
"Suaramu ternyata bagus sekali Isha, kenapa selama ini kamu tidak suka bernyanyi?" tanya Bu Susi heran.
"Aku malu Bu," cicitku, sedangkan Bu Susi hanya mengangguk tanda mengerti.
"Minggu depan adalah hari ulang tahun sekolah, jadi bisa kamu tampil untuk acara itu, kalau kamu malu kamu boleh duet," pinta Bu Susi yang tak mungkin bisa ku tolak.
"Ibu benar, dan Isha, bagaimana kalau kita berduet?" ajak Arga membuat semua orang sekaligus diriku terkejut bukan.
Membayangkan jika selama ini Arga hanya sepanggung dengan Orlin lalu, sekarang aku didorong mendekati kandang macan jika berani merebut posisi Orlin.
Orlin menampilkan wajah keberatan. "Arga, kita sudah sepakat bukan?"
Arga menghadap ke arah Orlin, menatap sepupunya dengan wajah tenang. "Hanya kali ini,"
"Engga! Apaan!" protes Orlin masih teguh pada pendiriannya.
"Orlin, kita sudah sering bareng. Sekali ini saja," jelas Arga memberi pengertian.
Orlin menatapku tajam sebelum mendudukan bokong kembali. "Terserah!"
"Sudah diputuskan! Isha akan bernyanyi untuk acara nanti," kata Bu Susi tersenyum senang. "Ibu harap kalian tidak membocorkan ini ya, pasti nanti akan menjadi kejutan yang menggemparkan."
"Siap!" seru semua orang.
"Baiklah Isha, Arga, kalian harus tampil maksimal untuk acara minggu depan dan jangan sampai ada satu kesalahan sedikitpun, mengerti!" Aku dan Arga mengganggu patuh.
Setelah sekian lama tidak bertatap muka kini, aku duduk berhadapan dengan Kak Raefal di kantin sekolah.
"Kak aku bisa bertemu Balqis? Lama aku engga ketemu."
Lelaki itu mengangkat kepalanya yang tadi menunduk untuk makan lalu menggeleng keras.
"Kenapa?"
"Kepo lo! Abisin makanan lo!" perintahnya.
Dalam diam aku melirik Kak Raefal yang tenang memakan batagor sebelum kembali memulai kata.
"Kak, saat acara ulang tahun sekolah nanti, aku akan kasih kejutan terkhusus untuk Kakak."
Wajahku berbinar membayangkan wajah Kak Raefal yang tak percaya menatapku ketika bernyanyi nanti.
Kening Kak Raefal terlipat. "Kok gue? Yang ulang tahun itu Sekolah dodol!"
Aku tersenyum menanggapinya. "Kakak mau tahu?"
Mimik muka Kak Raefal tak berubah, dia hanya diam menatapku lalu berdecak. "Nanti juga tahu sendiri." Ucapnya cuek lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
**Seratus** dua puluh enam menit aku sendiri, duduk di halte yang terletak tak jauh dari Sekolah. Menunggu Arga yang belum juga menyapa.
Aku mendesah meneliti sekeliling, kendaraan yang berlalu-lalang dan beberapa pejalan kaki yang nampak membawa payung guna melindungi tubuh dari serangan hujan.
"Jika begini, lebih baik aku pulang saja, percuma. Mungkin dia tidak akan datang." Aku berdiri hendak pergi.
Aku terkaget saat sosok yang aku tunggu tanpa aba menghentikan langkahku menggunakan motor kebesarannya.
"Arga!" tegurku sembari mengusap dada yang bergemuruh.
Arga melepas pelindung kepala lalu menatapku dengan wajah penuh penyesalan. "Sorry, aku engga bermaksud buat nyelakain kamu, dan maaf lama. Tadi aku ada urusan mendadak."
"Engga apa, tapi kita jadi 'kan?" tanyaku memastikan.
"Ayo naik!"
Aku duduk di belakangnya agak canggung.
"Isha, are you Oke?" tanyanya yang sepertinya memahami keadaanku.
Aku menggeleng. "Engga,"
Sekilas bayangan kejadian siang tadi terputar bagai kaset rusak memenuhi kepala.
"Arga, maaf gara-gara aku kamu jadi bertengkar dengan Orlin," kataku memecah keheningan di atas motor.
"Santai, engga masalah kok."
Setelah itu hening, tak ada pembicaraan lagi antara aku dan Arga hingga kita tiba di rumah Arga.
"Assalamu'alaikum tante Nesya," salamku pada Mamanya Arga kala mata melihatnya.
"Wa'alaikumsalam, Isha, sini nak!" titah tante Nesya yang ku turuti.
Tante Nesya memelukku dengan lembut lalu mencium kedua pipi lku. "Lama engga ketemu, Tante kangen."
"Iya aku juga Tan."
"Tumben kesini bareng Arga, mau main?"
Tante Nesya nampak tertarik. "Wah bagus tuh. Tapi tumben, biasanya bareng Orlin."
Aku menjadi tidak tenang saat nama perempuan itu disebut. "I-iya Tan."
"Yah sudah, kalian latihan gih biar maksimal tampilnya."
🍁
Tibalah kini, acara ulang tahun sekolah yang ditunggu para murid sekaligus hari dimana untuk kali pertama aku bernyanyi di hadapan ratusan orang.
Kini aku berada tak jauh dari panggung karena pertunjukanku tak lama lagi dimulai.
"Udah siap Sha?" tanya Arga.
"Aku hanya gugup, kamu tahu bukan ini panggung perdanaku."
"Santai dan enjoy."
Aku menarik nafas dalam kali membuangnya guna menetralkan debaran jantung kala waktu pertunjukan semakin dekat.
"Tibalah di cara yang paling ditunggu! Kalian pasti ingin lihat pangeran sekolah bukan?!" seru seorang Mc yang membuat seluruh orang terutama siswi di bawah panggung berteriak heboh.
"Kalian siap dibuat terpana dengan pesona Arga?!" tanya Mc itu menyebabkan suara sorakkan kembali menggelora.
"Baiklah langsung saja!" Mc yang seorang lelaki itu menoleh ke arah samping panggung. "Arga dan partner!"
Arga naik ke atas terlebih dahulu untuk memberi beberapa patah kata. "Selamat sore semua!"
"Sore!" sorakan itu semakin membuat jantung berdetak kencang.
"Disini aku akan membawakan sebuah lagu dengan seorang partner yang tidak pernah terlintas oleh benak kalian, kalian pasti penasaran 'kan?" tanya Arga membuat semua orang bisik penasaran.
"Baiklah, langsung saja kita saksikan pertunjukan spesial dari kami." Arga mengakhiri basa-basinya lalu duduk berhadapan dengan piano.
Satu per satu tut Piano ditekannya, membuat detak jantung semakin berdebar tak menentu.
Aku mulai menyanyikan lirik lagu bagianku sembari berjalan menuju panggung dengan sebuah mikrofon di tangan.
Hari-hariku lalui, sendiri disini.
Ku berteman sepi, tanpa hadirmu.
Yang membuatku merasakan rindu.
Di hatiku.
Satu bagian telah dinyanyikan kini, posisiku tepat berada di samping Arga dan dapat aku lihat di bawah sana wajah para siswa tercengang tak percaya.
Arga mulai menyanyikan bagiannya dengan merdu, membuat para penggemarnya kembali mengalihkan fokus.
Kini jarak memisahkan, cerita ini, tapi bukan penghalang di sebuah hubungan.
Yang ku harap hanyalah doa.
Semoga kita cempat berjumpa.
Aku menengok ke arah Arga lalu memberikan senyum sebelum kami bernyanyi bersama.
Oh tuhan tolonglah
Sampaikanlah salamku kepadanya.
Untuk dia yang belum bisa kutatap indah wajahnya.
Bisa aku perhatian nampak sebagian orang ikut menyanyi bersama kami, tak lupa pula gawai yang berada di tangan mereka mulai merekam kejadian yang terjadi.
Riuh tepuk tangan bersautan dari para penonton, membuatku yang tadi merasa tak nyaman beralih bahagia, entahlah aku senang saja ketika mendengar riuh tepuk tangan ketika kami mengakhiri lagu itu.
"Thank you for all! And this special for my lovers!" teriak Arga sembari menyebarkan bunga berwarna merah itu ke kerumunan yang di dominasi oleh kaum hawa membuat mereka semua menjerit dan berebutan untuk mendapatkan mawar dari sang idola.
"Perfect!" puji Arga kala kami sudah berada di balik panggung, aku membalas senyumnya dengan tulus.
Aku kembali menuju tempat duduk para penonton yang sudah di sediakan, namun ketika aku mencari tempat kosong aku menemukan sebuah tangan seseorang melambai ke arahku, seolah menyuruh diri ini untuk mendekat.
"Iya Kak, ada apa?" tanyaku pada Kak Raefal.
"Wihhh gue engga nyangka sumpah lo tadi nyanyi, suara lo bagus banget," puji Kak Arik yang tepat berada di sebelah kiri Kak Raefal, aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Sini, lo mau duduk 'kan?" tawarnya tepat di samping kananya, aku menengok ke bangku itu dan tanpa pikiran duduk disebelahnya.
"Congratulation for your first performance."--Kak Raefal.
"Thank," balasku seadanya.
Rasa kecewa sekitar melintas kala Kak Raefal hanya berucap sedemikian kata itu, jika boleh memilih aku ingin sekali mendengar kata pujian terlontar bebas dari mulutnya. Meski untuk pertama dan terakhir.