
"Kenapa lihatin gue? Suka?" tanya Kak Raefal membuatku kelabakan lalu segera membuang muka.
Bukannya kembali fokus kepada makanannya, Kak Raefal justru menatapku dengan wajah meledek. "Situ jatuh cinta?"
"Engga!" tolakku spontan.
"Pulang nanti, ikut gue ke bandara," ungkapnya setelah menelan makanan.
"Kak mau liburan?"
"Jemput orang."
"Siapa?"
"Dasar titisan Dora. Nanti juga lo tahu, sekarang makan nih!"
Aku yang kebetulan hendak membuka suara terlebih dahulu dihentikan oleh suapan tanpa aba dari Kak Raefal.
"Kebiasaan," gerutuku selepas menelan.
"Tapi sukakan? Sayangkan?!"
"Iya," ceplosku.
Satu detik kemudian aku tersadar lalu menepuk pelan bibirku yang seenaknya berbicara, untungnya Kak Raefal tidak menggubris kalimat spontanku barusan, sedikit lega juga melihat lelaki itu anteng.
Setelah beberapa menit kelompok bermain Kak Raefal yang terdiri dari banyak anggota itu menghampiri, menyebabkan kalimat usir keluar dari mulut lelaki bar-bar itu.
Di Koridor yang sepi, mataku terpaku kepada sosok Arga yang juga tengah memadangku, kami berdiri dengan jarak kurang lebih tiga meter.
Menghembuskan nafas lalu kembali melaju yang aku lakukan namun, saat aku hendak melewati tubuh Arga, lelaki itu mencengkal tanganku agar berhenti.
"Isha!"
Aku kembali mundur hingga berhadapan dengan Arga yang menampilkan raut wajah tak terbaca.
"Iya?"
"Darimana? Aku cariin kamu dan ternyata asik berduaan dengan dia," dengus Arga.
Aku melepaskan tangan Arga yang menggenggam pergelanganku dengan lembut. "Aku engga minta kamu cari aku."
"Lo memang engga minta tapi, harusnya kamu mikir perasaan aku disaat kamu pergi begitu aja."
"Maaf Arga. Tapi, Kak Raefal orang yang selalu ada buat aku, rasanya sakit aja kalau buat dia kecewa."
"Tapi kamu udah bikin kecewa aku Sha,"
Aku diam, tidak tahu harus berkata apalagi berbuat, rasanya kalimat Arga terlalu aneh untuk ditanggapi.
"Sha aku ngerti kamu belum sepenuhnya percaya tapi." Arga menggenggam kedua tangan ini yang menyebabkan kedua mata kami bertautan. "Izinkan aku berjuang untuk kamu Sha."
Aku melotot tidak percaya. "A-apa?"
Arga tersenyum sebelum menarik tubuhku yang hanya mencapai dadanya ke dalam dekapan hangatnya, tentu tidak aku balas karena otak masih sibuk mencerna.
"Maaf, dan izinkan aku memperjuangkan kamu, aku janji engga akan membuat kamu kecewa."
Berada dalam pelukan Arga sangat menganggu debaran jantung, belum lagi dengan tubuh yang langsung membatu tanpa pinta.
Bel pulang sudah berbunyi, setelah membereskan segala sesuatu di atas meja kini, Arga yang duduk di belakangku mendekat.
"Isha! Pulang bareng yuk!" ajak Arga dengan senyum serta kedua pancaran mata penuh harap.
"Cie!" seru seluruh kelas yang seketika riuh.
Aku tersenyum malu sebelum menggeleng. "Lain kali aja ya Ga, aku ada janji."
"Raefal?" Satu alis Arga terangkat.
"Dia punya apa Sha sampai lo betah banget nempel sama dia."
Meski sedikit aneh, aku sadar betul jika Arga sering sekali mengganti gaya bahasanya ketika berbicara.
"Dia temanku. Maaf Arga, mungkin kain kali." Karena tidak enak aku tersenyum menyakinkan.
"Ayolah! Dari kemarin aku selalu mengalah, sekarang giliran dia."
"Aku engga bisa Arga, masih ada hari esok bukan?" kekeuhku.
"Bilang aja kalian ingin pacaran!" ujarnya ketus lalu pergi.
Aku menghembuskan nafas berat saat tubuh Arga mulai hilang dari pengelihatan, kerap kali aku dibuat bingung dengan sikap Arga belakang ini.
"Hei! Ngelamun aja! Mikir jorok pasti!"
Aku menggeleng kecil untuk menanggapi ocehan Kak Raefal yang tanpa diduga telah berdiri di hadapan.
"Ayo!"
Kami melangkah bersebelahan, membelah jalanan koridor yang cukup padat dengan pikiran yang berkecamuk.
"Gue perhatikan. Beberapa hari ini sikap Arga ke lo berubah seratus delapan puluh derajat, ada apa gerangan?" Kak Raefal membuka obrolan saat kami tiba di dalam mobil.
Aku menoleh. "Aku juga bingung Kak."
"Lo harus hati-hati, siapa tahu dia ngerencanain hal jahat buat lo," ungkapnya sembari mengeluarkan mobil dari area Sekolah.
"Aku juga berfikiran gitu, tapi---" ucapku terpotong dengan pikiran sendiri, bimbang untuk membocorkan kejadian siang tadi.
"Tapi kenapa? Jangan bilang lo baper. Dasar cewek, baru digituin aja udah melting, digombalin apa aja lo sama si Iblis?" tanya Kak Raefal.
"Aku engga baper,"
"Bagus kalau lo engga baper."
Aku tersenyum. "Terus kalau aku baper gimana?"
"Berarti lo bego!" jujurnya membuat aku mendengus.
Mengekor di belakang Kak Raefal yang entah hendak menemui siapa aku lakukan meski setengah hati karena lelaki itu terus saja meledek tanpa henti.
"Kak Raefal!" teriak seseorang membuatku dan Kak Raefal berbalik.
Seorang gadis dengan rambut hitam pendek berlari menghampiri kami sembari menarik koper di tangan.
"Astaga, kangen banget sama orang ini." kata gadis itu yang kini sudah memeluk tubuh Kak Raefal erat.
Disini aku seperti tidak dianggap saat keduanya asik mengobrol, menyebabkan moodku kembali anjlok.
"Kamu baik 'kan? Engga ada kendala?" tanya Kak Raefal.
"Banget, apalagi saat lihat Kakak. Rindu ini sangat menggebu," kekeh gadis itu yang membuat Kak Raefal tertawa kecil.
"Hampir lupa." Kak Raefal melirikku. "Ini Isha."
Orang tadi meneliti penampilanku dari atas hingga bawah sebelum mengulurkan tangan sembari tersenyum manis.
"Hai Kak Isha! Aku Balqis, lama aku pingin ketemu Kakak."
Untuk menghormati aku membalas jabat tangan itu dengan senyum meski tidak semanis gadis itu.
"Kakak tahu, Kak Raefal sering cerita tentang Kakak ke aku," ungkap Balqis heboh.
Aku mengernyitkan kening sembari melirik Kak Raefal. "Benarkah?"