Call Me Isha

Call Me Isha
13. Babu Orlin



‍‍‍‍‍‍‍Dalam Perjalanan hanya kesunyian yang menyelimuti. Aku memilih mengunci mulut takut membuat suasana hati Kak Raefal menjadi lebih buruk.


"Lo mau ke rumah Orlin 'kan?" tanya Kak Raefal memecah keheningan yang sengaja dibuat.


"Iya Kak," balasku seadanya, selepas itu hening kembali hingga kami tiba di kediaman Orlin.


"Makasih Kak," kataku setelah turun dari kendaraan bermotor itu.


"Aku masuk dulu!" pamitku sembari menerbitkan senyum. Kak Raefal mengabaikan begitu saja sebelum berlalu.


Aku sudah sangat terlambat sekarang, aku harap tidak mendapat amukan masal dari anggota kelompok.


"Assalamu'alaikum!"


Aku menghampiri teman sekelasku di gazebo taman yang membuat kepala mereka kompak menoleh bersamaan lalu sedetik itu tatapan layaknya singa yang menemukan mangsa diterbitkan.


"Dua jam! Lo kemana aja?!" bentak Zaskia sembari menunjukkan jam yang sedang dia kenakan.


Aku menunduk dalam. "Maaf."


"Enak aja, kita disini pusing mikirin tugas, dan lo?" Zaskia nampaknya sangat marah kini, dia juga sesekali mendorong bahuku.


"Dari mana aja lo?" tanya seseorang yang membuatku membalikan tubuh dan menemukan Orlin dengan pakaian santai membawa nampan serta beberapa jus.


Orlin mendekat lalu meletakan nampan di meja yang ada di belakang Zaskia sebelum menatapku dengan  sinis.


"Enak ya pacaran, terus tugas ditinggalin, lo harusnya mikir!" cerca Orlin pedas sembari menekan kepalaku berulang. "Disini kita capek! Belum ada yang pulang apalagi nyantai, sedangkan Lo?! Otak lo berfungsi buat mikir 'kan bukan pajangan!"


"Tadi aku terjebak tawuran, kalau kalian engga percaya kalian bisa tanya satpam sekolah," belaku dengan air mata yang mengucur.


"Alasan! Lo kira gue engga tahu lo tadi datang sama siapa? Gue engga buta Cupu!"


"Lebih baik lo lanjut pacaran! Tugas juga udah selesai tanpa bantuan lo! Ouh ya gue lupa. Lo 'kan emang engga ada gunannya!" amarah Zaskia.


"Lo pergi dari sini, dan jangan harap bakal dapat nilai dari kelompok ini, pergi lo!" Orlin mengusirku dengan bentakannya.


"Engga, aku mau melakukan apapun demi nilai ini," kekeuhku.


"Engga! Enak aja! Pergi!!" bentak Zaskia sekali lagi.


"Lo bakal ngelakuin apa aja?" tanya Orlin memastikan.


"Lin lo apa-apaan sih?!" Zaskia memandang Orlin tidak terima.


"Lo diam aja! " putus Orlin menghadap Zaskia sebelum mendekat ke arahku. "Lo mau nilai 'kan?"


Meski perasaan aku sudah tidak karuan aku tetap mengangguk, menyetujui apa yang diajukan.


"Oke! Gue engga bakal keluarin lo," putusnya sembari tersenyum.


Zaskia membelagakan matanya tak percaya. "Lo apa-apaan sih! Lo engga bisa gini!"


Orlin menatap Zaskia sekilas. "Lo mending tutup mulut! Lagian ini engga akan merugikan lo."


"Tapi dia itu----"


"Lo bisa diem kan?!" bentak Orlin yang berhasil membuat Zaskia kicep.


"Oke, jadi lo mau melakukan apapun itu?" tanya Orlin lagi memastikan.


"Iya!" balasku cepat tanpa perduli dengan resikonya.


Wajahku berubah seketika menjadi pucat namun tak lama aku dirundung bimbang, tidak mungkin jika aku harus mengorbankan nilai akan tetapi, lebih tidak mengenakkan lagi bila menjadi budak seorang Orlin.


"Iya aku mau!" putusku sembari memejamkan mata.


"Okey! Tugas pertama, lo besok ke sekolah pagi dan tunggu gue diparkiran, jangan sampai telat." titahnya membuatku hanya mampu mengangguk.


🍁


Sesuai perintah Orlin kemarin sore, kini aku berdiri dengan rasa lelah karena sedari tadi orang yang aku tunggu belum juga muncul ke hadapan.


Hingga sebuah mobil yang aku yakin milik Orlin menghampiri tempatku, orang yang aku tunggu kini keluar begitu selesai memarkiran mobil.


"Selamat pagi babu gue!" sapa Orlin. "Hampir lupa, karena lo sekarang pelayan. Lo panggil gue nyonya. Apa?"


"Nyonya."


"Bagus! Bawa tas gue sampai ke kelas!" Orlin memberikan tasnya sekaligus kipas listrik mini kepadaku. "Lo kipasin gue juga!"


Orlin mulai berjalan diikuti aku yang mengekor di belakang dengan ransel serta kipas angin sesuai apa yang tadi dia perintahkan.


Tanpa aba Orlin mengambil alih ransel dan memasukan kipasnya ke dalam tas membuatku menatap penuh tanya.


"Selamat pagi Bu, apa Ibu keberatan dengan buku-buku itu?" tanya Orlin nampak perduli.


"Iya, ini Ibu harus membawanya ke perpusatakan," balas penjaga perpustakaan itu.


"Biar saya bantu, mari! " Orlin mengambil alih buku yang terlihat berat serta banyak itu dari tangan penjaga perpustakaan.


"Kamu baik sekali Orlin, baiklah saya tunggu di meja saya, terima kasih." ucap orang itu tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan kami.


Orlin mendekat ke arahku. "Nih bawa sekalian!!" titahnya menyerahkan semua buku sekaligus ransel tanpa perasaan.


Hampir saja aku kehilangan keseimbangan dan jatuh karena tidak siap menerima.


"Kita ke perpustakaan sekarang!"


"Tapi Lin, buku ini berat sekali, apa kamu bisa membawa tas kamu sendiri?" tanyaku awas, takut dia membentak.


"Kalau gue bawa sendiri, terus keuntungan gue punya babu kayak lo buat apa?"


"Bukan gitu, tapi ini beneran berat."


"Bodo amat. Sekarang kita ke perpustakaan! Lo tadi juga denger 'kan kalau kita ditunggu disana."


"Tapi---" Menggantung kalimat lebih baik ketimbang membantah Orlin.


"Cepet! Lelet banget kayak siput!" bentaknya yang berada di depanku beberapa meter.


Meski sedikit merutuki nasib, aku juga terus berjalan di belakang Orlin dengan buku berat di tangan hingga tiba di depan gedung perpustakaan.


"Stop! Sini bukunya!" Orlin merebut kembali buku di tanganku.


Orlin berjalan ke arah pintu perpustakaan sembari membawa buku-buku itu.


"Permisi Bu, ini bukunya!"


"Terima kasih banyak, selain kamu cantik, baik pula, beruntungnya yang jadi Ibu kamu," puji Ibu penjaga perpustakaan itu dengan senyum merekah, aku yang melihatnya hanya berdecih dalam hati.