
Hujan hari ini menjadi akhir dari penantian dan kesabaran yang sempat aku ragukan dulu kini terasa indah.
"Isha aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia,"
Arga memelukku dengan erat, menyalurkan kehangatan di hujan yang dingin ini.
"Makasih Arga, makasih udah jatuh cinta sama aku, makasih udah bisa balas perasaan aku."
"Justru aku yang harusnya berterimakasih sama kamu. Terima kasih sudah mau melupakan semua yang aku perbuat dahulu dan terima kasih menjaga hatimu."
Arga melepaskan pelukannya dan memilih menatapku dengan senyum yang aku balas serupa.
"Kamu tahu, sekarang adalah hari paling bahagia untukku, sudah lama aku menunggu saat-saat ini." Aku berdiri. "Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku telah mendapatkan cintaku."
"Sha, aku ingin sesuatu," Arga membuatku bingung dan cepat menangguk.
Dia tersenyum lalu menarik tanganku keluar dari halte yang dijadikan kami tempat berteduh, Arga mengajakku menerobos derasnya hujan yang sadari tadi tak bosan menyerang bumi.
"Arga! Sia-sia kita berteduh tadi!" gerutuku saat dia melepas genggaman tangannya dariku.
Dia malah tersenyum. "Kamu tahu, aku juga bahagia sama seperti kamu, aku ingin berteriak di tengah hujan untuk menyalurkan kebahagiaaan ini."
"Engga! Aku mau balik ke halte!"
Aku membalikkan badan namun, lelaki itu justru menarikku hingga tubuh kami bertubrukan.
"Mau kemana hem?" tanyanya mengunci pergerakanku.
Aku harus mendongak ke atas untuk melihat pahatan sempurna Arga yang terkena air. "Pergi."
Tanpa izin dari diri ini, dia mengangkat tubuhku lalu mensejajarkan kepala kami.
"Arga!" teriakku panik sembari menatap kebawah.
"Tatap mata aku Sha."
Perlahan namun pasti, aku membalas tatapan mata Arga hingga kita terdiam cukup lama sembari saling menyelami netra.
"Love you," bisik kekasihku.
Aku tersenyum malu. "To."
Arga tertawa lalu memutar tubuhnya, membuatku sontak mengalungkan tangan di leher Arga, takut jatuh.
Jemariku digenggam oleh Arga, lelaki itu enggan melepaskan diri ini masuk ke dalam kediaman.
"Arga." Lewat tatapan mata aku memberi kode untuk membiarkan aku pergi.
"Sebenarnya aku engga mau kalau berpisah," ujarnya yang masih duduk di atas motor.
"Kamu ini, besok juga kita bertemu."
Arga mengusap salah satu pipiku. "Beda, aku pasti bakal rindu berat."
Aku terkekeh. "Ternyata kamu bisa bersikap manja juga ya?"
"Aku juga manusia jika kamu lupa."
"Maklum kalau sampai lupa, soalnya kamu gantengnya engga normal." gombalku yang membuatnya tertawa.
"Darimana kamu belajar gombal?"
"Dari kekasihku."
"Kamu punya kekasih? Siapa?"
"Yang nanya!" Aku meledeknya lalu masuk ke rumah begitu saja, meninggalkan Arga yang memanggil namaku.
"Isha darimana saja kamu? Kenapa baru pulang?"
Aku tersentak karena, ketika baru membuka pintu, sosok lelaki paruh baya menghalangi langkahku.
"Tadi ada ekskul Pa, terus nonton pertandingan basket lalu ketika aku pulang ban sepeda aku bocor dan terpaksa aku pulang bareng Arga saat di jalan kami terjebak badai jadi kami memutuskan berteduh dan baru pulang setelah hujan reda," jelasku yang separuhnya adalah kebohongan.
"Ya sudah, jangan lupa mandi setelah itu sholat!" titahnya yang mendapat anggukan dariku dan langsung kubawa raga yang agak basah ini ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Ting!
Suara notifikasi handphone berhasil membuyarkan keseriusanku yang tadinya mengerjakan soal fiiska menjadi teralihkan dan dengan segera mengambil benda pipih yang tak jauh dari jangkauan.
Arga ❤
^^^[Iya] ^^^
[Kita backstreet ya, soalnya aku engga mau kamu diapa-apain sama para fans fanatik aku apalagi Orlin, pasti dia engga setuju kalau kita bersama]
^^^[Engga apa, aku ngerti kok🙂]^^^
[Syukur deh, jangan lupa belajar. Semangat!]
^^^[Iya kamu juga]^^^
[Okok babe❤️]
Aku tertawa kecil melihat percakapan barusan, dulu aku pikir menggelikan kala berucap demikian akan tetapi, nampaknya aku menarik ucapanku sendiri.
🍁
"Pagi Isha!"
Aku tersenyum melihat Arga di atas motornya. "Pagi."
"Yuk berangkat!"
Arga mulai menyalakan meski sepeda dua ketika aku duduk di belakangnya.
Menyandarkan kepala pada punggung Arga yang aku lakukan, untuk menikmati perjalanan pertamaku dengannya menuju Sekolah dengan hubungan baru.
Tubuhku lebih maju ke depan kala, Arga menarik rem tanpa aba.
"Arga!"
"Sorry Sha, tapi aku baru inget kalau ada yang ketinggalan, kamu turun disini ya," pintanya yang membuatku sedikit dongkol. "Maaf."
Aku turun lalu memberikan helm yang tadi kupakai padanya. "Ya udah, sana ambil!"
"Maaf, bukan maksud aku buat nurunin kamu kayak gini, tapi ini beneran penting, lagian sekolah udah deket bukan,"
Aku tersenyum paksa, meski sekolah tinggal beberapa meter rasanya dongkol saja diturunkan seperti ini.
Dia mengusap lembut pipiku. "Maaf and love you,"
"No problem, and love you to," balasku sembari menatap kedua manik matanya.
Cup!
Arga mencium keningku lembut dan lama sebelum dia pergi meninggalkan tempatku berdiri.
Sesaat setelah Arga hengkang dari hadapan, aku tidak bisa menahan untuk berteriak heboh yang mampu membuat orang sekitar menatapku aneh.
Sengaja aku berjalan cepat karena melihat sosok Kak Raefal yang tidak jauh dari tempat.
"Pagi Kak Raefal!"
"Pagi! Sha lo kemarin engga kelihatan, dan lo tahu yang memang itu anak IPS." bangga lelaki itu menceritakan kejadian pertandingan kemarin.
"Benarkah? Wah selamat Kak!" ucapku berpura-pura terkejut.
"Lo kenapa langsung pulang? gue nungguin lo sampai lumutan kemarin."
"Maaf, aku kemarin agak pusing," dustaku.
Dapat aku lihat jika Kak Raefal tersenyum, kecil sekali. "Begitu, lalu latihan lo? Lancar?"
"Lancar Kak."
"Nanti lo latihan lagi?"
"Iya, kenapa Kak?"
"Engga, cuma kalau dipikir kita udah jarang main aja."
"Kangen?" tanyaku meledek.
"Kangen? Sama lo? Dih ogah!" Dia bergidik jijik melihatku.
"Awas aja kalau kangen. " Menjeda sebentar. "Satu lagi, Kakak jangan sering keluyuran. Sebentar lagi ujian."
"Serah gue, hidup-hidup gue" Aku hanya memutar bola mataku malas mendengar yang tadi dia katakan.