
"Aku yang salah," lirihku sembari menutup mata.
"Sebenarnya lo engga salah. Semua berawal dari perjodohan yang menyesatkan itu."
"Perjodohan?"
"Iya, nyokap gue mau lo jadi pengantin gue. Keluarga lo picik juga ya, pasti lo cuma mau mengambil alih seluruh aset keluarga gue." Menjeda sebentar. "Tapi maaf, gue engga senaif itu."
Panas mendengar hinaan Arga, aku sontak berdiri lalu menampar pipi lelaki itu hingga membuat kedua gadis lain terkejut di tempat.
"Kamu pikir aku engga punya hati?!" teriakku. "Apa diotak itu cuma ada kejahatan?!"
Mata berkacaku menatap Arga penuh lara. "Seperti kata kamu, kita engga sebanding. Memang, tapi kamu engga berhak buat mainin perasaan aku brengsek!"
"Apa yang kamu fikir? Aku akan menguasai harta kamu?!" Dada ini naik turun menahan amarah. "Sebaiknya kamu selamatkan diri kamu sendiri sebelum karma mendatangi!"
"Intinya gue cuma kau lo ngerti posisi lo sebenernya."
"Mungkin hari ini kamu merasa tinggi, tapi satu detik kemudian kita engga tahu. Kita akan lihat bagaimana Tuhan menghukummu!"
"Lo sumpahin gue?!" bentaknya hendak balik menampar yang langsung aku tepis.
"Kamu engga terima?" tanyaku. "Seperti itu juga saat kamu mempermainkan perasaan aku!"
Arga mencekal pergelangan tanganku lalu memelintirnya dengan kekehan memuakkan. "Lo kira gue takut?"
"Arga!" Yollan datang dan memaksa Arga melepaskan tanganku.
"Aku benci kamu, sangat!" lirihku sebelum berlari meninggalkan tempat.
Aku memandang kosong jalanan padat di depanku, setelah lari aku memilih duduk sendiri di halte untuk mengistirahatkan kaki serta terhindar dari derasnya air hujan.
Entah sudah berapa kali aku menghapus air mata yang terus menetes membasahi pipi, aku membuang nafas kasar mendengar penjelas Arga yang terus terngiang bak radio rusak.
"Aku benci kamu," bisikku disela tangis seraya memeluk lutut dan menenggelamkan kepala ke dalamnya.
"Isha!"
Panggilan itu membuatku mengangkat kepala sebentar lalu tak menghiraukan saat, mengetahui sosok gadis cantik yang kini justru duduk di samping.
"Maaf."
"Buat apa? Hati ini udah terlanjur sakit."
"Maaf, aku engga bisa ngelakuin apapun."
Aku tertawa sumbang. "Iya, karena kamupun sama dengan pacarmu. Egois,"
Dia mengelap air mata yang sempat jatuh tadi. "Lo tahu, gue juga sama marahnya saat tahu Arga melakukan hal demikian, tapi akhirnya gue mengerti, karena apa? Dia melakukan ini demi gue, demi cinta kita."
"Lalu mengorbankan aku?" tanyaku yang sekarang sudah menatapnya seraya tersenyum kecut.
"Tentang opsi itu, gue jelas engga setuju dan gue sangat berhutang banyak maaf sama lo."
Gadis itu mengambil banyak nafas. "Disini gue sebagai Yollan, bukan pacar Arga. Jadi, lo engga perlu takut untuk mengeluarkan unek-unek yang lo rasa, karena gue mendukung lo, gue engga pernah setuju dengan rencana gila itu."
"Kalau kamu memang mendukungku kenapa engga pernah menemui dan berbicara sebelum semua ini terjadi?"
Wajah pucat Yollan menyebabkan tawa terdengar dariku.
"Aku memang mencintai Arga, tapi kalau dia mencintai orang lain aku engga akan maksa. Tapi kenapa disini perasaanku yang disalahkan?"
Aku menatap Yollan dengan air mata berlinang. "Salah ya dicintai oleh orang yang jelek seperti aku?"
Yollan memelukku, gadis cantik itu juga ikut terisak. "Sha."
"Aku memang salah karena mencintai Arga yang segalanya sedangkan aku, bukan apa-apanya."
🍁
"Gue bilang apa, lo ngeyel! Sekarang ginikan jadinya."
Terdiam mendengar komentar Kak Raefal sesaat setelah, aku menceritakan kejadian kemarin kepadanya disela istirahat.
"Aku juga engga nyangka dia bakal setega itu Kak."
"Lo itu terlalu bucin."
"Hapus air mata lo! Jelek banget!" nilainya.
Aku mencopot kacamata, lalu membersihkan netra ini yang sedikit bengkak karena terlalu lama menangis.
"Kenapa Kak?" tanyaku saat menangkap basah Kak Raefal yang memperhatikanku dalam.
"Siapa tahu ada belek yang ketinggalan."
"Kak aku malas ke kelas, pasti bakal dibully sama Orlin."
Sekedar informasi kini, aku duduk berdampingan dengan Kak Raefal di kelas lelaki itu.
"Aku takut Kak," cicitku.
"Ya alamat, lo terima bullyan mereka."
"Tapi aku malas Kak, sakit rasanya," keluhku sambil menangis.
"Denger Sha. Engga selamanya lo bakal sembunyi dibelakang gue, bentar lagi gue out dari sekolah, terus lo mau jadi apa kalau nanti gue keluar?"
"Lo mau minta tolong sama siapa? Tiang? Lo engga bisa selamanya kayak gini Sha, lo harus berdiri di kaki lo sendiri, bisa?"
"Aku takut Kak."
"Belum dicoba aja udah takut, lo mau sampai kapan galau? Gimanapun lo harus berubah. Lo harus bertarung sendiri, didalam kehidupan lo, pemeran utama itu lo sendiri Sha, mau sebaik dan sekuat apapun orang lain tetap aja, lo pemeran utama dikehidupan lo."
"Kalau aku engga bisa?"
Kak Raefal menggenggam ke-dua pundakku. "Lo bisa, dan harus bisa! Buktiin kalau lo juga bisa lebih dari mereka, buktiin Sha. Dan, gue bakal selalu dukung apapun yang jadi keputusan lo!"
"Makasih Kak."
"Udah jangan cengeng lagi, lo harus kuat oke?!" Aku mengangguk mantap.
Baru saja aku berbincang dengan Kak Raefal, gadis yang menjadi ketakutanku kini sudah berdiri menghalangi jalan.
"Halo Isha. Gimana dengan permainan kemarin? Seru?" Orlin tertawa. "Puas bukan jadi pemeran utama seperti kisah yang teraniaya lalu berubah jadi Cinderella?"
"Sayang sekali jam dua belas sudah lewat," kata Acel menambahkan.
Aku menutup mata, mengumpulkan keberanian. "Minggir!"
"Wah! Liat El, Ra! Ada jagoan baru," ledek Orlin menampilkan wajah terpukau yang disengaja.
"Maaf Lin, tapi aku engga ingin kalian gangu aku, permisi!" Aku hendak pergi namun cekalan kuat di lengan membuat raga ini kembali ke tempat semula.
"Enak aja, denger ya cupu!" Orlin menarik rambut kepang milikku dengan keras. "Masa dimana lo jadi mainan Arga udah selesai, dan sekarang lo kembali jadi mainan gue, ngerti!"
"Abis lo sama kita!" ucap Acel sarkas dengan mata tajam.
"Nih! Lo bawa tas kita!" Anoora menyerahkan tas itu kepadaku.
"Ingat! lo kembali jadi babu dan harus patuh apapun yang kita perintah, Ngerti?!" Orlin kemudaian keluar, berjalan meninggalkanku beserta ketiga tas mereka.
Aku mengikuti langkah mereka seperti biasa.
"Lin lo apa-apaan, engga kapok juga lo sama kejadian kemarin!" Kak Raefal menghampiri Orlin yang sedang asik menyantap bakso dengan aku yang berdiri di sampingnya.
"Kak Raefal, duduk dulu. " Orlin mempersilakan Kak Raefal duduk di sampingnya.
Kak Raefal menatap Orlin tajam. "Gue engga butuh basa basi lo!"
Lelaki itu menggandeng tanganku keluar dari kantin dengan keributan luar biasa yang membuat kaum hawa menjerit tertahan.
"Ya Allah, gue kira kejadian ginian cuma ada di novel, sampai sekarang gue masih engga percaya."
"Kapan gue jadi Isha."
"Halah, gue yakin Kak Raefal udah dikasih sesuatu, mana ada pangeran mau sama upik abu."
"Gue iri!"
"Jiwa jomblo gue memberontak!!!"
"Bukannya udah gue bilang, lo harus berontak?!" teriak Kak Raefal di Koridor yang sepi.
"Aku udah coba Kak, tapi hasilnya kayak gitu, maaf."
"Lo kira maaf lo bisa merubah dunia?! Buka mata lo!" teriaknya lagi, membuatku beringsut mundur karena takut.
"Maaf."
"Lo kayak gini sama aja merusak kepercayaan gue sama diri lo sendiri, gue mau lo kuat dengan usaha lo sendiri, gue mau lo berdiri dikaki lo sendiri! Mau sampai kapan lo kayak gini terus! Emang lo pikir gue bakal selalu disamping lo? Jawabannya engga Isha!"
"Tapi aku udah berusaha Kak!" belaku.
Kak Raefal hanya mengacak rambutnya lalu pergi meninggalkanku.
"Kak!"
"Kak!" panggilku sambil berlari mengejar Kak Raefal.
"Jangan ikutin gue!" titahnya saat aku bisa menggapai tangannya.
"Kak aku janji engga bakal buat Kak kecewa lagi maaf kak."
"Terserah!"
Aku menatap punggung lelaki itu yang mulai mengecil dengan tatapan nanar, merasa sesak dalam dada.