titah, tubuhku sontak menjadi kaku bahkan, aku sampai menahan nafas saat lelaki itu mendekatkan wajahnya.
"K-kak?"
"Diem bentar."
Walaupun hidung kami tidak saling bertubrukan. Akan tetapi, dapat aku rasakan desah nafas yang lelaki itu hembuskan hingga mampu membuat ribuan kupu-kupu terbang dalam kalbu.
Kacamata yang bertengger manis di atas hidung milikku dicabut perlahan dari tempatnya, menyebabkan aku mengerjap beberapa kali.
Perlahan, Kak Raefal menarik karet rambut yang melingkari kepang dua milikku, menyebabkan pandanganku jatuh untuk melihat.
Angin yang berhembus perlahan menerbangkan rambutku yang kini telah tergerai bebas.
Aku mengangkat pandangan hingga menatap tepat di dalam bola mata Kak Raefal, kami terus bertatapan hingga dia perlahan membelai salah satu pipiku, menyebabkan kelopak mata ini tertutup untuk menikmati.
"Kamu cantik," bisiknya tepat di depan wajahku.
Kelopak mata perlahan terbuka, sekarang aku juga memilih untuk mengagumi setiap inci wajah yang terpahat indah pada diri Kak Raefal.
Dapat aku rasa bila hati berdebar kian menjadi kala, Kak Raefal menyatukan kening kami dan perlahan memiringkan wajah.
Hachim!
Karena bersin yang tidak direncanakan, kini jarak diantara kami kembali terlihat bahkan, Kak Raefal mengumpat pelan sembari mengusap wajah kasar.
Aku menggosok hidung yang terasa gatal selepas bersin tadi dengan sesekali melirik Kak Raefal.
"Jorok banget lo," gerutu lelaki itu yang aku balas cengiran tak berdosa.
"Udah yuk kita balik!" ajaknya.
"Bentar Kak, aku pakai Kacamata dulu dan benerin rambut."
"Engga usah pakai kacamata bisa 'kan? Tadi juga lo bisa liat gue."
"Iya, tapi 'kan aku rabun jauh Kak."
"Ouh gitu, yah udah pake sekarang!"
"Gue tungguin juga. Cepet!"
🍁
"Isha! Di depan ada Arga!"
Suara Mama membuat aku segera berlari menuju cermin sebentar lalu, menemui Arga yang sedang duduk di ruang tamu.
"Hai Ga!" sapaku sembari mendudukan diri tepat di sebelahnya.
"Hai!"
"Kamu mau aku main gitar?" tanyaku memastikan saat melihat alat musik itu dipegang Arga.
"Iya, coba lo pegang."
Aku memangku gitar itu sesuai arah yang Arga berikan, tubuhku nampak kaku saat memegangnya.
Aku memperhatikan penjelasan Arga dengan serius, aku tidak ingin mengecewakan harapan orang lain.
"Coba petik nada----" titahnya yang aku turuti dengan baik hingga satu per satu aku lakukan.
"Kamu cepet ngerti ternyata, sekarang kita lanjut yang lain.
Mendengar pujian itu aku menjadi sedikit besar kepala sekaligus tersipu malu.
"Bukan, tapi gini-----"
Posisi Arga kini seperti sedang merangkul, bedanya sekarang tangannya digerakkan untuk mencontohkan nada yang lelaki itu maksud.
Aku menahan nafas kala tangannya menyentuh kulit tangan ini dan dengan lembut membawaku memetik senar gitar.
"Bagus!" pujinya lagi.
"Makasih Ga,"
Arga melihat sekeliling. "Engga kerasa udah mau malam. Perasaan tadi latihannya belum lama."
Aku terkekeh. "Betul,"
"Sebelum pulang, boleh aku nyanyi sesuatu?"
"Silakan."
Dia mulai memetik senar gitar seraya memejamkan mata, menikmati permainan yang akan lelaki itu mainkan, tak lama Arga kembali membuka mata sembari tersenyum ke arahku.
Waktu pertama kali.
Kulihat dirimu hadir.
Rasa hati ini, inginkan dirimu.
Hati tenang mendengar.
Suara indah menyapa.
Geloranya hati ini tak kusangka.
Rasa ini tak tertahan.
Hati ini selalu untukmu.
Terimalah lagu ini, dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa.
Aku tak punya bunga, aku tak punya harta, yang ku punya hanyalah hati yang setia.
Tulus padamu.
Dia menyanyikan sembari menatap kedua manik mata ini membuatku salah tingkah karenanya.
Rasanya aku ingin sekali beteriak kegirangan sekarang, baru tadi siang aku berkhayal bisa duduk berdua dengannya sembari mendengar nyanyian Arga dan sekarang khayalan itu bukan lagi sebuah impian.
"....... Terimalah cintaku yang luar bisa," jedanya sembari menutup mata. "Tulus padamu."
Arga metik nada terakhir guna mengakhiri lagunya lalu membuka mata kembali dan menatapku sembari tersenyum lebar, membuatku salah tingkah.