
"Dia bilang gini. 'Lo pacaran sama Isha?' dan gue jawab jujur, toh dia sahabat lo, terus di bilang. 'Jangan bikin dia nangis, gue engga suka, dan jangan mainin perasaan dia kalau lo emang beneran sayang sama dia', terus dia pergi begitu aja," jelasnya yang membuatku menatap ke arah Arga tak percaya, benarkah Kak Raefal berkata seperti itu.
Suara tawa mengalihkan atensiku kembali, dengan wajah penuh tanya menatap sang kekasih hati.
"Jangan serius gitu!" tegurnya selepas bisa mengendalikan tawa. "Dia cuma tanya hubungan kita setelah itu langsung pergi."
"Jahil banget," rajukku.
Memang salahku yang terlalu percaya hingga lupa akan kenyataan bila, Kak Raefal bukanlah sosok pemeran utama dalam sebuah telenovela yang akan memberi ancaman murahan yang cukup membuat pembaca menjerit terbawa perasaan.
"Mikir apa?"
Kelopak mata ini bergerak beberapa kali sebelum menggeleng.
Senyum jahil tersungging pada wajah Arga. "Ngarep ya Raefal bilang kayak gitu?"
"Hah? Engga!" Bola mataku tidak tenang. "Apaan."
"Kirain, yaudah sekarang kita lebih baik fokus buat minggu depan!"
"Memang mau nyanyi lagu apa?" tanyaku.
"Kita cari referensi dulu."
"Gimana kalau aku nanyi Selalu Sabar, milik Shiffa Harun? Aku juga udah hafal kuncinya," usulku.
"Kalau gitu, kamu solo dong," cemberutnya. "Padahal aku mau bikin orang lain baper liat pertunjukan kita."
"Astaga!" gumamku.
"Kapan lagi seorang Isha yang sedang naik daun membawakan lagu dipesta tahun baru bareng idola perempuan kayak aku."
"Promosi aja terus!" cibirku.
"Cemburu ya karena aku banyak yang suka?"
"Engga!" elakku, mendapat tawa menggelora yang berasal dari Arga.
🍁
Penantian akan pesta tahun baru usai sudah, malam ini akan diadakan acara tahunan sekolah untuk menyambut pergantian tahun.
Menatap pantulan tubuh di cermin, gaun berwarna peach dengan panjang hingga satu jengkal di bawah lutut nampak indah membungkus tubuh.
Untuk pakaian aku bisa menjamin akan tetapi, penampilanku terlihat jomplang saat kacamata yang menempel tidak bisa aku singkirkan demi keindahan.
"Isha, nak Raefal sudah sampai!" suara Mama memanggil, membuat kepala ini mengangguk lalu mengikutinya keluar rumah.
"Aku pamit Ma, Pa!"
"Hati-hati, Nak Raefal tolong jaga Isha," pinta Mama dengan lembut membuat Kak Raefal menggangguk.
"Jangan pulang terlalu malam, selesai acara langsung pulang!" Nasihat Papa dingin, aku tahu jika beliau setengah tidak ikhlas melepaskanku malam ini.
"Saya pamit Om, Tante. Saya pasti akan bawa Isha balik tepat waktu yang sesuai Om inginkan," ucap Kak Raefal sopan lalu menyalimi kedua orang tuaku bergantian.
"Aku duluan Ma Pah!" pamit ku sebelum masuk ke dalam mobil Kak Raefal.
Aku melirik Kak Raefal karena, lelaki itu belum juga menjalankan kendaraan meski kami sudah duduk cukup lama.
"K-Kak?" Tanganku melambai di depan wajahnya, sedikit gerogi karena mata lelaki itu terus menatapku.
"Ck! Gaunnya engga cocok sama lo," komentar Kak Raefal membuatku mencebik.
"Kentang bisa apa."
"Sadar diri juga lo?" cibirnya.
Kak Raefal nampak mencari sesuatu lalu memberikan benda itu ke hadapanku, membuat kening ini mengeriput karena bingung.
Kak Raefal menyodorkan kacamata bulat dengan kaca bening yang sering dipakai para artis. "Lebih baik lo pakai kacama ini, bakal lebih bergaya dan lo engga bakal susah jalan."
Tubuhku tetap bergeming, tidak tahu mengapa aku menjadi lebih gugup menghadap sosok Kak Raefal malam ini yang jujur saja, cukup tampan.
"Pakai! Apa harus gue juga yang pakein?" tanyanya membuatku sadar lalu melepas kacamataku dan beralih memakai yang berada di tangan Kak Raefal.
"Udah Kak, yuk jalan!" ajakku.
Aku memperhatikan kembali penampilanku namun tidak menemukan kejanggalan.
Suara decakkan keluar sebelum tubuh Kak Raefal mendekat ke arahku, membuat mata seketika membesar dan siap untuk berdiri saking paniknya.
"Heh! Lo kira gue mau ngapain sampai lo panik gitu?" Seperti biasa, Kak Raefal tidak kehabisan bahan untuk menilaiku.
"Ta-tadi Kakak deket-deket gitu," cicitku
Jemari Kak Raefal membelai rambutku yang dikepang dua. "Niat gue cuma mau lepas ini."
"O-oh," legaku.
"Kita ini mau ke pesta, dengan pakai kepang ini lo jatuhnya kelihatan kampungan."
Sembari memberi hujatan, tangan Kak Raefal aktif melepas kepang dua itu yang membuat aku terdiam.
"Jadi cewek, seharusnya lo sedikit tahu model."
Kedua mata ini tanpa sadar terus memperhatikan wajah Kak Raefal bahkan, tanpa sadar bibir ikut terangkat apalagi saat lelaki itu juga balik menatapku.
"Khem!" dehem Kak Raefal lalu kembali ke tempat semula.
Kesadaranku ikut kembali lalu dengan cepat membalikan muka ke arah lain.
"Pakai!"
Karena terlalu gugup, aku segera merebut sisir yang Kak Raefal berikan untuk merapihkan rambutku.
Kami memasuki gedung yang sudah disediakan oleh sekolah beriringan, jangan lupa tatapan tak percaya yang memindai tubuhku.
Sedikit aneh karena sekarang aku merasa seperti seorang aktris yang tengah berjalan di karpet merah dengan ribuan orang menanti.
"Gue ganteng banget ya sampai dia salah gigit gitu?"
Aku mengikuti arah pandang Kak Raefal, melihat seorang gadis yang salah menggigit makanannya karena terlalu fokus memperhatikan kami.
"Woy! Datang juga lo!" teriak Kak Rafif menghampiriku dengan sedikit tergesa.
"Gila! Kisah lo udah mirip kayak Cinderella aja, apalagi nanti lo nyanyi sama pangeran sekolah."
"Lalu siap-siap dihajar fans fanatik pangeran sekolah," candaku.
"Omong-omong, Cinderella yang satu ini sihirnya engga cuma sampai tengah malam bukan?"
"Kali ini dibantu pangeran katak, jadi sihirnya lebih lama." Aku melirik Kak Raefal yang masih terlihat stay cool.
"Kak Rafif! Itu urusan belakang panggung belum kelar udah ditinggal aja!" bentak Rara.
"Iya, bawel lo! Sha gue duluan, jangan lupa satu jam sebelum pertunjukkan lo udah di belakang oke?"
"Oke!" balasku.
"Ayo cepet!" Rara menggeret tangan Kak Rafif paksa pergi dari tempatnya.
"Kita makan!" ajak Kak Raefal menggandeng tanganku ke salah satu stand makanan yang tersedia.
Aku meremas tanganku yang berkeringat dingin kini, aku sedang menanti detik dimana harus membawakan lagu.
"Arga!"
"Arga!"
Teriakkan yang menggelora dari para gadis terdengar sangat berisik saat sosok pangeran menaiki panggung.
"Selamat malam semua?"
"Malam!"
"Disini gue bakal nanyi dimenit terakhir tahun ini, semoga dengan suara gue yang menjadi penutup akan cukup terkenang di hati kalian."
"Satu lagi, gue juga bawa satu partner yang akan memanjakan telinga kalian dengan suara emasnya."
Setelah berbasa-basi cukup lama, Arga menempatkan diri di depan piano dan menekan tutnya sesuai lagu yang akan kita bawakan.