Call Me Isha

Call Me Isha
28. Gagal Fokus



‍‍Mobil yang dikendalikan oleh Kak Raefal berhenti di depan rumahku, saat hendak mendorong pintu, tangan ini dicekal oleh lelaki yang ada di samping tubuh.


"Kenapa Kak?" tanyaku yang kini menatap wajah Kak Raefal.


"Thanks and sorry," ungkap Kak Raefal dibarengi desah nafas.


"Maaf untuk?"


"Karena gue batal nemuin lo di kelas."


Setelah mendengar alasannya, senyum simpul tercetak di raut wajahku.


Aku menutup mata sejenak sembari menggeleng pelan. "Engga apa, aku juga senang menunggu Kakak."


Satu alis lelaki itu terangkat. "Lo nyindir gue?"


"Aku engga bermaksud gitu, tapi kalau presepsi Kakak gitu its okey. Anggap aja itu benar."


"Lo marah sama gue? Heh?" Mata Kak Raefal menatapku, seakan aku ini sebuah angin yang tidak penting.


"Engga. Makasih Kak," ungkapku sebelum membuka pintu mobil. "Aku pamit, sampai jumpa!"


Aku tetap berdiri hingga mobil Kak Raefal hilang dari pengelihatan, senja ini moodku cukup terganggu karena kejadian siang tadi.


"Assalamu'alaikum!" salamku sembari membuka pintu rumah.


"Wa'alaikumsalam, udah pulang Sha?" tanya Mama.


Aku mencium tangan Mama dengan khidmat. "Iya Ma."


"Gih ke ruang makan ada Arga disana." 


Kedua alis tipisku bersatu. " Arga? Sejak kapan?"


Dapatku lihat bila Mama berfikir sekejap. "Sekitar dua jam."


Setelah mendapat informasi, tanpa menunggu lebih lama, aku menemui Arga yang kini tengah makan.


Karena posisi Arga yang membelakangi, aku menepuk pundaknya hingga membuat lelaki tampan itu menoleh, kemudian mengeluarkan senyum.


"Makan Sha!" tawarnya menunjuk piring yang sudah hampir habis menggunakan dagu.


Aku menggeleng sebelum duduk di samping Arga. "Maaf udah nunggu lama."


"Santai, baru dua jam juga. Aku masih punya banyak waktu kalau buat kamu."


Aku memuatar bola mataku terlihat tidak perduli, berbeda dengan kondisi hati yang sudah berdetak tak karuan.


"Udah makan Sha?"


"Iya ini."


"Bareng Raefal?" tebaknya tepat sasaran.


"Iya,"


Dia memasukkan suapan terakhir, menguyah sebentar sebelum menelan. "Aku kok engga yakin kalau kalian engga ada hubungan, deket gitu."


"Emang ada, hubungan pertemanan." Senyumku.


"Teman tapi mesra," cibir Arga.


Aku menggeleng, kedekatan kami sama sekali tidak bisa dikategorikan mesra, apalagi mengingat sifat Kak Raefal yang suka memaksa.


"Deket banget kalian, engga mungkin cuma temen. Alibi itu," kekeuh Arga.


Arga terdiam sebentar. "Okey, jadi beneran kalau kalian engga ada hubungan lebih?"


Aku mengedikkan bahu. "Engga."


"Bagus. Gue jadi lebih leluasa buat deketin lo." Menjeda sebentar. "Tapi, kalaupun kamu sama Raefal, aku juga engga akan nyerah gitu aja,"


"Kok gitu, kamu sama aja perusak hubungan orang dong," ledekku.


Arga mengangkat bahu acuh. "Engga perduli, yang gue tahu itu cuma satu!"


Aku menahan nafas saat wajah Arga didekatkan kepadaku. "A-Arga."


Jemari Arga mengusap pipiku yang memerah. "Gue sayang sama lo."


"K-kok kamu bilang gitu?" Karena gugup aku tergagap.


Aku menutup mata saat kepala Arga semakin mendekat bahkan, dapat aku rasa dengan jelas nafasnya yang membelai wajah.


Untuk kali pertama, aku dapat merasa kehadiran kupu-kupu dalam perut yang biasa para penulis online gambarkan, dan rasanya cukup membuat batin tegang. Apalagi, saat hidung mancung Arga seakan menusuk daun telinga.


"Because I Hate you---" bisiknya.


Mendengar itu, tanpa sadar aku menoleh cepat hingga membuat hidung kami saling bergesekan bahkan, netra kamu seolah tersihir untuk saling menyelami.


Disaat aku tengah menikmati ciptaan Tuhan yang bernama Arga, lelaki itu justru tertawa renyah hingga membuat jarak bagi tubuh kami.


"Tapi bohong, ya! Lo kena prank!"


Karena malu, aku sampai membuang muka asal. Astaga, rasanya cukup memalukan apalagi saat aku berharap agar bibir kami bertubrukan.


"Malu Sha?" tanya Arga yang kini tengah berusaha menghentikan tawa.


"Pake nanya lagi," gumamku.


Setelah puas meledek. Kini, Arga sudah terdampar denganku di ruang tamu bersama buku yang berserakan di sekitar.


"Jadi, kita itu harus mencari EP dulu, nah kalau udah kita gini---" jelas Arga yang sangat sabar mengajarku.


Kami duduk berhadapan, dengan meja yang menjadi penghalang. Karena jenuh, mataku tanpa sengaja melirik ke arah wajah tampan Arga namun, karena itu justru kini aku terus memperhatikan lelaki itu tanpa kedip.


Tingkahku sudah mirip seperti orang gila, aku tersenyum sendiri saat mengingat kejadian belakangan, mengabaikan pelajaran yang Arga berikan.


Bola mataku membesar saat, Arga malah balik menatap sembari memangku dagu menggunakan telapak tangan sembari tersenyum manis.


"Kenapa nunduk? Udah puas lihatnya?"


Aku membuang muka yang langsung mendapat suara tawa dari Arga.


"Sekarang coba selesaikan soal ini!" titah Arga menyodorkan secarik kertas ke hadapanku.


Aku menerimanya dan mulai berfikir keras untuk memecahkan soal yang Arga berikan.


Sepuluh menit berlalu, karena kesal jawaban belum juga ditemukan, kertas yang sudah banyak coretan aku hempaskan sembari menghela nafas.


"Gimana?" tanya lelaki tampan yang menjadi guru dadakanku, dengan senyum mengejek pula.


"Susah banget! Tuh cuma sampai separuh!" ucapku kesal.


"Makanya, kalau lagi ada yang nerangin itu didengerin bukannya malah ditinggal ngelamun, pantes engga bisa."


"Gimana mau fokus, orang yang ngajarin bikin  gagal fokus---Eh" ceplosku lalu sedetik kemudian memukul mulut jahanam ini karena malu.