Call Me Isha

Call Me Isha
35. Band Sekolah



Satu daun yang berasal dari sebuah pohon terjatuh tepat di atas kepalaku untuk beberapa detik sebelum, hinggap ke tanah karena usiran tangan Kak Raefal saat memasangkan pelindung kepala padaku.


Tinggiku yang hanya mencapai dada Kak Raefal menyebabkan kepala mendongak untuk melihat lebih jelas wajah lelaki itu.


"Besok gue tanding, gue harap lo datang," pinta Kak Raefal.


Sedikit tidak menyangka bila sosok pemaksa seperti lelaki di hadapanku meminta tidak seperti biasa.


Aku tersenyum. "Tentu."


Kini balik, Kak Raefal menatapku bahkan dengan tatapan aneh. "Lo aneh. Kenapa senyum gitu? Kayak orang gila lo!"


Aku terkekeh. "Tadi lihat orang bicara."


"Kurang kerjaan!" cemoohnya.


🍁


"Cupu! Dicariin tuh sama Kak Rafif di depan!" teriak salah seorang teman sekelas dari ambang pintu.


Karena tidak ingin membuatnya menunggu, aku bergegas ke depan kelas untuk menemui orang yang mencariku.


"Isha?" tanya seseorang yang aku tahu adalah ketua band sekolah.


"Iya, ada perlu apa Kak?" tanyaku balik.


"Jadi gini, setelah kemarin gue denger lo nyanyi di acara ulang tahun sekolah, gue sama semua anggota sepakat buat buat rekrut lo jadi bagian band sekolah."


Aku melotot, tidak percaya dengan tawaran yang sama sekali belum pernah aku bayangkan.


"Kakak yakin?" tanyaku memastikan.


Tidak salah aku bertanya karena, semua orang di sekolah tahu bila band ini berisikan para siswa yang memiliki paras serta talenta yang cukup membuat insecure.


"Kalau engga yakin sekarang gue engga ada disini Sha."


Bola mataku bergerilya ke segala arah. "Kakak kayaknya salah orang deh kalau mau rekrut aku.


"Suara lo itu bagus, lo sukses ubah pandangan separuh anak sekolah tentang lo, potensi lo besar."


Tidak bisa dipungkiri bila aku menyukai musik namun, saat membayangkan menjadi pusat perhatian rasanya cukup menakutkan. Belum lagi, fisikku yang tidak bisa dibanggakan.


"Gimana ya Kak, aku masih engga nyangka aja."


"Band sekolah memang banyak vokalisnya, suara mereka sopan didengar tapi lo lain Sha, kita butuh vokalis kayak lo, yang bukan saja sopan didengar tapi bisa menyentuh hati."


"Okey, aku bakal gabung," putusku yang seketika membuatnya tersenyum senang.


"Bagus, latihan setiap hari Selasa dan Rabu."


"Jadi hari ini Kak latihannya?"


"Iya, nanti lo langsung ke ruang band aja!" titahnya membuatku menggangguk paham.


"Oke, gue balik dulu!" pamitnya yang langsung pergi dari kelasku.


           Aku menuruti permintaan Kak Raefal yang tadi mengirim pesan untuk mendatangi kelasnya.


"Kak!"


Aku duduk di sampingnya yang tengah asik memainkan games dalam ponsel.


"Kenapa Kakak minta aku kesini?"


Aku mendengus mendengar jawabanya. "Emang Kakak engga punya teman lain selain aku sama Kak Arik?"


"Enak aja! Banyak! Cuma gue lagi males kumpul sama mereka di Rooftop. Panas, gue mau ngadem disini sama lo."


"Sama aku? Sama Games kali, Kakak ini gimana si. Minta ditemani tapi asik sendiri.


"Ish bawel lo! Noh di laci ada kacang, makan aja!"


Aku menengok laci meja Kak Raefal dan mencari apa yang dia katakan tadi.


"Aku makan Kak," izinku dibalas gumaman darinya.


Asik memakan kacang, sekelebat bayangan kejadian tadi siang menghampiri membuat mulutku berkata.


"Kakak pulang sekolah nanti jadi main basket?"


"Wajib jadi, pertandingan antara anak MIPA dan IPS ini."


"Memang kelas MIPA sama IPS mana yang mau tanding?"


"Bukan perkelas, tapi seluruh perwakilan dari jurusan MIPA sama IPS."


"Antar angkatan Kakak atau campur?"


"Campur, maka dari itu bakal sangat seru, lo nonton 'kan?"


"E-engga kayaknya Kak," cicitku.


"Kok gitu? Bukannya kemarin udah bilang nonton? Labil banget lo!" semprot lelaki itu namun masih asik bermain handphone.


"Bukanya gitu Kak, cuma aku harus kumpul hari ini."


"Emang lo ikut ekskul?"


"Iya, tadi pagi Kak Rafif yang nawarin."


"Ouh jadi Rafif mau lo gabung sama band sekolah?"


"Iya."


"Okey! Semangat latihannya." Menjeda sebentar. "Kalau udah selesai terus pertandingan belum usai, lo ke lapangan."


"Iya Kak pasti."


"Lihat aja, anak MIPA pasti kalah sama anak IPS!" yakin Kak Raefal membuatku terkekeh.


"Lupa! Lo 'kan anak MIPA.  sorry aja nanti lo bakal kalah sama anak IPS yang suka kalian sebut bodoh itu," ucap Kak Raefal menggebu, seperti memendam dendam tersembunyi membuatku ngeri sendiri.


             Pemikiranku tantang Band sekolah yang merupakan perkumpulan orang sombong terpatahkan saat melihat anggota lain menyambut dengan suka cita.


"Hei bengong! Awas nanti kesambet! Mikirin apa sih?" tanya Kak Icha sembarang lalu, mendudukkan bokongnya di sampingku sembari memberi minuman soda.


"Makasih Kak."


"Mungkin Isha lagi galau karena, Raefal tanding dan dia engga lihat," ledek Kak Rafif mengundang gelak tawa dari orang yang mendengarnya.


"Engga gitu," elakku.


"Udah-udah! Ayo latihan lagi!" Halau Kak Rendy.


Aku kembali memetik gitar di tempat yang sekarang menjadi pojok ternyaman di sekolah karena, dapat melihat seluruh kota dari tempatku duduk.