
Tiga hari telah berlalu setelah kejadian mengerikan yang terselamatkan oleh Kak Raefal.
Dua hari lalu, aku di panggil ke ruang bimbingan konseling untuk mendapatkan permintaan maaf dari orang tua serta siswa yang telah membully diriku.
Sejak hari itu, hidup ini terasa lebih damai karena ketiga siswi populer itu sama sekali tidak mengusik diri bahkan terlihat menjaga jarak meski, terkadang mereka menatap tajam padaku.
"Isha!!" panggil Bu Siti, dia juga melayangkan penghapus papan tulis yang menyebabkan lamunanku pecah.
Aku menundukan kepala karena seluruh kelas menertawai diriku. "Iya bu,"
"Kamu ini! Sudah nilai jelek dan sekarang kamu melamun di jam pelajaran saya! Keluar kamu!"
"Maaf Bu, saya janji tidak akan melakukan itu lagi."
"Baiklah, tapi kamu tetap saya hukum. Kerjakan soal fisika di depan dengan benar!"
Hukuman itu memang sedikit menyeramkan namun, aku tidak bisa berbuat banyak selain pasrah.
"Ini bagaimana?" batinku.
"Bu, jika diizinkan. Apakah saya bisa bantu Isha? Nampaknya dia kesulitan."
Tanpa aku memutar tubuh hingga tiga ratus enam puluh derajat pun aku yakin bila pemilik suara itu adalah orang yang pernah dan mungkin masih singgah dalam hati.
Bukan berburuk sangka namun, rasanya soal di depan tidaklah semenyeramkan orang yang kini ada di belakang.
Tubuhku sudah panas dingin saat Arga berdiri tepat di belakang tubuh bahkan sampai menyentuh punggungku.
"Lain kali, jangan melamun," suara itu bukan lagi nada mencemooh, itu terdengar lebih lembut dari biasanya.
Jemari yang terselip bolpoin di angkat oleh tangan Arga, diarahkan untuk mengisi jawaban pada soal yang diberikan.
Posisi ini bukan hanya membuat jantungku berdetak tak karuan namun, orang yang ada di belakangpun mulai berkicauan layaknya burung di pagi hari.
Ketika Arga menjauhkan tubuh, aku baru bisa bernafas lega namun, sedetik kemudian lelaki tampan di hadapan malah menerbitkan senyum sembari mengacak pelan pucuk kepalaku.
"I-ini mimpi?" gagapku tanpa sadar.
"Bagaimana, sudah bisa?" tanyanya yang hanya aku beri anggukan kaku.
"Baiklah kalian bisa duduk, dan buat kamu Isha!" Bu Siti terfokus kepada diri ini. "Jangan melamun saat ada guru yang mengajar!"
"Iya Bu, terima kasih."
Seperti tiga hari lalu di jam istrahat, kini aku duduk seorang diri dengan sebuah bekal di atas meja, jika biasanya sosok Kak Raefal akan datang namun beberapa hari dia tidak pernah menampakan diri.
"Sendirian?"
Aku sangat hafal dengan suara Kak Raefal dan aku juga cukup yakin bila lelaki yang berdiri di samping bangku bukanlah orang yang aku tunggu.
Sembari menunduk dalam aku membuka kata. "I-iya."
"Okey, aku duduk ya."
Kepala ini sontak menoleh kala Arga tanpa izin mendudukkan diri di samping tubuh.
Arga menerbitkan tawa kecilnya. "Engga usah tegang, aku cuma mau duduk kok."
Bukan hanya itu, Arga yang biasanya sangat sinis berubah banyak dalam semalam bahkan berani mencubit hidungku yang mancung ke dalam. Namun bukan itu yang membuat tubuh ini beku, lebih tepatnya dia mencubit hidung pesek ini setelah sekian lama.
"Kenapa engga dimakan? Atau mau aku suapin?"
Arga mengambil alih bekal makan siangku dan bersiap hendak menyuapi, aku bahkan sampai tidak bisa bernafas dengan benar.
Aku menggeleng serta menutup mulutku persis seperti anak kecil. "Engga, biar aku sendiri aja."
Setelah itu Arga lebih memilih menurut, hingga kita saling terdiam dalam perasaan canggung.
Aku meliriknya, dulunya aku dan Arga bukanlah orang asing hingga untuk memulai kata menjadi lebih mudah bagiku.
"Kamu, engga ke kantin? Pasti temanmu menunggu," kataku memecah keheningan.
"Ternyata kamu ingat," lirihku.
"Tentu, jadi bolehkan aku menemani kamu, untuk selamanya juga boleh kalau kamu bersedia?"
Aku merasa oksigen di dunia menipis hingga membuat aku merasa sesak bahkan tanpa sadar aku berdiri.
"Aku mohon, aku ingin sendiri!"
"Kenapa harus sendiri jika ada aku yang setia menemani."
Entah masalah apa yang menyerangku hari ini, diriku menjadi lebih sensitif dengan perkataan Arga, aku juga tidak menyukai itu karena terkesan seperti lelaki buaya.
"Aku engga tahu maksud kedatangan kamu, kalau kamu mau bully aku. Aku mohon jangan sekarang."
Selepas mengatakan hal itu aku hendak pergi namun cekalan tangan Arga terlebih dahulu menghentikan.
Mataku membola, itu bukan efek cengkraman Arga namun tatapanku terpusat dimana Kak Raefal tengah berdiri di ambang pintu.
Karena melihat lelaki itu, aku bergerak refleksi untuk menghampiri sosok Kak Raefal yang masih berdiri dingin di tempat.
Mata Kak Raefal kini bersitatap dengan Arga, membuatku sedikit takut dengan mengartikan semua itu.
"Gue duluan Ga!"
Tangan Kak Raefal menarikku keluar dari kelas hingga kita duduk berdua di taman Sekolah.
"Gue suka lihat lo gini. Berubah sesuai apa yang gue inginkan. Pertahankan."
"Maksudnya?"
"Pokoknya gue seneng liat lo ngelawan kayak tadi."
"Bukan melawan Kak, tapi emang aku lagi engga mood aja kalau harus dibully. Efek menstruasi juga kayaknya."
"Pantes, kenapa juga kalau perempuan lagi datang bulan harus berubah bar-bar?"
"Entahlah, sudah kodrat mungkin."
"Semoga aja bini gue nanti kalau lagi datang bulan engga seribet cewek lain."
"Ngarep!"
Aku melirik Kak Raefal. "Bentar lagi Kakak lulus, pasti aku bakal kesepian."
"Makanya cari teman. Masa selamanya lo sama gue?" Menjeda sebentar. "Gue si ogah."
Aku menghembuskan nafas. "Siapa yang mau temenan sama aku Kak,"
"Banyak, jangan pesimis gitu. Engga baik!" Kak Raefal mencubit hidungku.
"Gimana engga pesimis, aku bukan mereka yang pandai berteman."
"Belum dicoba aja udah pasrah, kalah sebelum berjuang!"
"Aku takut Kak, kalau nanti aku punya teman aku takut mereka hanya memanfaatkan,"
"Kenapa harus takut? Biasa aja. Hitung-hitung cari pengalaman hidup."
"Aku takut memulai dan bingung harus darimana aku memulai."
"Semua lo takutin, apa yang lo engga takut?"
"Mungkin semua"
"Takut itu hanya berasal dari dalam diri. Lawan rasa takutmu dan berlari sekencang mungkin ke arah matahari."
"Aku masih ragu Kak, jika nanti aku semakin dekat dengan matahari maka aku akan hangus terbakar,"
"Gampang, ada pemadam kebakaran," tawa Kak Raefal.