Call Me Isha

Call Me Isha
66.



**Bagiamana** Tuhan mengirim jodoh memang tidak pernah terduga, seperti halnya kisahku yang tidak perlu aku tuang lagi.


Pagi tadi aku telah sah mendapat gelar istri dari seorang Raefal Mahaprana Faresta, menggegerkan media akan calon pengantin yang berbuah didetik terakhir, untuk masalah itu aku tidak ambil pusing meski milyaran orang menuntut sebuah jawaban.


Saat ini, aku berdiri di sebelah suami untuk menerima ucapan selamat dari para teman, kenalan, ataupun keluarga besar yang semuanya terlihat menampilkan binar keceriaan.


"Selamat ya Kak, maafin penyanyiku kalau nanti nyushin Kakak."


"Berhenti menjelekkan aku," dengusku tidak terima dengan tuduhan Orlin.


Wanita dengan satu anak yang hingga saat ini tetap terlihat cantik menghampiriku dengan tawa sebelum memelukku.


"Sudah aku bilang, kalian ini jodoh." Setelah membisikkan itu Orlin melepas pelukannya. "Jangan bikin susah suami ya, kalau engga gue juga siap gantiin posisi lo."


"Makasih ya Lin udah bikin aku sadar." Aku tersenyum tulus, akan tetapi air mata keluar jua. "Maaf juga sering buat kamu susah karena tingkah keras kepala aku."


"Goblok! Lo sengaja bikin riasan gue luntur ya?" tuduh Orlin.


Tanpa izin, aku memeluk wanita cantik itu sembari menangis bersamaan.


"Gue seneng banget lihat lo di pelaminan sama orang yang tepat. Tapi gue juga sedih, karena mulai sekarang udah engga ada adik kecil yang bakal gue marahin sesuka hati."


"Aku juga, jaga Mama, Papa serta Zimra dengan baik ya,"


Setelah dirasa cukup lama, kami menyudahi acara tangis-menangis itu lalu tertawa kecil bersama.


"Nanti malam pertamanya jangan lupa live instagram ya. Biar fans lo pada patah hati," canda Orlin sebelum berlalu.


🍁


Tengah malam, aku duduk bersandar pada kepala ranjang dengan gugup karena, ini kali pertama aku berbagi ranjang dengan lelaki lain.


"Flo, kamu bahagia?"


"Hah?" Secepat kilat aku menatap wajah Kak Raefal yang juga tengah menatapku.


Lelaki itu tersenyum. "Kamu bahagia nikah sama aku?"


Aku diam sembari menunduk, bingung memilah kata karena malu yang entah kenapa datang menghampiri.


"Mungkin dulu aku bisa gampang lepas kamu disaat aku sadar diri, akan tetapi itu tidak berlaku lagi kali ini. Anggap aku egois karena menahanmu tapi, aku benar-benar engga bisa melepasmu."


"Kakak nikahin aku karena untuk nama baik keluarga bukan?" tanyaku tanpa menatapnya.


"Apa kamu mau menikahiku karena alasan itu?"


Aku menggeleng. "Menurut Kakak?"


"Entahlah, sekarang aku sulit membaca isi hati kamu karena, kepalamu tidak menghadapku."


Perlahan, aku mengangkat kepala yang langsung terhubung dengan tatapan Kak Raefal.


Secarik senyum terbit di bibir Kak Raefal. "Sekarang aku mengerti."


"Apa?"


"Kita ternyata masih saling mencintai."


"Hah?"


"Iya, aku mencintaimu. Begitupula denganmu."


Membuang muka yang aku lakukan, malu rasanya menampilkan wajah yang penuh rona kemerahan padanya.


"Kenapa buang muka? Kamu blushing?"


"Engga!" jawabku cepat.


Hening cukup lama, mungkin Kak Raefal bingung merangkai kata atau kelelahan karena rentetan kegiatan pengantin.


"Kamu tahu kenapa Arik ninggalin pernikahan?"


"Tahu, dia ingin balikkan sama mantannya. Dan ternyata, selama ini dia cuma main-main sama aku."


"Kamu tahu siapa perempuan itu?"


"Kenapa kamu bisa tahu?"


"Saat fitting baju, aku lihat tatapan yang ditunjukkan Kak Arik, aku curiga tapi bingung menanggapinya." Menghela nafas. "Namun, terlepas dari itu, aku cukup bersyukur."


"Karena akhirnya menikah dengan orang yang benar-benar kamu cintai?"


Aku sedikit malu mengakui, tapi tidak urung jua mengangguk.


"Aku juga mencintai kamu, entah kemarin, hari ini, esok atau nanti."


"Aku wanita dewasa sekarang, bukan anak SMA yang akan terbang dengan kalimat itu."


"Tapi aku lihat pipi kamu memarah, persis seperti anak baru gede yang habis digombalin," ledek Kak Raefal sembari menusuk pipiku dengan jarinya.


"Engga!" elakku.


"Love you!"


"I hate you!"


Tawa Kak Raefal menggelegar. "Perasaan dulu kamu suka kalau aku bilang begitu."


"Itu dulu, waktu aku masih polos sehingga mudah diperdaya."


"Manis sekali istriku ini berkata," gumamnya.


Karena tidak tahan, aku merebahkan tubuh dengan membelakangi Kak Raefal namun, mantan yang merangkap jadi suamiku itu justru melakukan hal yang sama bahkan memelukku dari belakangan.


"Ini malam pertama kita, masa udah munggungi suami, dosa kamu."


Ketimbang meladeni Kak Raefal yang tidak ada ujungnya, aku mencoba menutup mata meski hati sedang mengadakan pesta.


"Flo, kamu ingat waktu kita jadian, waktu itu kita berciuman bukan? Itu first kiss aku."


Aku masih tidak menanggapinya hingga kalimat selanjutnya kontan membuat aku hampir tersedak air liur.


"Mari kita ulang kejadian itu? Atau mau langsung membuat anak?"


"Ulang lagi?!" tantangku yang kini menatapnya dengan sengit.


"Ayo kita membuat Raefal junior atau Flo junior."


"Buat aja sendiri! sama tembok sana!"


"Emang bisa?" Kak Raefal menunjukkan wajah polos yang membuat aku kembali memunggunginya.


"Bercanda Flo," katanya.


"Kamu panggil aku apa?"


"Flo? Kenapa? Itu mau kamu 'kan?"


Mengeluarkan karbondioksida sebelum kembali berhadapan dengan Kak Raefal.


"Kak, jujur. Aku sedikit sakit saat denger Kakak manggil aku kayak gitu." Memberi jarak. "Dulu aja Kakak sampai berteriak supaya semua orang berhenti mengolok-olok namaku namun, dengan bodohnya aku berusaha menghilangkan kenangan itu. Sekarang aku ingin kembali menjadi Ishanya Kak Raefal. Boleh?"


Aku tidak pandai menafsirkan perasaan namun, berbeda dengan keadaan Kak Raefal yang langsung memelukku bahkan menggumamkan kata terimkasih, aku yakin akan yang lelaki itu alami.


"Isha-nya Raefal."


End.


Jadi gimanaa cerita ini?


Jujur, aku udah kehilangan feel buat cerita ini, buat revisijuga rasanya berat banget, terlepas dari kesibukan aku didunia nyata.


Semoga cerita ini menempati ruang kecil dalam hati kalian.


Nantikan juga ceria aku yang lain;)


Salam hangat.