Call Me Isha

Call Me Isha
22. Jangan Ge-er



"Pagi Isha!"


Aku tersentak kaget dengan sapaan Arga yang tanpa aba, menghampiri diriku yang sedang membaca novel di bangku kelas.


Menyisir setiap sudut penjuru ruang untuk memastikan, bila sosok tampan yang kini duduk di samping memang sedang sendirian.


"Cari apa Sha?"


Pandangan kamu bertemu lalu aku menggeleng. "Engga."


"Takut gue-----" Seakan tersadar akan sesuatu, Arga menggantungkan kalimatnya. "Takut kalau aku bully kamu?" lanjutnya.


"Waspada aja," jujurku.


"Apa setelah kejadian kemarin kamu masih engga percaya sama aku?" tanyanya sembari tersenyum kecil. "Aku tahu kalau yang selama ini aku lakukan bukan hal yang pantas tapi, aku beneran nyesel Sha."


Melihat raut wajah penuh penyesalan itu, menyebabkan hati menjadi luluh bahkan, tanpa sadar aku mengusap rambut Arga sembari tersenyum. "Maaf juga ya kalau aku sering negatif thinking."


Kedua sudut bibir Arga ikut terangkat. "Kamu baik! Pokoknya baik. Tapi kalau mau hukum aku eng----"


Kalimat Arga aku potong dengan menempelkan jari telunjuk di atas bibir berwana ungu kemerahan itu tanpa aba, menyebakan mata kami tanpa diminta bertemu jua.


Membuang muka karena salah tingkah, aku menunduk dalam sembari mengigit bawah bibir.


"Engga perlu Arga, mendengar kamu mengakui kesalahan saja sudah membuat aku bersyukur."


Kegiatanku untuk menghindari kontak mata dengan Arga harus berakhir percuma saat, lelaki itu tanpa izin menarik tubuhku ke dalam dekapan.


"Makasih dan maaf," bisiknya.


Membatu karena kaget sekaligus tidak menyangka, bahkan mata masih melotot meski Arga telah melepaskan diri.


Belum berakhir membuat jantung bertalu, Arga sekarang membelai pipiku lembut. "Maaf, tadi kelepasan."


"Hah? I-iya engga apa," jawabku seperti orang kehilangan arah.


Bel dibunyikan, menjadi pertanda bila kegiatan belajar mengajar akan berlangsung, Arga memilih pamit ke bangkunya yang aku balas anggukan


Pelajaran matematika tadi hampir membuat separuh tenagaku habis diraup, menyebabkan kepalaku berada di atas meja sembari ku tutup mata.


"Isha!"


Meski enggan, aku membenarkan cara dudukku agar tidak mengganggu pengelihatan. "Iya Kak?"


Kak Raefal melirik keluar sekilas. "Kantin yuk! Gue traktir!"


Aku menggeleng, bukan maksud hati menolak rezeki, hanya saja aku tidak ingin dianggap sebagai perempuan matre karena selalu dia traktir, tidak enak juga terus diperlakukan seperti itu.


"Kenapa? Lo sakit?" Kak Raefal menempelkan telapak tangannya, mengecek suhu tubuhku.


"Engga Kak, males aja."


"Okey, lo tunggu disini aja. Nanti gue balik lagi,"


Setelahnya, Kak Raefal hilang dengan terburu, aku yang memang sedang tidak semangat kembali menurunkan kepala pada posisi awal.


"Isha!"


Panggilan dari orang yang berbeda, aku tetap bangun untuk menanggapi Arga yang sudah duduk di samping seperti pagi tadi.


"Kenapa?"


"Engga ganggu bukan?" Aku menggeleng sebagai jawaban.


Aku melirik makanan yang Arga taruh di mejaku. "Kamu mau makan di kelas? Biasanya di kantin."


"Pingin makan bareng kamu. Kangen," balasnya membuatku kebingungan dan menatapnya aneh.


"Bercanda,"


Arga membuka bungkus makanan yang tadi dia bawa lalu menyiapkan satu sendok penuh itu di diepan mulutku, yang aku dorong balik ke arah nya.


"Yakali kamu cuma lihat, ayo makan!" bujuknya.


Aku menggeleng. "Engga Arga, aku engga mood buat makan."


"Buka mulutnya!" titahnya.


"Aku 'kan udah bilang, aku engga pingin makan Arga."


"Engga! Kamu harus makan, nanti kalau engga makan terus sakit gimana? Kasian Tante."


"Tinggal ke dokter," entengku.


"Mencegah lebih baik dari mengobati, ayo buka mulutnya sekali lagi! Pesawatnya mau masuk!" bujuk Arga persis seperti Ibu muda yang tengah membujuk anaknya makan.


"Engga."


Arga menaruh kembali sendok berserta makanan tadi. "Padahal ya Sha, gue sampai rebutan sama Dzaki buat dapatin ini, belum lagi lamanya antrian."


Aku melirik Arga yang nampak menggemaskan karena memasang wajah nelangsa, karena tidak tega aku mengambil makanan itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.


Dalam kunyahan, dapat aku lihat jika Arga terlihat senang lalu, dia mengambil lagi sendok di tanganku.


"Biar gue aja. Ayo buka mulutnya!"


Jika dalam mulutku tidak di penuhi makanan, mungkin aku sudah tertawa kencang saat ini.


"Isha!! Gue udah----"


Di detik itu, kepalaku sontak terpusat pada ambang pintu yang sudah menampilkan sosok Kak Raefal dengan wajah tidak menyenangkan sembari membawa makanan di tangan.


"Kakak?" gumamku, kini tubuhku ikut beku karena dinginnya aura yang dikeluarkan Kak Raefal.


Lelaki yang lebih tua satu tahun dariku berjalan mendekat sebelum memamerkan styrofoam yang ada di tangan.


"Gue rasa, lo udah engga butuh," kata Kak Raefal sembari melirik makanan milik Arga yang habis separuh.


Panik melanda, dadaku juga ikut merasa nyeri karena setelah mengatakan itu Kak Raefal pergi tanpa pamit seperti biasa.


Aku berlari dengan air mata yang menggenangi pelupuk mata, membiarkan suara Arga memanggil di belakang sana.


"Kak Raefal! Tunggu!"


"Kak!" teriakku.


Aku tidak memperdulikan keadaan sekitar yang kini manatap kami aneh, fokus diri ini hanya jatuh untuk Kak Raefal yang sulit aku gapai.


Dengan nafas tak beraturan, aku menghampiri Kak Raefal yang tengah duduk di kursi yang ada di Rooftop Sekolah.


"Kak maaf, kalau aku tahu Kakak mau beli makanan buat aku pasti aku engga makan punya Arga," ungapku.


"Ge-er banget lo! Emang makanan ini buat lo?" Dengan wajah tengilnya, Kak Raefal meledekku membuat diri ini malu setengah mati.


"Lalu buat apa Kakak bawa makanan ke kelas?" Aku masih tidak terima dengan alasannya.


"Makan, tapi bukan berarti karena itu kelas lo jadi lo berspekulasi makanan itu buat lo, jangan ge-er deh!"


Aku tidak tahu kalimat itu mengandung sihir atau sejenisnya, namun rasanya ada yang sakit di dalam sana.


Dengan wajah menyedihkan aku menatap Kak Raefal yang juga dilakukan oleh orangnya.


"Maaf kalau aku terlalu berharap, aku pergi dulu, permisi!" pamitku dengan perasaan dongkol.


Baru beberapa langkah yang aku ambil, diri ini kembali berhenti karena cekalan tangan Kak RaefalĀ pada pergelangan tangan, membuat tubuhku memutar lalu menatapnya.


"Enak aja langsung pergi, karena lo disini, lo harus temani gue makan!" putusnya yang entah mengapa membuat ke-dua sudut bibir terangkat.


Aku memandangnya dalam diam, tidak tahu alasannya namun sekarang aku membandingkan Arga dan Kak Raefal.


Aku tahu bila Arga memiliki wajah yang lebih tampan dari Kak Raefal, namun bila disuruh memilih mungkin aku akan memilih Kak Raefal, alasan yang pertama mungkin karena dia yang selalu ada untukku, selain itu dia juga membuat diri ini seaman mungkin apabila berada di dekatnya.