
Perlahan namun pasti, kepala Kak Raefal berpindah menuju pundak ini lalu tangannya menarik tubuhku ke dalam dekapan hangatnya.
Malam yang dingin terasa hangat karena pelukan yang lelaki itu berikan, cahaya rembulan yang mengintip seolah menjadi saksi bisu kedekatan kami.
Kak Raefal melepas pelukan itu dan beralih bersitatap satu sama lain.
"Gue emang laki-laki kasar yang engga bisa bikin suasana romantis, bahkan gue nembak lo aja kayak gini," katanya diselingi tawa kecil.
Tahukan dia, jika tawa kecil itu berhasil membuat jantung bekerja lebih keras.
"Tapi untuk perasaan, gue bukan orang yang suka mempermainkan. Mungkin ini terlalu cepat, mengingat lo baru putus dari Arga dan, butuh waktu buat sembuh."
"Sha!" panggil Kak Raefal sembari menampilkan wajah penuh harap. "Izinkan gue menjadi penawar rasa sakit yang Arga berikan."
"Gue----"
Sebelum melanjutkan kata, aku memotongnya dengan meletakan jari telunjuk ke atas bibirnya.
"Sejujurnya aku juga tidak tahu persis seperti apa itu cinta, apalagi setelah kejadian itu." Perlahan aku menurunkan jari telunjukku.
"Namun, hati tidak bisa menapik bila aku ingin selalu ada disamping Kakak." Menjeda sebentar.
"Izinkan aku untuk-----"
Kalimatku menggantung karena tangis itu luruh tanpa diminta.
"I love you Aisha," bisik Kak Raefal di telinga, membuat tangisku luruh.
🍁
"Pagi!" sapa Kak Raefal yang baru turun dari kamarnya lalu duduk di sebelahku.
"Wih seger amat, habis mimpi apa semalam?" tanya Balqis dengan tawa.
"Habis dapet Cinderella," katanya seraya menggenggam tanganku di bawah meja makan.
Aku menunduk sembari mengaduk makanan, rasanya perutku dipenuhi sesuatu yang beterbangan.
"Mentang-mentang baru jadian, lengketnya ngalahin lem sama perangko," cibir Balqis yang membuatku tersedak karena ucapannya.
"Kagetnya Kakak ipar kayak di sinetron aja," ujar Balqis lalu menyerahkan air putih padaku.
"Kok?" tanyaku yang dapat kedipan mata darinya, disusul tawa yang membuatku kaget setengah mati.
Acara sarapan yang seharusnya khidmat menjadi rusuh karena godaan dari Balqis, membuat Kak Raefal jengah lalu menarikku pergi dari rumah.
"Sha kita mampir ke warung mbok Sum sebentar, gue laper," keluhanya sembari menyetir.
"Salah siapa langsung pergi,"
"Abis Balqis bikin kesel."
"Sama adik sendiri juga."
"Mbok biasa!" teriak Kak Raefal ketika kami tiba di warung makan sederhana itu.
"Kebetulan yang sangat menguntungkan," ucap seseorang, membuatku mengalihkan perhatian kepada orang yang berdiri tak jauh dari tempat kami.
"Mau apa lo?!" tanya Kak Raefal bengis yang langsung berdiri, membuatku panik lalu ikut berdiri.
"Sebenarnya gue cuma pingin mampir, tapi lihat lo disini, engga apalah kalau kita main-main sedikit," ujar orang itu disertai kekehan, membuat Kak Raefal naik darah kemudian menarik baju orang itu, menyebabkan seluruh pengunjung ikut berdiri panik.
"Kak lepas!" pintaku yang sudah dilanda panik.
Lelaki yang seolah memiliki dendam pribadi dengan Kak Raefal melirikku, kemudian memindai tubuhku dari atas hingga bawah.
Orang itu menatap Kak Raefal dengan senyuman miring. "Selamat! Selera lo sangat rendahan,"
Hinaan itu mendapat bogem mentah dari Kak Raefal yang membuat seluruh pengunjung sama paniknya denganku, disusul wajah panik si pemilik warung yang juga berusaha melerai perkelahian itu.
"Kak udah!" teriakku menghentikan perkelahian itu, dan menarik tangan Kak Raefal keluar.
"Kak! Apa untungnya berkelahi kayak tadi?!" tanyaku dibarengi emosi saat sudah ada di depan mobil.
"Gue engga suka kalau ada yang rendahin lo."
Mendengar itu, amarahku sirna dan diganti dengan lenganku yang melingkari ke tubuh Kak Raefal.
"Makasih udah bela aku Kak, tapi aku engga suka kalau Kakak main tangan kayak gitu."
"Tapi dia udah----" ucapnya langsung aku potong.
"Biarin orang bilang apa, engga usah didengerin."
"Engga bisa dong! Enak aja!" Kak Raefal melepas pelukanku.
"Ya udah, sekarang Kakak mau makan apa? Kakak belum sarapan loh," kataku mencoba mengalihkan perhatiannya.
Dia tersenyum dengan seringainya, membuatku menyipitkan mata. "Makan lo boleh?"
Aku mendelik yang mendapat kekehan darinya. "Kak jangan bercanda, ayo kita cari makan. Nanti Kakak sakit gimana?"
Kak Raefal mencubit kedua pipiku dengan gemas. "Manisnya pacarku ini."
"Cie yang aku kamu-an," godaku yang membuat kami tertawa bersama.
"I love you my sweetheart," ucapku lalu mengecup pipinya, membuat lelaki itu terdiam beberapa detik sebelum memandang dengan tak percaya.
🍁
"Kak, makan dulu nasi gorengnya!"
bujukku pada orang yang ada di hadapan.
"Nih aku makan." Dia menyuapkan nasi itu ke mulutnya tanpa menoleh dari gawai, membuatku menggeleng.
Aku mengambil alih sendok itu lalu menyuapi bayi besar di hadapanku ini yang mulai menguyah nikmat makanannya tanpa sadar hingga beberapa suap, dia balik menatapku dengan tanda tanya kemudian, tersenyum dan melanjutkan kunyahan dari nasi yang aku suapkan.
"Makasih sayang," ucap Kak Raefal tak kalah manis dengan air berwarna kuning kecoklatan yang sedang aku minum.
"Kita pulang ya Kak, takut Papa marah," pintaku yang diberi anggukan olehnya.
Aku hendak membuka pintu mobil yang aku naiki namun, sebuah tangan berhasil menarik tangan ini dan membuatku kembali terduduk.
"Kenapa?"
"Besok bawain aku nasi goreng buatan kamu."
"Okey!"
Aku kembali ditahan oleh orang yang sama ketika hendak pergi.
"Engga ada yang kelupaan?" tanyanya membuatku mengerutkan kening lalu menggeleng.
Kak Raefal berdecak lalu mencondongkan tubuhnya ke hadapanku, mengecup keningku dengan khidmat hingga membuat aku menutup mata guna menikmati euforia.
"Udah, sekarang boleh pulang, inget jangan lupa hubungin gue nanti karena gue bakal kangen, jaga hati, jaga mata, jaga----" ucapnya yang langsung aku potong dengan kecupan singkat di pipi.
"Kakak sekarang jadi bawel!"