
Seraya menggenggam buku yang cukup tebal, aku hendak menghampiri parkiran namun, sebelum itu tanganku terlebih dahulu dicekal oleh seseorang.
"Arga? Kenapa?"
"Kita jalan yuk!" ajaknya.
"Besok aja, minggu."
"Aku maunya kita malam mingguan, kayak orang lain, lo engga peka."
Aku terkekeh melihat sifat manjanya. "Baiklah."
"Yah udah ayo ikut aku!"
"Apa engga sebaiknya kita pulang dulu Ga?" tanyaku sembari berjalan di sampingnya.
"Iya nanti kita sekalian pulang."
"Terus sepedaku?"
"Kamu bawa juga, kita naik sepeda bareng."
Kami bersama menaiki sepeda, membelah jalanan ibu kota disore hari yang cukup cerah ini dengan canda, tawa serta rasa yang tak akan bisa aku lupakan seumur hidup.
"Isha kita istirahat dulu disana!" Arga menunjuk salah satu pedagang kaki lima yang menjual es durian.
"Oke"
"Pak es duriannya dua!" pesan Arga pada penjual itu.
"Ayo duduk!"
Arga mengajakku duduk dibangku kayu yang tersedia di pinggir jalan, cukup teduh karena tertutup oleh pepohonan yang rimbun.
Aku tersentak kaget saat jemari Arga berusaha menautkan kepadaku, membuat kepala ini menoleh yang dibalas senyuman.
"Sini, daripada bengong!" tujuk Arga pada pundaknya memberi kode pada untuk menyandarkan kepalaku disana.
Aku menatapnya sekali lagi, meminta persetujuan yang hanya dibalas anggukan membuat aku perlahan mendaratkan kepala. Awalnya memang canggung, namun setelah beberapa menit rasa nyaman itu terasa apalagi lelaki itu terus membuatku terbang ke awan dengan seribu kata rayu yang keluar dari mulut.
🍁
Arga POV.
Sesaat setalah turun dari motor, aku bergegas mencari di taman yang cukup luas ini sosok gadis yang paling aku cintai.
Senyumku tersungging saat mata melihat punggung seseorang yang aku cari, dengan langkah pasti aku melangkah.
Aku memilih berdiri di belakang tubuh gadis itu sebelum menyodorkan bunga lily putih kesukaannya yang membuat kekasihku berbalik arah sebelum memeluk tubuh ini erat.
"Aku rindu," bisiknya tepat di telingaku.
"Aku juga rindu, you oke?" tanyaku seraya melepas pelukan itu lalu mengapit kedua pipi mulus itu.
"No sayang."
"Why?"
Menggunakan telapak tangannya yang lembut, dia memintaku untuk duduk di sampingnya yang langsung aku penuhi.
"Aku cemburu Arga."
Kini, giliran jemariku yang bergerilya disekitar pipi. "Apa yang kamu cemburui sayang?"
"Kamu engga peka atau pura-pura lupa?" desisnya.
"Hati mana yang akan tebal saat melihat orang yang dia sayang bermesraan dengan sosok lain."
"Sorry, ini juga demi kita sayang," bujukku lembut.
"Egois!" hardiknya.
"Aku egois? Kapan aku egois? Ini juga demi kamu, demi kita."
Dia menatap mataku kecewa. "Dengan mengorbankan perasaan orang lain?"
"Egois kamu Arga!"
Aku kembali membawa raganya masuk ke dalam pelukan.
"Apa kamu pernah memikirkan perasaan dia, yang telah kamu bohongi habis-habisan?" tanyanya membuatku terdiam.
Dia melepas pelukan itu lalu menatap tajam padaku. "Ini soal hati Arga, dan hati jika sudah dilukai tidak akan bisa bersatu lagi walaupun seberapa kerasnya kita mencoba, engga bakal kembali seperti semula, dan aku takut jika rasa sakit yang dia rasakan akan berbalik menjadi karma lalu memisahkan kita, lebih baik aku sakit sekarang daripada nanti."
"Kamu gila!" bentakku tanpa sadar.
Dia tersenyum kecut. "Definisi itu cuma untuk kamu Ga."
"Aku tahu, aku salah tapi ini demi kamu, demi kita," kini aku lebih melunak.
"Demi kita?" tanyanya sembari menggeleng pelan. "Ini semua demi kamu! Buktinya sampai sekarang aku tidak bisa menitih kebahagiaan, dan kamu? Kamu disana malah enak-enakan, aku sakit Ga!"
"Denger! Aku engga pernah bersenang-senang dengan dia dan hanya kamu wanita yang aku cinta."
"Kalau pada akhirnya kamu jatuh cinta, kamu mau melakukan apa?!" bentaknya. "Bodoh sekali aku, karena mau diperdaya lelaki busuk seperti kamu!"
"Denger. Aku engga akan ninggalin kamu demi dia, karena aku sangat mencintaimu."
"Jika kamu benar mencintaiku dengan tulus, kamu engga akan pernah memainkan permainan menjijikan ini Arga, dan kita akan berjuang bersama menentang dunia, bukan menyakiti pihak yang tak bersalah."
"Dalam meraih kebahagiaan, pasti akan ada sesuatu yang harus kita korbankan Lan,"
"Tapi bukan perasaaan!" bentaknya dengan amarah penuh.
"Ak----"
"Tinggalkan dia dan akhiri permainan gila ini atau tinggalkan aku?" tawarnya membuat mulut terbungkam.
"Jawab Arga!"
Dia tersenyum kecut sembari memperhatikan diri ini yang terdiam. "Katanya kamu sangat mencintai aku, kenapa kamu diam dan engga milih aku?"
"Yolan!" Kesabaran habis mengadapi Yolan kali ini.
"Apa? Aku salah? Selama ini kalian bersama bukan? Enggak ada jaminan kalau kamu bakal jaga hati buat aku." Memberi jeda. "Ingat Ga, perasaan timbul tanpa diduga dan, salah satu penyebabnya adalah kesempatan dan kenyamanan."
"Aku engga pernah mencintainya jika kamu belum tahu itu!" tekanku.
"Lihat, kamu saja sudah berani membentakku." Dia tertawa pedih. "Arga, apa salahnya sampai kamu tega membohonginya, dia tidak salah apapun Arga, lepaskan dia!"
"Yolan mengertilah, ini juga demi kamu demi kita"
"Kamu!"
"Yolan!"
"Cukup Arga aku sudah muak dengan semua ini, akhiri permainan ini atau jauhi aku?"
"Egois kamu!" ucap Yolan lalu mendorong bahu ini dan berlari meninggalkanku sendiri.