Call Me Isha

Call Me Isha
33. Nyanyian Isha



Terhitung seminggu sudah aku belajar bermain gitar bersama Arga dan kata lelaki itu permainanku cukup baik bagi seorang pemula.


Untuk saat ini aku tidak memasrahkan diri, semua aku pelajari dengan baik karena aku tidak ingin mempermalukan orang yang mengajariku.


Semakin kesini, hubunganku dengan Arga semakin lengket berbeda dengan Kak Raefal yang justru jarang bertegur sapa apalagi menghabiskan waktu istirahat berdua seperti biasa.


Rasa kehilangan Kak Raefal sedikit terobati dengan hadirnya Arga disisi, sejujurnya meski aku sering tertawa bersama Arga kadang, mata ini mengawasi sekitar untuk mencari keberadaan Kak Raefal yang makin jarang terlihat.


"Coba kamu mainkan sambil nyanyi lagunya," pinta Arga.


Aku menggeleng, tidak yakin dengan permintaan itu. "Engga Ga,"


"Kenapa?"


"Suaraku jelek, nanti kucing sama anjing tetangga pada gila," balasku mengundang tawa.


"Coba aja dulu, siapa tahu kamu itu bakatnya bermusik, contohnya sekarang. Kamu aku ajarin seminggu tapi langsung masuk. Hebat!" pujinya sembari bertepuk tangan.


Pipi sedikit bersemu karena pujian itu. "Malu Arga,"


"Buat apa malu, orang kamu pake baju," kekehnya.


Aku mengerucutkan bibir beberapa detik sebelum menatap Arga ragu. "Yakin? Nanti jangan salahin aku kalau gendang telinga pecah."


Arga menyemburkan tawa kecil sembari mengangguk mantap. "Silakan nona Isha."


Aku menarik nafas lalu membuangnya guna, menghilangkan rasa grogi sebelum memetik senar sesuai nada lagu yang akan aku bawakan.


"Aku lihat------"


Baru bait pertama namun, aku sudah hanyut sendiri bahkan tanpa segan menatap Arga dengan senyum lebar karena menghayati setiap kata.


"-------Aku suka dia."


Setelah rampung, dengan ragu aku melirik Arga yang masih diam tanpa suara, menyebabkan rasa awas menghampiri hati.


"Arga? Jelek ya?" tanyaku sembari menunduk dalam.


Prok!


Prok!


Prok!


Aku mendongak melihat Arga yang memberikan tepuk tangan meriah serta wajah puas yang membuat aku lega sedikit.


"Gila, gue engga nyangka! Suara lo bagus banget!" puji Arga sembari menggelengkan kepala, nampak belum percaya.


Aku membuang muka karena pujian barusan. "Makasih."


"Bener tebakkan gue, lo itu punya bakat dimusik."


"Aku juga engga tahu, ini murni mengalir dari dalam diriku, bahkan aku engga duga bakal bisa," jujurku.


"Oleh karena itu, semangat! Jangan pantang menyerah dan jangan gampang ditindas oke?!"


"Oke."


"Besok kita bakal makan gratis nih." Arga menampilkan senyum liciknya.


"Kok?"


"Kamu lupa soal taruhanku sama Acel?" tanyanya. "Kita bakal lihat wajah tercengang Acel nanti."


"Jangan gitu dong, aku jadi engga enak sama Acel."


Dia menatapku heran."Maksud lo?"


Arga tertawa. "Engga usah dipikir, jangankan traktir kita seminggu, satu tahun juga dia sanggup. Orang tua Acel itu tajir melintir,"


Aku mengangguk pelan. "Mau jus Ga?"


"Boleh."


🍁


Sesuai dengan jadwal bahwasanya, hari ini praktek musik yang sangat dinanti orang sekelas karena taruhan konyol antara Arga dan Acel.


Beberapa detik lalu namaku dipanggil, menyebabkan rasa grogi perlahan menghampiri. Apalagi, saat melihat tatapan mengejek semua orang.


Aku terkekeh melihat Arga yang mengepalkan tangan dan membawanya ke udara, memberi semangat tanpa suara.


Aku duduk di atas kursi yang sudah disediakan lalu, mulai memposisikan gitar semestinya.


Diriku memilih untuk menutup kedua kelopak mata sembari memetik senar, menghayati serta menghilangkan rasa grogi.


Aku lihat dia disana.


Aku ingin mendekatinya.


Aku juga menghampirinya.


Lalu menyapa dia.


Dia pun membuka bicara, dan aku mulai mengenalnya.


Kita mulai bermain mata, mulai timbul rasa bahagia.


Selepas beberapa bait kata itu, aku mulai membuka mata dan tersenyum ke arah Arga, menyanyikannya tanpa ada yang membebani hati.


Bila dia, mendekati diriku.


Hati kurasa sesuatu.


Bila dia, senyum pada diriku, hati rasa sesuatu.


"------Aku suka dia."


Mengakhiri lagu itu lalu menatap seluruh teman se kelasku serta Bu Susi selaku guru musik yang masih diam memperhatikan.


Aku menutup mata, khawatir akan semua komentar orang tentang suara serta permainanku.


Sepuluh detik berlalu tanpa ada sesuatu, menyebakan aku bergerak gelisah dalam duduk.


Prok!


Prok!


Prok!


Aku menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang aku lihat kini, semua orang berdiri sembari bertepuk tangan setelah mendengar lagu yang aku bawa.


"Perfect! Engga nyangka kalau suaranya bagus banget!" puji salah seorang.


"Gila kenapa gue baru denger suara sebagus ini!"


"Bagus!" puji sebagian dan yang lain nampak berbincang seraya terseyum ke arahku begitupun Arga yang melakukan hal yang sama


Aku senang.


Thank Arga.