
Berjalan menuju parkiran Sekolah lalu pulang dengan tenang, impian sederhanaku untuk hari ini. Namun, kenyataannya kini aku justru bertemu dengan sosok Arga yang duduk di atas sepeda milikku.
"Sore Isha!"
Perasaan canggung juga menggerogoti hati saat lelaki itu menerbitkan senyum lima jari tanpa diminta, meski aneh namun, harus aku akui dia terlihat lebih tampan saat ini.
"So-sore."
Aku memeriksa sekeliling, memastikan jika tidak ada teman-teman Arga yang senang membantu lelaki itu membully diriku.
"Ka-kamu sedang apa?" tanyaku aneh, mengingat tempat yang kami pijak adalah parkiran khusus sepeda.
"Pulang."
Meski enggan aku terus memaksa mulut untuk bercakap. "Lalu, kenapa disini? Kamu lupa tempat parkir mobil?"
"Tidak."
Aku menatap Arga awas. "La-lalu? Jangan membully aku sekarang."
Tawa Arga pecah. "Aku tidak tertarik, memangnya wajahku sekriminal itu?"
Mataku mengerjap, sangat tidak mempercayai perkataan Arga sebelum menggelengkan kepala menipis praduga buruk itu.
"Kalau begitu, turunlah dari sepeda itu. Aku juga ingin pulang."
"Okey! Pulang bersama ya?"
Efek yang ditimbulkan dari empat kata barusan sangat dahsyat bahkan sampai membuat diriku terhuyung ke belakang beberapa langkah.
"Hey? Kenapa?" Arga berdiri dan memegang lengan tanganku.
Untuk saat ini aku ingin sekali menceburkan diri ke dalam kolam dingin, perhatian itu membuat pipiku panas.
Setelah puas menatap wajah rupawan Arga aku segara berdiri tegak sembari membebani diri.
"Jadi bagimana?" Satu alis tebal Arga berdiri.
Aku mengigit kecil bibir bawah karena merasa gugup ditatap cowok tampan seperti Arga, ini seperti mimpi namun sangat nyata.
"Tidak Arga."
Pulang bersama Arga memang sempat menjadi mimpi yang selalu aku halui akan tetapi, kenyataan akan kelakuan Arga selama ini berhasil menampar diriku untuk bangun dari mimpi.
"Kenapa menolak? Bersama Raefal saja kau sering bukan? Memang apa bedanya aku dengan dia?" tanyanya. "Apa aku kurang tampan?"
Aku menggeleng, bila diperhatikan Kak Raefal jelas terlampau kecil bila dibanding Arga.
"Bukan begitu,"
Arga tersenyum kecut. "Tentu kamu takut ya? Mengingat kelakuanku yang sangat kurang ajar selama ini. Aku minta maaf,"
Aku mengusap tanganku dengan senyum canggung. "Aku tidak ingin membahas itu, aku juga sudah memaafkanmu."
Arga meraih telapak tanganku yang langsung aku tolak halus. "Sungguh Isha, aku sangat menyesal."
"Tidak apa Arga."
"Baiklah, sekarang kita pulang bareng?" Kini, Arga menampilkan wajah penuh harap.
Aku melarikan tatapan darinya. "Engga, yang ada entar malah repot. Jarak dari rumahku ke rumahmu 'kan lumayan."
"Engga repot, lagian aku memang mau mampir ke rumah kamu. Kita boncengan."
"Hah? Maksudnya?"
"Kamu duduk di belakang, aku yang kayuh. Gimana?"
Melirik sepedaku yang sangat gerly dengan Arga bergantian lalu menyerngit tak yakin. "Kamu serius?"
"Lebih dari serius!" mantab Arga.
"Ka-kamu engga malu boncengan sama aku?"
"Kenapa malu? Justru sebuah kehormatan karena bisa deket sama gadis berhati malaikat seperti kamu."
Sekarang aku sangat tidak tahu diri, pasalnya seorang tampan seperti Arga mau mengeluarkan kalimat untuk memuji namun, justru aku meringis sendiri.
"Sepertinya lebih enak kita pulang sendiri."
"Kenapa? Ayolah Sha. Gue mau lo sekarang!" kekeuhnya lalu dia kembali duduk di atas sepedaku.
"Bodo amat."
Aku melotot melihat Arga menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang tengah meledek.
Membalikkan badan yang aku lakukan sebelum berjalan tergesa, mengindari Arga yang kian aneh kelakuannya.
Keinginanku kabur seperti tidak berhasil saat Arga mampu mengimbangi langkah kakiku.
"Cie ngambek. Jangan lama ya? Nanti aku kangen," goda Arga.
Aku memberhentikan langkah sembari menatap Arga. "Jangan ikuti aku, rumah kita berlawanan arah."
"Mungkin rumah kita berlawanan tapi, aku yakin hidup kita sejalan."
Disaat seperti ini pipiku masih saja bersemu, tapi bila dipikir ulang memang tidak ada yang salah mengingat cara Arga kala menatap sukses membuat jantung bertabuhan.
"Arga."
"Iya sayang?"
Kala aku akan membalas, suara kenalpot yang sudah sangat familiar dalam telinga terdengar menghampiri membuat aku menoleh ke belakang beberapa detik.
"Belum pulang? Kenapa jalan sama dia? Lo engga diapa-apain 'kan sama dia?" todong Kak Raefal.
"Memang kenapa kalau dia sama gue? Masalah buat lo? Emang lo siapa buat Isha?" tanya Arga sengit.
Masih duduk di atas motor Kak Raefal menjawab tak kalah sengit. "Dia sahabat gue."
"Cuma sahabat bukan? Jadi jangan sok ngatur!" terlihat emosi yang Arga simpan.
"Orang yang gue ajak bicara itu Isha bukan lo, jadi tutup mulut lo!"
"lo itu---" balas Arga yang langsung aku potong.
"Udah!" Aku menatap keduanya. "Aku pulang!"
Baru selangkah aku mengambil perjalanan namun, tangan Kak Raefal langsung menarikku kembali ke tempat semula.
"Kita pulang bareng! Sekalian gue ke rumah temen yang ada di komplek rumah lo."
Dikala aku hendak naik, tanganku digenggam oleh Arga yang menatap tajam Kak Raefal. "Engga bisa! Gue yang pertama ajak dia pulang!"
"Lebih baik kita tanya sama Isha. Biar dia yang milih diantara kita."
Aku menatap Arga. "Maaf, mungkin lain kali kita bisa bareng."
"Lah kok gitu Sha? Apa karena kita naik sepeda? Okey lo mau naik apa?" tanya Arga. "Motor, mobil? Tinggal sebut."
"Bukan gitu Ga, aku sama Kak Raefal searah."
Arga menghela nafas. "Engga adil, seharusnya itu gue bukan dia."
"Udah ikhlasin aja!" ledek Kak Raefal dengan tawa kemenangannya lalu memerintahku duduk untuk meninggalkan Arga yang menggerutu di tempat.
"Dia kenapa Sha? Kesambet setan atau gimana?" tanya Kak Raefal saat kami mulai menjauh dari Arga.
"Aku juga bingung."
"Mungkin dia naksir. Kalau iya gila si, kisah kalian udah kayak novel."
Aku menggeleng, mimpi itu terlalu indah untuk menjadi nyata. "Engga mungkin."
"Siapa tahu. Sekarang 'kan lagi zamannya, benci jadi cinta."
"Udah jangan bahas itu, males."
"Beneran males atau lagi menghindar? Bukannya bagus ya? cinta lo akhirnya terbalas."
"Cintaku engga sebesar dulu."
"Kenapa engga lo coba lagi tumbuhin perasaan yang lama?"
"Kaca kalau udah jatuh dan pecah engga bakal kembali utuh. semuanya engga akan sama meski disatukan ulang, sama kayak perasaan."
"Tapi engga salahnya mencoba, berjuang sekali lagi, setidaknya setelah kaca pecah ada usaha untuk mengembalikan walau tidak kembali utuh seperti semula." Menjeda sebentar. "Ada kemungkinan lain juga Sha, mungkin perasaan lo setelah berjuang lagi bakal tambah besar. Engga ada yang tahu,"
"Kak! Udahlah, aku malas berdebat untuk sekarang."