
Semalam suntuk tidak ada yang bisa tenang, orang yang melahirkanku juga beberapa kali pingsan serta keluarga besar yang mendumel tentang mantan calon istriku yang kabur bersama kekasihnya yang merupakan sahabatku sendiri, Arik.
Sedikit cerita tentang Arik, dan kisah cinta pertamanya dimenengah pertama yang kandas layaknya ceritaku bersama Isha semasa SMA. Glenda yang pergi keluar negeri sedangkan Arik yang merasa putus asa akan hubungan keduanya.
Dalam diam, aku berfikir keras tetapi bukannya mengkhawatirkan diri justru otak menampilkan wajah cinta pertamaku yang pastinya sedih mengetahui calonnya kabur bersama wanita lain terlebih lagi, awalnya keduanya saling mencintai. Tidak seperti diriku yang hanya berawal dari perjodohan serta tanggung jawab.
Tok!
Tok!
Tok!
Aku yang semula merenung dalam kamar segera menghampiri ambang pintu, dimana sosok wanita setengah baya menatapku dengan mata berkaca.
"Ibu!"
"Fal!" panggilnya lirih sembari mengusap pipiku.
Perlahan ku tuntun beliau agar duduk di atas ranjang, sementara aku bersimpuh di bawah telapak kakinya.
Meski kami tidak saling berdialog kendati, setetes air mata tumpah juga saat beliau merengkuh tubuhku dengan kehangatan.
"Aku minta maaf Bu," ucapku.
"Ini bukan salahmu, anak kurang ajar itu yang seharusnya malu," balas beliau dengan nada bergetar karena tangis.
"Dia engga salah Bu, mungkin kita bukan jodoh. Jika pernikahan terjadipun tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan karena hati yang sama-sama belum melepas masa lalu."
Ibu memundurkan pundakku agar melepaskan kakinya serta tatap mata uang saling bertaut.
"Kamu masih mencintai Isha?"
Aku terdiam, tak mampu berkata.
"Kalau kamu benar-benar mencintainya, jangan lepaskan."
"Maksud Ibu?"
Beliau menganggukkan kepala. "Iya, Ibu merestui hubungan kalian. Mungkin ini yang dinamakan jodoh engga akan kemana?"
Karena diakhir kalimat Ibu terkekeh sembari menghapus air mata, justru netra milikku yang berkaca.
"Maafkan Ibu karena memaksamu, padahal Ibu tahu persis pemilik hatimu." Ibu menggenggam tanganku lalu jemari yang menganggur mengusap jejak air mata di pipi. "Jangan kecewakan dia ya Nak, jaga dia seperti kamu menjaga Ibu serta adikmu, serta selalu jaga cintamu."
👑
Isha POV.
Sakit kepala yang aku rasa karena terlalu banyak menangis tindak sebanding dengan rasa sakit hati akibat pengkhiatan yang dilakukan kekasihku.
Pesta pernikahan yang akan dilaksanakan lusa terasa percuma, ingin memaki, marah serta membenci namun aku tidak bisa melakukannya saat mengetahui sebuah kebenaran yang lelaki itu kirim melalui aplikasi pesan singkat.
Kak Arik❤
[Flo, sebelumnya aku minta maaf, pernikahan kita dirasa salah karena kenyataannya hatiku memiliki pemilik lain dan itu bukan kamu]
[Aku tahu ini akan sangat merugikan, apalagi dengan reputasimu. Akan tetepi, kamu pasti mengerti karena, sejatinya kamu tengah berada diposisiku sekarang. Mencintai sosok masa lalu yang tanpa izin muncul dan ternyata masih ada di hati]
[Jadi, mari kita akhiri, hubungan penuh kepura-puraan ini.]
[Semoga kamu bahagia]
"Flo!"
Aku terlonjak kaget, Orlin layaknya setan yang bisa menunjukkan wujud secara tiba-tiba.
"Udah jangan nangis, dia memang bukan jodoh kamu." Dia menarikku ke dalam pelukkan.
"Kalau kita mendengarkan kata orang engga akan ada habisnya."
"Tapi kenapa dia harus ninggalin aku disaat seperti ini?" raungku.
"Lalu? Kamu mau selamanya hidup penuh kepura-puraan?" tanya Orlin tak kalah bergetar. "Kak Arik benar, llihat ke dalam hatimu Flo. Sejatinya ada kisah yang belum usai dan tidak bisa kamu sangkal."
"Kita bukan lagi anak SMA yang bermimpi menemukan cinta sejati layaknya Cinderella Lin!"
"Lalu kamu bermimpi menjalani pernikahan dengan perasaan semu? Apalagi dengan masa lalu yang belum usai. Apa pondasi pernikahan seperti itu yang inginkan?!"
Secara kasar Orlin melepas pelukannya, menatap aku serus denga tangan yang memegang erat pundak.
"Sudah cukup kamu nangis! Buka mata kamu! Lihat ke dalam hatimu lalu tanyakan pertanyaan tadi."
"Maaf Nona, Tuan memanggil kalian ke bawah."
Sejenak kami bertatapan saat asisten rumah tangga memotong percakapan kami.
"Bilang kitaa ke segera turun." Orlin mengusap sudut mata sebelum mengulurkan tangan ke arahku.
Tidak ingin membuat menunggu, aku segera memenuhi undangan Papa meski, hati sedikit gelisah entah karena apa.
Setibanya di ruang tamu yang ternyata ramai, aku disuruh duduk di sebelah Ibu yang kian menyebabkan kebingungan karena seorang pria bersama kedua orang tuanya yang duduk tepat di hadapan.
"Ada apa ini?" tanyaku menuntut jawaban kepada Papa.
"Maksud kedatangan Nak Raefal un-----"
"Maaf menyela. Izinkan saya yang mengutarakan maksud kedatangan kami."
Tanpa sadar aku meremas tangan, rasanya dingin seketika menjalar melalui buku jari.
Kak Raefal menatapku serius akan tetapi senyum kecil tak lupa ia tinggalkan, menambah kadar ketampanan lelaki yang saat ini tengah memakai batik.
"Mungkin kelihatan kurang ajar, tapi sejujurnya sampai saat ini, aku masih mencintaimu, terlepas seperti apa keadaan kita sekarang. Aku berfikir jika ini adalah jalan yang ditunjuk maha Kuasa untukku meminangmu menjadi kekasih dunia akhirat."
Berbeda dengan seorang wanita yang akan tersipu dengan lamaran seorang pria, aku justru merasa bingung dengan pikiran yang entak berkeliaran dimana.
"Saya menerima pinangan Nak Raefal."
Atensi diserap penuh oleh Ibu, beliau mengatakan itu dengan mata yang masih membengkak karena tangisan semalam penuh.
"Ma!" tegur Papa lirih.
"Karena pelaminan yang sudah siap, alangkah baiknya pernikahan dilaksanakan besok. Bagimana?" tanya Mama tanpa memandang ke arahku maupun Papa.
"Saya berterimakasih karena restu Tante, tapi izin Flora juga tak kalah penting, mengingat dia yang akan menjadi pengantinku." Kak Raefal mencoba tetap tenang di tempatnya.
"Disaat orang yang telah melahirkan Flo setuju, begitupun dengannya."
"Mohon maaf, kami mengerti yang keluarga ini alami, tapi kamu juga tidak ingin memaksa apalagi ini soal pernikahan yang sakral." Sosok Kak Raefal versi dewasa membuka suara dengan penuh wibawa.
Hal yang disarankan Orlin aku lakukan, menggali segala sesuatu di masa lalu yang mungkin masih membekas di hati.
Ingatan yang indah sekaligus menyedihkan saat masa remaja berakhir dengan satu tetes air yang keluar dari sudut mata. Kemudian, aku menatap Kak Raefal dengan dada bergemuruh.
"Iya, aku menerima lamaran Kakak."
"Alhamdulillah!"
Pada detik yang tidak pernah aku sangka ini, terlihat jelas banyak hati yang bersukacita. Dimulai dari Mama yang langsung menangis memelukku, Orlin yang tersenyum seolah mengatakan keputusanku sudah tepat serta, Kak Raefal yang juga menitiskan satu tetes air mata meski langsung lelaki sok kuat itu tepis.
---------
Selasa, 27 Juli 2021.