Call Me Isha

Call Me Isha
30. Jadi Ibu Peri



"Guy's denger! Gue mau ngomong!" pinta Acel yang berhasil mengambil alih atensi semua orang.


Acel melirikku sekilas sebelum kembali membuka suara. "Cupu selain bodoh dalam matapelajaran, dia juga engga bisa main alat musik."


Aku diam sembari memperhatikan tingkah Acel yang kini sudah menatapku penuh cemooh dengan tangan terlihat di depan dada.


"Kalian setuju bukan kalau dia memang beban dunia, bahkan buat ada di kelas ini aja engga pantas."


"Gue setuju si, entah apa yang dilakukan sampai belum didepak juga dari sekolah bergengsi ini." Penilaian itu berasal dari Zaskia.


"Setuju, buat apa kasih pendidikan buat orang kayak dia, otak aja engga punya apalagi masa depan." Nilai yang lain.


Dadaku naik turun menahan amarah sembari menunduk dalam. "Pendidikan diberikan kepada siapa yang mau, bukan yang mampu!"


Ungkapan tadi tentu merupakan bahasa kalbu yang hanya aku dan Tuhan yang mengetahui pasti, betapa sakit hatinya aku kini.


"Cel. Kalau memang Isha engga bisa, sebagai teman seharusnya lo bantu, bukan mempermalukan dia. Lo kira dia engga punya hati yang bisa sakit?"


Semua orang menoleh kepada sosok yang kini sudah berdiri, meninggalkan permainan piano menuju ke arah dimana aku berada.


Acel mengerutkan kening dalam sembari menatap Arga aneh. "Lo? Bela dia Ga?"


Acel menggulirkan matanya sebelum berdecak keras. "Kalau mau bully Cupu, engga perlu basa-basi Ga."


"Namanya Isha! Bukan Cupu! Jangan seenaknya lo!" sentak Arga lagi. "Satu lagi, gue engga ada niat buat bully Isha."


Aku beserta siswa sekitar melongo, tidak menyangka Arga akan bersikap sedemikian itu.


Dengan ekor mata, dapat aku lihat bila Arga menyisir ruangan dengan tatapan tajamnya.


"Kalian denger ini! Orang yang kalian sebut beban dunia, bakal buktikan kalau engga ada manusia yang diciptakan tanpa kemampuan!"


"Ouh ya? Memang lo ibu peri yang bisa mengubah Cinderella menjadi putri sampai jam dua belas?" Kini Orlin membuka suara dengan tatap wajah mencemooh. "Percuma Ga, lo engga akan mengubah apapun dalam diri Cupu."


Arga mengangguk. "Okey! Kalian bakal lihat Isha nyanyi di depan kalian buat praktek minggu depan, bahkan memainkan alat musik."


"Biar mulut kalian bisa terdiam!" lanjut lelaki itu.


"Kalau lo kalah?" tanya Acel.


"Gue traktir kalian semua selama satu minggu full!"  jawabnya.


"Gue terima tantangan lo!" ungkap Acel sembari mengulurkan tangan. "Kalau gue kalah, sebagai gantinya. Gue akan traktir satu minggu full."


Arga menjabat tangan Acel dan membuat kesepakatan. "Deal!"


Meskipun bukan diri ini yang membuat tantangan, nyatanya jantung ini bertalu karena gugup serta takut.


              Seperti biasa, aku duduk di bangku kelas seorang diri dengan sebuah kotak makan sebagai teman.


"Sha! Raefal mana?"


Tanpa menoleh untuk mengecek, aku dapat menebak orang itu melalui suara serta aroma tubuh yang mengudara.


Aku mengedikkan bahu. "Mungkin lagi sama temannya."


"Boleh aku duduk di samping kamu?"


"Tentu."


Aku membuang nafas. "Arga, kamu kenapa ambil keputusan secara sepihak?"


"Memang kenapa?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.


Aku menghela nafas berat. "Karena itu batin aku engga tenang, kalau aku kalah gimana? Kamu juga yang malu Arga."


"Gue yakinnya lo bisa, percaya sama gue."


Karena kesal aku menatap Arga penuh dengan kegundahan. "Matematika yang dari SD aku pelajari sampai sekarang aja masih sering keteteran, lalu kamu minta aku belajar musik yang belum pernah aku sentuh sebelumnya?"


Dia menggenggam tanganku. "Hei denger."


Aku menatap matanya yang terasa menenangkan itu dengan seksama. "Kamu cabut tantangan itu ya?"


"Aku percaya kamu bisa, semua yang ada di dunia ini bisa kamu taklukan kalau kamu punya tekad, niat dan semangat."


Aku menghindari kontak mata dengan Arga sembari melepas genggaman itu. "Aku engga punya semua itu."


"Itulah aku ada disini, tugasku membuat kamu memiliki itu. Percayalah kalau kamu bisa."


"Aku, takut."


"Engga ada yang perlu kamu takutkan kecuali Tuhan." Dia kembali membuat mata bertautan. "Aku percaya dan kamupun harus. Dan, apapun yang terjadi aku akan selalu ada disisi kamu."


Senyum perlahan muncul menghiasi wajah. "Makasih Arga,"


"Oke, jadwal kita latihan mulai hari ini!" putusnya.


"Hari ini?" tanyaku memastikan.


"Yup! Selain kita belajar pelajaran umum, kita juga akan belajar musik."


"Baiklah,"


Aku melirik Arga yang tengah memandang dengan wajah penuh tanya.


"Siapa?"


Berdehem sebelum menjawab. "Aku kelaur dulu ya Ga."


Sebelum mendapat jawaban, terlebih dahulu aku keluar. "Iya Kak?"


"Sorry telat ngabarin, gue harus   gabung sama temen-temen."


"Okey."


"Gue kangen Sha, lo kesini gih!"


Aku melotot mendengar itu. "Ke ke-kelas Kakak?"


"Gue di roftop lo kesini aja."


"Oke."


Aku mematikan panggilan sebelum menghampiri bangku yang sedang Arga tempati.


"Arga, aku harus pergi. Maaf,"


"Raefal?" tebaknya seraya menaikan satu alis.


Dengan ragu aku menjawab. "Iya."


Dia membuang muka asal. "Yaudah, saja urus pacar lo."


"Maaf, tapi dia bukan pacar aku."


"Terserah!" Dia pergi begitu saja meninggalkanku yang sekarang merasa tidak enak.


          Dengan langkah terburu, aku menghampiri tempat dimana Kak Raefal berada.


"Kak Raefal!" sapaku lalu duduk di sampingnya. "Kakak tadi bikin rencana tawuran lagi?"


Dia mendekatkan wajah kami lalu menyentil keningku. "Kepo!"


"Bukan kepo, cuma ingin tahu."


"Sama aja."


"Terserah!"


Kak Raefal mengambil alih kotak bekal yang sengaja aku bawa. "Belum dimakan?"


"Engga pingin makan."


Dia berdecak. "Jangan sia-siain makanan."


Aku menatap setiap gerakan yang Kak Raefal buat, mulai dari membuka penutup kotak bekal, mengambil sendok dan mengambil nasi berserta lauknya pun tak luput dari penglihatan.


Kak Raefal mengangkat sendok yang kini sudah penuh itu dan berhenti tepat di depan mulutku, membuat diri ini bingung.


"Makan!" titahnya penuh penekanan.


Menghela nafas seraya memasang wajah malas. "Kak,"


"Nanti maag. Sekarang makan!"


Dia berusaha memasukan satu suap ke dalam mulutku namun, gelengan keras aku berikan sembari menutup mulut dengan kedua tangan layaknya anak kecil.


"Jangan membantah! Makan!"


Aku kesal sekarang. "Kenapa Kakak maksa aku, Kakak juga pasti belum makan 'kan?"


"Gue belum makan itu karena engga bawa bekal kayak lo dan, males aja ke kantin."


Aku mengambil alih bekal milikku beserta sendoknya sebelum memberi dia suapan juga.


"Kalau gitu, Kakak juga harus makan!"


"Ini bekal lo."


Aku menggeleng, tetap mengangkat sendok di udara, siap meluncur ke dalam mulut Kak Raefal.


"Engga perduli, toh Kakak juga gitu. Sekarang makan!"


"Lo aja engga makan tadi, lo harus makan dulu!" Kak Raefal mengambil alih sendok yang ada di tanganku.


"Sekarang makan!" titahnya.


"Engga!"


"Kalau lo engga makan gue juga engga!" putusnya.


"Kok gitu," ucapku tak terima.