
Sedari aku memasuki gerbang utama aura sekitarku menjadi sedikit aneh, orang yang dulu jika bertemu denganku akan mencibir kini hanya diam bahkan menunduk.
Di depan ruang kelas aku memastikan penampilanku melalui jendela, tidak ada sesuatu yang menyeramkan hingga bisa membuat semua orang menunduk seperti tadi. Mungkin saja itu hanya perasaanku.
Aku berdiri di samping bangku yang Kak Raefal duduki, membuat lelaki itu menoleh namun tetap acuh bahkan lebih memilih menikmati kuaci sembari kakinya dinaikkan ke atas meja.
"Mau lewat lo?" tanyanya.
"Iya."
Selepas itu aku mendudukkan diri di sebelahnya lalu mulai membaca buku serta menghafal beberapa materi untuk ulangan nanti.
Suara kuaci yang sedang dibuka membuyarkan konsentrasi, melalui ekor mata aku melirik Kak Raefal yang masih menikmati makanan murah meriah itu.
Melirikku balik lalu tersenyum meremehkan, tatapan Kak Raefal mampu membuat aku kesal sendiri.
"Kenapa buang muka? Udah puas lihatinnya?"
"Isha. Jangan gugup, biasa aja, inget Kak Raefal engga suka kalau tetep diam," Batinku mulai bermonolog.
Aku menutup mata guna mengatur detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Malah bengong! Merasa udah pinter atau gimana sampai engga belajar?" tanya Kak Raefal .
Orang di sebelah memang sedikit gila mungkin, jelas sekali jika dia saja tidak belajar namun, kini beralih menasihati.
"Lo bawa bekal?" tanyanya yang membuatku mengangguk "Isha denger, gue engga suka kalau gue tanya atau ngomong lo cuma ngangguk dan geleng! Ngerti? Dan lo tau 'kan akibatnya!" Ingatnya tegas.
"I-iya Kak," balasku tergagap.
"Siniin tas lo!" Kak Raefal merebut tas milikku, aku hanya diam memperhatikan setiap aksinya tanpa protes.
"Gue makan!"
Aku sedikit melotot tak percaya saat tangan Kak Raefal tanpa ampun memasukkan bekal milikku ke dalam mulut.
"Kak jangan dimakan semua, aku engga bawa uang saku."
Ingin sekali mulut ini berucap kalimat di atas, namun nyatanya nyaliku tidak lebih besar dari kotoran semut.
Bel istirahat berbunyi nyaring, satu per satu siswa yang menghuni ruang tujuh belas berangsur meninggalkan ruangan hingga kini, meninggalkan aku serta Kak Raefal.
"Sha lo engga ngantin?"
Pertanyaan itu suskes membuat gugup, aku bingung untuk menjawab kepada dirinya. Tidak mungkin bukan aku bicara tentang bekal tadi pagi, rasanya tidak enak saja, apalagi bekal itu sudah bersemayam di dalam perut Kak Raefal.
"Sha, denger engga? Inget Sha gue engga suka lo kacangin, bilang aja yang ingin lo ucap, jangan diem aja! Utarain perasaan lo, utarain!" Suport Kak Raefal membuatku menutup mata bersiap mengutarakan kata yang ada di kepala.
"Aku bawa bekal karena engga bawa uang, tapi bekalnya 'kan udah dimakan," jujurku dengan sekali tarikan nafas sekaligus tanpa membuka mata.
"Kenapa engga bilang, kenapa engga ngelarang gue tadi?"
Aku menunduk takut. "Aku takut sama Kakak, kalau aku bilang, nanti Kakak marah gimana? Aku takut," cicitku.
Dapatku dengar bila Kak Raefal menghela nafas. "Ya engga bakal marah, lo aja yang aneh, kalau ada sesuatu yang engga sesuai sama apa yang lo inginkan bilang, jangan diam dan pendam, gini 'kan lo jadi rugi sendiri."
Aku terpaku melihat respon Kak Raefal.
"Denger Isha, gua engga suka lo yang pendiam. Oke mungkin lo ngalah demi kesenangan mereka, tapi lo juga harus mikirin diri lo sendiri, jangan selalu mengendepankan orang lain, Love your self. Ini bukan berarti lo egois, tapi kadang kita juga harus mencintai diri kita sendiri, dan memikirkan diri kita sebelum yang lain, jadi jangan terlalu baik dan selalu mengalah. Hidup itu bukan hanya siapa yang terbaik, tapi kadang kita juga harus melindungi diri kita sendiri dengan apa? Dengan pembelaan," jelasnya dengan tatapan hangat.
"Iya kak."
"Kita ke kantin!"
Hampir setiap lorong yang kami lewati heboh karena banyak siswi yang melihat. Jangan kalian bayangkan adegan film dimana pemain pria yang berjalan beriringan sembari menggenggam tangan si wanita, disini aku berjalan di belakang Kak Raefal dengan jarak lima centimeter akan tetapi tangan saling bertautan.
"Isha, ingat kata gue. Kalau ada yang engga lo suka, bilang jangan diem!" ingat Kak Raefal.
Aku melepas genggamannya. "Biar aku jalan sendiri Kak, engga usah di tarik." kataku dengan sopan, tidak lupa dengan senyum manis yang aku terbitkan.
Dia ikut tersenyum lalu mengacak rambutku. "Nah gitu dong, ini baru Aishaku," ucapnya.
Aku tersipu diperlakukan sedemikian itu, hal yang biasanya hanya aku temui dalam telenovela kini sudah aku alami sendiri.
"Lo tunggu disini!" pamit Kak Raefal ketika aku baru saja duduk di bangku kantin.
"Cupu! Lo ingetkan kata-kata gue kemarin?" tanya Orlin yang tanpa diundang menghampiri dengan tatapan garang, jangan lupakan pula kedua anak buah yang senantiasa mengekor di belakang.
"I-iya."
Dia tertawa kecil "Bagus kalau lo inget, jadi gue engga perlu buat bully lo lagi kayak kemarin, lo inget 'kan cacing yang gue tumpahin ke lo?" Orlin menjeda kalimat dengan tawa yang membuat bulu kuduk berdiri mengingat kajadian na'as kemarin.
"Gue berencana mau tambahin serangga lain, seperti kecoa, ulat, semut, tikus dan serangga menjijikan lainya," lanjut Orlin yang merupakan kode untukku.
Aku meneguk ludah dengan susah payah karena membayangkan betapa menjijikkannya mereka apalagi jika sampai menjamah raga.
"Ja-jangan Lin, aku engga bakal deket sama Kak Raefal!" putusku tanpa pikir panjang.
"Bagus Babe," jedanya yang kemudian mendekatkan wajah kami, membuatku beringsut mundur karena ketakutan. "Ingat ini! Kalau lo berani lagi, gue bakal bunuh lo dengan siksaan-siksaan gue setiap hari!" ancam Orlin yang membuat mataku membulat sempurna.
"Ok Cupu! Gue cabut dulu dan ingat mata gue ada dimana-mata, jadi jangan macam-macam!" ancamnya lagi sebelum pergi.
----------
21 januari 2020/ 16 Agustus 2022