
**Sorak** penonton, gemerlap lampu serta jepretan kamera bukanlah hal asing lagi bagiku, sejak usia dua puluhan aku telah bergabung dalam dunia hiburan, piala serta penghargaan hampir selalu aku borong dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Dunia memang adil, mungkin dulu kehadiranku layaknya angin tapi kini, satu langkah yang aku ambil akan menjadi pusat perhatian bahkan menjadi berita yang paling ditunggu khalayak umum.
Dulu, ketika larut malam aku memiliki banyak waktu yang bisa aku gunakan bebas namun, tidak berlaku sekarang, meski sudah dini hari kadang aku masih berkeliaran menggaet rezeki dengan suara emas yang aku punya.
Seperti kebanyakan publik figur, kehidupanku juga tidak lepas dari kamera seperti saat ini, melangkah mendekati mobil dengan teriakkan penggemar yang meminta tanda tangan ataupun wartawan yang sibuk dengan pertanyaan.
"Gila! Capek banget!" eluhku sesaat setelah duduk di dalam mobil.
"Daripada sepi, nanti kayak orang sebelah yang pakai gimik."
Aku menoleh, kepada wanita yang telah menjadi asisten selama aku berkarier.
"Bukan level Flo," cemoohku sembari menerima minuman darinya.
"Sha----"
Sebelum asistenku melanjutkan kalimatnya, jemari panjang ini terlebih dahulu mendarat di atas bibirnya yang kerap membuat gagal fokus para lelaki.
"Call me Flo!" tekanku.
Kalian tentu masih ingat tentang Orlin bukan. Sekarang, ibu satu anak itu menjadi asisten sekaligus sahabatku. Dunia memang aneh, dulu saja kami saling bermusuhan, lalu kini berkerja sama bahkan menjadi keluarga.
"Bodo amat! Meski sering lo larang gue engga perduli," cueknya.
"Keras kepala," cibirku sebelum menubruk kursi mobil.
"Gue cuma mau menghargai, orang yang pernah bela-belain teriak di depan umum buat sebuah nama 'isha'."
Aku menutup mata, meski dunia serta peringaiku hampir berubah keseluruhan akan tetepi, otak tidak dapat memungkiri bila masih menyimpan jelas sosok paling berarti dimasa putih abu itu.
"Hal yang membuat masa SMA terlihat alay."
"Alay tapi pipinya blushing!" ledek Orlin setengah berteriak, sembari menoel bagian tubuh yang bersemu itu.
Aku menangkis tangan Orlin. "Engga! Itu cuma efek make up."
"Ayolah, lo itu bukan anak ABG lagi. Engga usah gedein gengsi, kalau masih sayang, bilang."
Telapak tangan menutup mulut karena aku menguap lebar, memberi kode kepada Orlin bila aku butuh istirahat bukan mengenang mantan.
"Lo itu penyanyi bukan aktris, engga usah akting gitu."
Menunjukkan wajah bantalku. "Sekarang ini udah pagi, aku belum tidur. Butuh istirahat, bukan ceramah basi tentang mantan."
"Dikira lo doang yang belum tidur," cibir Orlin. "Bilang aja takut gagal move on."
Sembari menutup mata aku menjawab Orlin. "Enak aja. Buktinya sampai sekarang aku langgeng sama Kak Arik."
"Engga yakin bakal bilang gitu setelah ketemu mantan."
Aku memilih diam ketimbang, meladeni ocehan Orlin yang pastinya tidak ada ujung seperti cinta, ada-ada saja masalahnya.
Mengingat kekasih, aku memang memilikinya dan sosok itu ialah kak Arik, sahabat dekat Kak Raefal semasa remaja, sedikit gila memang tapi itulah kenyataannya serta, aku tidak terlalu perduli akan omongan orang, menjadi sosok sepertiku sudah diharuskan menebalkan telinga.
"Hampir lupa! Ini gue dapet undangan dari mantan lo."
Seketika itu kepala menoleh, lalu tatapanku jatuh kepada undangan berwarna merah yang menarik perhatian.
"Mantan?" beoku.
Mengingat dalam hidup hanya pernah gagal dua kali, dan mantan yang pertama tidak mungkin untuk memberi undangan semacam itu, otakku menebak pasti sosok yang paling aku hindari.
"Selamat melihat mantan dimiliki orang lain Flo!" Satu sudut bibir Orlin terangkat, wanita itu mencemooh diriku.
Aku merasa gedung yang aku gunakan untuk konser tadi berhantu, pasalnya tanpa aba euforia terasa panas, mungkin ada salah satu hantu yang mengikutiku.
"Ini benaran?!" pekikku cukup keras, lelah kerja hilang begitu membaca sepasang nama yang terletak jelas di undangan.
Tawa Orlin terdengar mengganggu. "Makan tuh! Bukannya sering gue bujuk lo berjuang, keras kepala."
Telinga seolah tuli, kedua bola mata masih terbuka lebar memandangi nama orang yang pernah merajai hati tertera dengan wanita lain.
Raefal Mahaprana Faresta.
&
Glenda Eoghani.
"Gue masih ingat, lo selalu bilang, 'pemilik tidak perlu mengejar yang menjadi miliknya'. Sekarang masih bisa lo bilang gitu?"
Berdecak keras sembari mencampakkan kertas menyesatkan itu, aku menatap Orlin dengan wajah seolah tidak terpengaruh.
"Berarti kita bukan jodoh, yaudah. Engga perlu dimasalahin."
Satu alis Orlin terangkat. "Yakin engga bakal nangis?"
Kelima jemariku menutup mulut karena tawa hambar yang aku lakukan.
"Flo tidak selemah itu hanya untuk lelaki. Lagian, sekarang aku punya Kak Arik, aktor yang sudah diakui kemahirannya dalam kancah internasional."
"Terserah!" Kembali, aku merilekskan tubuh. "Udah cukup kita bahas mantan, tubuh butuh istirahat."
🎤
Samar suara mengusik tidur, perlahan kelopak mata terbuka dan menemukan sosok gadis berseragam merah putih duduk di samping raga.
"Pagi Lova!" sapaku sembari mengucek mata.
"Pagi Kak Flo, Lova bawain sarapan paling spesial."
Gadis cantik berumur tujuh tahun itu memamerkan beberapa makanan dengan senyuman lebar.
Aku memilih duduk lalu menarik Lova ke atas pangkuan, membiarkan sarapan itu di nakas.
"Lova bawa sendiri?"
Kedua rambut yang dikuncir dua tinggi itu bergerak, saat Lova menggeleng.
"No! Yang bawa Embak, terus yang masak aku. Mama cuma bantu sedikit," katanya, mendekatkan ibu jari dengan jari telunjuk serta memberi jarak kecil.
"Mama atau Lova?" ledekku.
Gadis cantik itu menunjukkan kedua mata indahnya dengan apik. "Kakak engga percaya?"
Tawa tidak bisa aku bendung saat dengan polosnya Lova menyakinkan diriku.
"Okey, jadi tuan putri mau hadiah apa karena masak buat Kak Flo?"
Bibir mungil Lova membentuk bulan sabit. "Jadi, beberapa bulan lalu Lova punya temen baru. Pindahan dari luar negeri."
Aku mengusap lembut rambut Lova. "Lalu?"
"Waktu itu dia lihat vidio musik Kakak yang trending. Dan dengan excited kasih lihat ke Lova." Menghentikan sejenak sembari menatapku dengan mata bulatnya. "Spontan Lova bilang kalau Flo, Kakak Lova. Karena itu dia minta supaya ketemu Kakak."
"Jadi, tuan putri mau Kakak ketemu sahabat baru Lova?" tanyaku memastikan.
Anggukkan kepala terlihat. "Mau ya Kak?"
"Kakak lihat jadwal dulu ya sayang."
"No! Aku udah janji bakal bawa Kakak hari ini."
Aku menatap horor kepada Lova, membatalkan janji bagiku bentuk ketidakprofesionalan seseorang dan sepanjang karier, aku sama sekali tidak pernah membatalkan apapun.
"Lain kali ya, Kakak udah banyak janji hari ini."
Kedua mata gadis cantik itu berkaca, jika sudah begitu menolakpun tidak kuasa aku lakukan namun, aku tidak ingin dicap kurang profesional.
Kedua tanganku membingkai wajah Lova. "Sayang, denger. Kakak engga bisa segampang itu ambil waktu, semua udah diatur sama Kak Orlin."
Tangisan Lova menggelora, membuat aku panik seketika. "Sayang, jangan nangis."
Dalam rengkuhanku, Lova mencoba melepaskan diri. "Kakak engga sayang aku lagi! Mama!"
"Astaga! Isha! Lo apain Lova!" pekik Orlin yang langsung merebut gadis kecil itu ke dalam dekapan.
"Ada apa ini?"
Melihat Mama yang turun tangan membuat aku mendesah, pasti beliau akan melakukan apapun demi gadis kecil kesayangannya itu.
"Lova minta aku ketemu temennya Ma," ungkapku.
"Tinggal ketemu, apa susahnya. Hobby banget buat Lova nangis," omel Mama.
"Mama!" teriak Lova minta digendong.
"Jadwal aku padet Ma, tanya Orlin kalau engga percaya."
"Sekali-kali bikin orang nunggu engga masalah, lagian engga sampai dua jam juga."
Aku menghembuskan nafas, melirik Orlin yang tidak bisa mengatakan apapun karena dia juga tidak berani menentang Ibu suri.
"Iya nanti aku anter Lova ke sekolah."
Selepas mengatakan itu, gadis yang membuat heboh rumah seketika turun dari gendongan lalu mencium kedua pipiku.
"Makasih Kak Flo."
Dealova Pricelia, gadis yang Orlin kandung dengan penuh tekanan, tahun dimana Orlin berjuang keras karena, ayahnya sendiri justru menaruh benci kehamilan diluar nikah anaknya serta meminta seluruh keluarga besar untuk tidak menampung Orlin.
Secara hukum, Lova menjadi anak dari kedua orang tuaku karena persetujuan Orlin sendiri, bukan maksudnya untuk tidak mengakui kendati, wanita kuat itu tidak ingin Lova menganggap kehadirannya ditentang semua orang serta mendapat kasih sayang lengkap kedua orang tua.
Cobaan paling berat untuk Orlin ketika, anak kandung yang tumbuh di hadapan hanya menganggapnya sebatas anak pertama dari kedua orang tuanya.
____________
Kamis, 8 Juli 2021.